Go4HealthyLife.com, Jakarta – Masih banyak pasien atau dokter yang beranggapan bahwa obat biasa tak cukup efektif dalam menyembuhkan suatu penyakit. Itulah mengapa banyak diresepkan antibiotik.

Tapi tahukah Anda bahwa terlalu sering mengonsumsi antibiotik justru akan menyebabkan tubuh kebal terhadap obat, dan efek ini baru akan hilang setelah setahun. Ini tentu berbahaya jika dalam periode itu kita mengalami penyakit serius yang butuh penangangan yang serius pula. Artinya, jika tubuh sudah kebal terhadap obat, maka obat apapun kemungkinan besar tidak akan bermanfaat lagi.

Lebih banyak antibiotik yang diresepkan untuk mengatasi batuk, flu atau infeksi saluran kencing, akan lebih banyak bakteri yang kebal, kata sekelompok peneliti Inggris yang menganalisis 24 studi sebelumnya yang mengamati resistensi antibiotik.

"Efek paling nyata terlihat setelah sebulan mengonsumsi antibiotik, tapi efek ini baru akan hilang sekitar setahun. Dan efek residu antibiotik inilah yang menjadi pemicu tingginya angka kekebalan terhadap obat di tengah masyarakat," ujar Alastair Hay, peneliti dari Bristol University, yang juga ketua tim peneliti riset ini.

Para ahli medis mengatakan pemakaian antibiotik berlebihan terjadi di Eropa, Amerika Serkat dan sejumlah negara kaya lainnya, dan fakta ini bakal mengancam upaya pengobatan penyakit serius, seperti bedah penggantian tulang pinggul, terapi kanker hingga perawatan di ICU.

Hay mengatakan studi ini menunjukkan bagaimana tingkat kekebalan terhadap obat semakin bertambah dan masalah ini kemudian diterjemahkan ke dalam masalah kesehatan serius pada komunitas atau masyarakat yang lebih luas.

Sebenarnya antibiotik diperlukan pada semua terapi atau pengobatan untuk mencegah infeksi bakteri, namun ini bisa saja menjadi sia-sia jika dipergunakan secara berlebihan, karena bakteri itu selalu punya cara untuk mengelabuinya, kata Hay dalam studinya yang diterbitkan di British Medical Journal.

Saat ini bakteri yang kebal terhadap multi obat itu sudah menjadi keprihatinan di banyak rumah sakit di seluruh dunia, dan itu ditandai dengan meningkatkan kasus infeksi "superbug" seperti methicillin-resistant Staphyloccus aureus (MRSA).