Go4HealthyLife.com - Ways to healthy living through CARE & CURE - http://www.go4healthylife.com
Kontrasepsi Hormonal Picu Masalah Seksual
http://www.go4healthylife.com/articles/1331/1/Kontrasepsi-Hormonal-Picu-Masalah-Seksual-/Page1.html
 Redaksi Go4HealthyLife.com
 21 Februari 2012
 
Wanita yang rajin menggunakan pil kontrasepsi hormonal untuk mengendalikan kelahiran mungkin berisiko lebih tinggi mengalami gangguan seksual ketimbang wanita bukan pemakai kontrasepsi dan pengguna kontrasepsi non-hormonal.


Go4HealthyLife.com, Jakarta - Wanita yang rajin menggunakan pil kontrasepsi hormonal untuk mengendalikan kelahiran mungkin berisiko lebih tinggi mengalami gangguan seksual ketimbang wanita bukan pemakai kontrasepsi dan pengguna kontrasepsi non-hormonal.

Sebenarnya ini bukan studi pertama yang menemukan kaitan pil kontrasepsi hormonal dengan gangguan seksual, kata Dr. Irwin Goldstein, direktur pengobatan seksual di Alvarado Hospital, San Diego, dan profesor bedah klinis di University of California, San Diego.

Ia bahkan menemukan hubungan yang sama dengan riset dia sendiri. Untuk studi terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Sexual Medicine, katanya, lebih jelas bahwa jika Anda lebih banyak bermain-main dengan hormon, itu berarti Anda bermain-main dengan kehidupan seks Anda. 

"Secara umum, kontrasepsi hormonal dapat ditoleransi dengan baik dan metode non-invasif terbaik untuk mencegah kehamilan," kata salah satu penulis studi, Dr. Harald Seeger, yang juga peneliti di University Hospital Tuebingen di Jerman.

Ia menegaskan bahwa studi telah menemukan keterkaitannya, bukan sebab akibat, dan bahwa banyak faktor lain yang ikut bermain yang dapat menyebabkan gangguan seksual.

Tim riset Jerman itu dalam studinya mengevaluasi 1.086 wanita, sebagian besar memiliki hubungan yang stabil dengan pasangan yang sama selama enam bulan sebelum menjawab pertanyaan seputar fungsi seksual mereka dan juga upaya untuk mengendalikan kelahiran.  

Dengan memakai indeks standar untuk mengukur fungsi seksual perempuan, tim peneliti menemukan bahwa hampir 33% wanita itu berisiko mengalami disfungsi seksual. Gangguan ini melibatkan sejumlah faktor, seperti kurangnya intensitas orgasme, gairah seks, kepuasan seks, dan pelumasan.

Sebagian besar dari wanita itu (87%) telah memakai kontrasepsi selama enam bulan terakhir, dan lebih dari 97% aktif secara seksual dalam empat pekan terakhir.

Kebanyakan yang dipakai adalah obat kontrasepsi oral, yang digunakan oleh 69,5% wanita, diikuti oleh kondom (22,5%) dan cincin kontrasepsi vaginal (7,3%). Yang lainnya memakai alat kontrasepsi yang ditanamkan di dalam vagina, metode intrauterine, sistem kalender dan cara lainnya.

Tim peneliti kemudian fokus pada jenis kontrasepsi dan fungsi seksual, dengan mengecualikan 11 wanita yang menggunakan lebih dari satu jenis kontrasepsi.

Wanita yang memakai kontrasepsi non-hormonal (seperti kondom) adalah yang terendah risikonya mengalami disfungsi seksual. Untuk yang terendah risikonya yang berikutnya adalah mereka yang tidak menggunakan pengendali kelahiran. Sedangkan yang tertinggi risikonya adalah mereka yang memakai kontrasepsi hormonal non-oral, diikuti oleh pengguna kontrasepsi hormonal oral.

Ketika para ahli mengamati hanya pada parameter gairah dan nafsu birahi, kedua kelompok pengguna kontrasepsi hormonal memiliki risiko tertinggi.

"Data kami menunjukkan bahwa kontrasepsi hormonal khususnya, berhubungan dengan rendahnya skor untuk gairah seks dan nafsu seks ketika dibandingkan dengan kontrasepsi lainnya," tulis tim peneliti.

Para ilmuwan itu tidak dapat menjelaskan hubungan ini, tapi satu kemungkinannya adalah bahwa kontrasepsi oral diketahui untuk mengurangi tingkat peredaran androgen, yang mungkin memicu rendahnya sirkulasi testosteron, yang dibutuhkan untuk mendongkrak gairah seks.

Beberapa faktor lain yang diketahui dapat mempengaruhi fungsi seks, termasuk stres, yang dikaitkan dengan rendahnya gairah, dan stabilitas hubungan dengan pasangan, yang dikaitkan dengan tingginya skor orgasme tapi dalam hal gairah skornya rendah.

Goldstein mengatakan bahwa riset terbaru ini dapat menjadi pegangan bagi para dokter agar dapat memberikan saran kepada pasiennya mengenai kemungkinan risiko disfungsi seksual akibat penggunaan kontrasepsi.