Go4HealthyLife.com, Jakarta - Ada beberapa cara, kalau tak mau dibilang sedikit, untuk terapi varises yang kurang invasif, termasuk sebuah solusi suntik yang disetujui lembaga pengawas obat dan makanan AS (FDA) pada Maret lalu. Beredar di pasaran AS pada Juni mendatang, obat yang disebut Asclera, secara luas telah digunakan di Eropa.

Asclera didistribusikan oleh BioForm Medical, divisi usaha dari Merz Aesthetics, merupakan nama merek dari polidocanol, sebuah obat yang disetujui untuk mengobati varises yang tipis atau yang tebal (berupa gumpalan) hingga diameter 3 mm. Polidocanol telah menjadi terapi suntik popular untuk varises di Eropa selama beberapa dekade, terutama karena catatan keamanannya.

“Kami telah mengetahui sejak lama bahwa polidocanol hanya sedikit menyebabkan efek samping yang tidak dikehendaki," kata  Dr. Nick Morrison, presiden American College of Phlebology, seorang anggota organisasi untuk spesialis pembuluh darah vena seperti dilansir The New York Times, Rabu (12/5). Ini berarti lebih sedikit angka kejadian untuk perubahan warna coklat sementara waktu atau timbulnya luka di dekat suntikan tak lama setelah terapi dilakukan.

Varises merupakan hasil dari lemah dan meregangnya dinding pembuluh darah balik. Pembuluh darah vena mengandung katup-katup, yang jika meregang, tidak bisa lagi mengalirkan darah ke jantung secara efisien. Risiko varises antara lain genetik, usia dan berdiri untuk waktu terlalu lama.

Sebanyak 87% orang yang memiliki varises tidak melakukan pengobatan, menurut sebuah survey yang dilakukan pada 2008 melibatkan 1.000 orang dewasa yang dilakukan secara nasional oleh Vein Clinics of America dan Opinion Research Corporation. Namun para dokter mengatakan seharusnya para penderita varises ini harus memeriksakan kondisinya karena bukan semata masalah kosmetik, namun juga dapat menuntun pada rasa sakit, pembengkakan dan memberatnya darah yang berkumpul di kaki.

Terapi yang dikenal sebagai sclerotherapy, sebuah alternatif bedah, dimana cara kerjanya dengan menyuntikkan obat  yang dapat mengganggu dan mematikan dinding vena, sehingga vena tidak tampak di permukaan.  Serangkaian terapi dibutuhkan untuk terapi area yang luas.

Para pakar vena di seluruh negara kerap menginjeksikan satu atau dua obat. Satu, sodium tetradecyl sulfate (STS) yang telah lama disetujui FDA. Satu lagi polidocanol, yang bwelum mendapat izin, meskipun sejumlah dokter sudah menggunakannya, dengan cara mengimpornya dari luar negeri atau mendapatkannya dari farmasi yang membuat bahan senyawa obat tersebut.

Dikatakan polidocanol merupakan obat kedua tersering yang umum dipakai sebagai agen sclerosing, karena para dokter menginginkan para pasien mendapatkan terapi terbaik.

Persetujuan FDA terhadap polidocanol seharusnya menguntungkan pasien dengan berbagai cara. Yang kerap terjadi konsentrasi polidocanol dari perusahaan farmasi kerap 'keliru' dan 'mengandung banyak kontaminan' yang bisa merusak kulit saat disuntikkan, demikian menurut Dr. Robert A. Weiss, seorang ahli kulit yang berbasis di Baltimore, yang berpraktik di Maryland Laser, Skin and Vein Institute. Sebaliknya, dia mengatakan Asclera 'sangat aman bagi kulit'.