Go4HealthyLife.com, Jakarta - Pasien kanker biasanya mengalami keletihan dan sulit tidur, bahkan untuk mengatasi sulit tidur ini mereka kebanyakan mengonsumsi obat.

Ada satu cara mudah untuk mengatasi semua masalah itu, yaitu dengan mengikuti program yoga. Hal itu terbukti pada sejumlah pasien kanker di Amerika Serikat yang mengikuti program latihan yoga selama sebulan. Setelah itu mereka merasakan perbaikan kualitas hidup mereka. Mereka juga sudah dapat tidur dengan teratur, keletihan dapat dikurangi dan yang jelas, tak perlu lagi mengonsumsi obat untuk mengatasi sulit tidur.

"Cara ini sudah banyak diterapkan dan dapat meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi konsumsi obat pada pasien yang sembuh dari kanker. Ini benar-benar positif," kata Dr. Douglas W. Blayney, presiden American Society of Clinical Oncology (ASCO).

Menurut dia, yoga juga merupakan aplikasi kreatif dari teknik ilmiah sebagai pendekatan komplementer dan alternatif.   

Sekitar 80% pasien kanker mengalami sulit tidur saat menjalani program terapi, dan sekitar duapertiga dari mereka mengatakan gangguan ini terus berlangsung hingga program terapi kanker selesai.   

Dalam studinya, tim peneliti melibatkan 410 pasien kanker yang berusia rata-rata 54, yang baru menyelesaikan program terapi kanker dan kebanyakan dari mereka melaporkan gangguan sulit tidur. Hampir keseluruhan partisipan itu wanita, dan tigaperempat menderita kanker payudara, meski kanker itu tidak menyebar. Tak satu pun dari mereka menjalani program latihan yoga dalam tiga bulan sebelumnya.  

Para partisipan itu secara acak diberi kesempatan untuk menjalani terapi kanker atau program terapi kanker plus latihan yoga selama 75 menit per pekan selama empat pekan.

"Kami mengambil komponen yoga Hatha yang ringan dan yoga yang sifatnya restoratif," papar Karen Mustian, asisten dosen radiasi onkologi dan pengobatan preventif di University of Rochester Medical Center di New York. "Komponen sebenarnya dari masing-masing kelas yoga ini meliputi duduk, berdiri, postur transisional dan telentang, serta latihan pernapasan yang dikenal dengan pranayama."

Penekanan adalah pada pernapasan dari diafragma, bukan dada, visualisasi dan meditasi yang dipandu, jelasnya.

Setelah menjalani program itu, para partisipan yoga mengaku mengalami perbaikan dalam kualitas tidur mereka sebesar 22%, sedangkan kelompok non-yoga hanya meningkat sebesar 12%.

Tercatat 31% partisipan dalam kelompok yoga yang memulai program latihan dengan kualitas tidur yang buruk, mengaku sembuh, dibandingkan dari kelompok non-yoga yang hanya mengalami perbaikan sebesar 16%.

Rasa letih pada kelompok yoga menurun 42% dibandingkan dengan 12% di kelompok non-yoga.

Partisipan yoga juga mengalami penurunan kondisi ngantuk di siang hari sebesar 20%, dibandingkan dengan hanya 5% pada kelompok non-yoga. Rata-rata, kelompok yoga mengalami peningkatan kualitas hidup sebesar 6%, tapi tidak semua pada kelompok non-yoga.

Selain itu, kelompok yoga dapat mengurangi pemakaian obat untuk mengatasi gangguan tidur mereka atau bahkan meninggalkan obat sama sekali, sementara kelompok non-yoga tetap memakai obat atau bahkan semakin bertambah.