Go4HealthyLife.com, Jakarta - Pernahkah Anda sadari,  ketika hamil kita cenderung mengeluarkan cairan dari vagina jauh lebih banyak dibanding biasanya?

Tidak usah takut. Ternyata hal itu lumrah. Ibu hamil mengeluarkan cairan dari vagina (vaginal discharge) dipandang lumrah.

Cairan ini juga lazim disebut leukorrhea, cairan agak kental berwarna bening tidak berbau yang kerap ditemui melekat di pakaian dalam selama kehamilan. Produksi cairan dari vagina memang cenderung meningkat pada kehamilan karena meningkatnya hormon estrogen dan meningkatnya aliran darah ke area vagina.

Cairan ini dihasilkan oleh sekresi dari serviks dan vagina, sel-sel tua dari dinding vagina dan bakteri flora normal dari vagina.

"Mungkin Anda akan mengenai produksi cairan vagina lebih banyak saat mendekati persalinan. Pada awal kehamilan, sekresi serviks memenuhi kanal serviks dan menciptakan sebuah pembatas yang berfungsi melindungi, lazim dikenal sebagai mucus plug," demikian pernyataan  BabyCenter Medical Advisory Board.

Dengan menipis dan melebarnya serviks, lendir ini akan makin banyak diproduksi. Para ibu hamil akan mengenali keluarnya cairan berwarna seperti putih telur, atau mirip ingus, berbentuk seperti gelatin. Cairan ini mungkin sedikit bercampur darah.

Kapan harus menemui dokter? Jika cairan berwarna bening dan tipis, akan sulit membedakannya dengan cairan amnion. Jika Anda ragu-ragu soal ini, segera hubungi dokter kebidanan dan kandungan Anda atau bidan.

Segera hubungi dokter jika keluar cairan saat kehamilan belum berusia 37 minggu dan Anda mengenali peningkatan keluarnya cairan atau perubahan jenis cairan (misalnya lebih cair, seperti lendir atau berdarah, bahkan jika hanya berupa titik kecoklatan atau merah jambu). Ini bisa jadi tanda-tanda persalinan permatur.

Anda juga sebaiknya menghubungi petugas medis jika menduga terjadi infeksi. Jika cairan yang keluar dari vagina tidak berbau, berwarna putih yang menyebabkan sensasi gatal dan terbakar, vulva terlihat meradang, kemungkinan terjadi infeksi jamur (yeast).

Sementara jika cairan yang keluar dari vagina berbau, berwarna kuning, hijau atau abu-abu, mungkin Anda mengalami jenis infeksi vagina yang berbeda atau infeksi penyakit menular seksual, bahkan jika tanpa gejala seperti iritasi, gatal atau terbakar.

Pada kasus seperti itu, jangan sekali-kali melakukan pengobatan sendiri. "Yang harus Anda lakukan adalah menemui petugas kesehatan untuk diagnosis guna memastikan terapi yang tepat," saran BabyCenter Medical Advisory Board seperti dilansir Babycenter.com

Tidak ada yang bisa dilakukan untuk menghentikan keluarnya cairan dari vagina, namun Anda bisa menggunakan panty liners untuk menyerap cairan jika dibutuhkan. Satu hal yang wajib diingat, jangan menggunakan tampon saat hamil.

Untuk menjaga vagina tetap sehat, jagalah kebersihannya, selalu basuh dengan gerakan dari depan ke belakang setelah habis buang air kecil atau buang air besar, serta kenakan pakaian dalam yang menyerap keringat. Hindari mengenakan celana ketat, nilon, sabun busa, tisu mengandung pewangi, semprotan khusus vagina atau sabun yang mengandung pewangi.

Hindari douching, karena aktivitas ini akan mengacaukan flora normal vagina dan meningkatkan risiko terkena infeksi vagina. Selain itu, douching tidak disarankan selama kehamilan karena dapat menyebabkan komplikasi serius, meskipun kasusnya jarang.