Go4HealthyLife.com, Jakarta - Jika Anda menderita sakit, upayakan untuk melupakan segala hal yang hanya akan membuat pikiran Anda terganggu. Ini penting, karena dengan mengalami depresi, dapat membuat sakit fisik Anda akan terasa lebih parah.

Memang benar rasa sakit dan depresi itu sering terjadi pada saat yang bersamaan, dan untuk menganalisis apakah kedua kondisi ini saling mempengaruhi, penelitian terbaru menggabungkan dua pemikiran para ahli yang saling bertentangan. Salah satu pemikiran yakin bahwa rasa sakit adalah "semua yang ada di kepala", sementara yang lain berpendapat rasa sakit adalah "semua yang ada di dalam tubuh."

Untuk melihat bagaimana rasa sakit dan depresi mungkin saling bersinggungan, tim peneliti yang dipimpin Dr. Chantal Berna dari University of Oxford memanfaatkan pencitraan otak untuk melakukan tes rasa sakit pada peserta studi yang sehat yang diinduksi untuk merasakan sedih.

Sebuah perasaan hati yang tertekan tampaknya mempengaruhi sirkuit saraf otak yang bertanggung jawab atas emosi, sehingga menimbulkan persepsi kuat adanya rasa sakit, menurut hasil studi yang diterbitkan dalam Biological Psychiatry.

"Ketika orang yang sehat dibuat sedih oleh pikiran negatif dan depresi, kami menemukan bahwa otak mereka memroses rasa sakit lebih emosional, yang menyebabkan rasa sakit mereka lebih tidak mengenakkan," kata Berna.

Tim Berna berteori bahwa kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi negatif yang berkaitan dengan nyeri atau rasa sakit dibuat korsleting oleh depresi. Akibatnya, orang itu akan merasakan rasa sakit yang lebih parah. Dengan kata lain, depresi tidak hanya sebagai akibat dari kondisi yang sakit. Tapi depresi ini sebenarnya bisa memperparah rasa sakit, dan membuatnya lebih buruk dari yang seharusnya bagi mereka yang berada dalam kerangka berpikir positif.

"Penelitian kami menunjukkan suasana hati yang tertekan menyebabkan perubahan fungsi otak salah menyesuaikan diri dalam hubungannya dengan rasa sakit. Dan dalam konteks ini, perasaan depresi itu sendiri bisa menjadi sasaran perawatan dengan obat atau psikoterapi," jelas Berna.

Setelah penelitian ini, langkah berikutnya adalah melakukan studi pasien yang mengalami nyeri kronis, karena mereka sering juga menderita depresi, kata para peneliti. Tujuannya adalah menemukan cara untuk lebih efektif merawat jutaan orang di seluruh dunia yang mengalami sakit kronis dan depresi.