Go4HealthyLife.com, Jakarta - Meski minum alkohol dalam takaran sedang disebutkan dalam beberapa studi tak membahayakan kesehatan ibu maupun bayinya, tapi sebenarnya ada sejumlah risiko yang diakibatkan oleh kebiasaan ini terhadap masa depan bayi di dalam kandungan.

Sebuah studi yang dilakukan di Denmark menyebutkan bahwa wanita yang minum alkohol sewaktu hamil tak hanya mengundang risiko sejumlah kecacatan pada bayi, tapi juga dapat membahayakan fertilitas atau kesuburan bayi laki-laki, jika yang dikandung adalah bayi berjenis kelamin laki-laki.  

Dalam studi itu, tim peneliti menyatakan jika ibu hamil meminum alkohol sebanyak 4,5 gelas atau lebih dalam sepekan, konsentrasi sperma anak laki-laki mereka, diukur untuk 20 tahun kemudian, lebih rendah sekitar 30% dibandingkan dengan pria yang tidak terpapar alkohol selama mereka di dalam kandungan. Satu gelas alkohol tercatat 0,42 ons (12 gram), yang setara dengan 330 ml bir, atau sama dengan 120 ml anggur merah.

"Studi kami menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan antara minum alkohol dalam jumlah sedang (sekitar 4-5 gelas sepekan) selama kehamilan dengan rendahnya konsentrasi sperma pada anak laki-laki," ujar peneliti, Cecilia Ramlau-Hansen, dari Aarhus University Hospital di Denmark.

"Namun, karena ini baru sebatas studi observasional, maka kami belum dapat memastikan bahwa alkohol sebagai penyebab rendahnya konsentrasi sperma. Ada kemungkinan konsumsi alkohol selama kehamilan memiliki dampak membahayakan pada jaringan yang memproduksi sperma di testis janin, dan ini akan berdampak pada kualitas sperma anak di kemudian hari," imbuhnya.  

Untuk itu, katanya, masih diperlukan studi lanjutan untuk memastikan keterkaitan antara minum alkohol saat hamil dengan penurunan kualitas sperma pada anak saat ia dewasa.

Ramlau-Hansen bersama koleganya dalam studi itu mengamati 347 anak laki-laki dari 11.980 wanita yang mengalami kehamilan antara 1984 dan 1987. Setelah memasuki pekan ke-36 kehamilan, para ibu itu diajukan pertanyaan seputar gaya hidup dan kesehatan. Anak laki-laki itu dipantau antara 2005 dan 2006, ketika mereka berusia antara 18 dan 21, dan sampel semen serta darah dikumpulkan untuk dianalisis.

Para anak laki-laki itu dibagi dalam empat kelompok mulai dari yang paling sedikit terpapar alkohol (ibu mereka minum kurang satu gelas sepekan) hingga yang paling banyak terpapar minuman keras, yaitu 1-1,5 gelas sepekan, 2-4 gelas sepekan, atau 4,5 gelas atau lebih sepekan.

Anak laki-laki dari ibu yang minum alkohol sebanyak 4,5 gelas atau lebih dalam sepekan, memiliki konsentrasi sperma rata-rata 25 juta per mililiter, sedangkan anak laki-laki yang paling sedikit terpapar alkohol memiliki konsentrasi sperma 40 juta per ml. Setelah disesuaikan dengan sejumlah faktor selain alkohol yang dapat menjelaskan keterkaitan ini, tim peneliti menemukan bahwa anak laki-laki dalam kelompok yang terbanyak terpapar alkohol memiliki konsentrasi sperma rata-rata sekitar 32% lebih rendah dari mereka yang paling sedikit terkena alkohol selama di dalam kandungan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan konsentrasi sperma "normal" adalah mendekati 20 juta per ml atau lebih. Penurunan konsentrasi sperma pada pria yang terbanyak terpapar alkohol sudah mendekati level bawah dalam kisaran normal konsentrasi sperma yang dianggap sebagai subur. Probabilitas konsepsi meningkat seiring dengan meningkatnya sperma hingga 40 juta per ml, sehingga ada kemungkinan pria yang paling banyak terkena alkohol selama di kandungan akan kurang subur dibandingkan dengan mereka yang paling sedikit terpapar alkohol.