Go4HealthyLife.com, Jakarta - Mungkin Anda kerap dengar sejumlah mitos terkait donor darah, yang pada akhirnya bahkan mengurungkan niat menolong sesama.

Mulai mitos donor darah bikin gemuk, membuat kecanduan hingga perempuan tidak boleh donor darah. Pada Healthy Afternoon Talk yang diselenggarakan Go4HealthyLife.com, akhir Juni lalu, dr Udja Bachrussany, Kadiv Pengadaan Darah Unit Transfusi Darah Daerah DKI, dan dr Endang Peddyawati, SpGK, spesialis Gizi Klinik dari RS Persahabatan Jakarta meluruskan mitos soal donor darah ini.

"Jika ada yang bilang donor darah bikin gemuk, itu tidak benar. Kalau bersangkutan banyak makan setelah donor darah, ya wajar saja karena badan terasa lebih sehat sehingga nafsu makan meningkat," kata dr Udja.

Dr Endang Peddyawati SpGK menambahkan tidak ada hubungan antara kegemukan dan donor darah. "Kegemukan terjadi karena jumlah kalori yang masuk lebih banyak dari yang dikeluarkan. Jadi, tidak ada kaitannya dengan donor darah. Saya berulangkali donor darah namun tidak gemuk," ujar dokter Peddy yang memang tetap langsing di usia 50-an.

Para pendonor memang disarankan untuk makan minimal empat jam setelah mendonorkan darah karena tubuh perlu menyesuaikan diri terhadap perubahan volume darah, imbuh dr Peddy.

Bagaimana soal pendapat kalau donor darah membuat lemas? "Sebenarnya proses donor darah hanya mengambil 250-500 cc darah. Jumlah tersebut tidak akan berpengaruh banyak karena tubuh kita memiliki persediaan darah hingga 5.000 cc," ujar dr Udja seraya menambahkan memang tubuh bisa drop kalau setelah mendonorkan darah kita malas makan.

Pada dasarnya donor darah boleh dilakukan siapa saja, baik pria maupun wanita, sepanjang ia berbadan sehat dan memenuhi syarat kesehatan. Pada wanita, memang ada keadaan tertentu yang membuatnya tidak boleh mendonorkan darah, seperti sedang hamil, menyusui, atau sedang menstruasi.

"Pada saat hamil, secara fisiologis kadar hemoglobin dalam darah akan menurun karena ada penambahan volume darah. Demikian juga pada wanita yang sedang haid. Di luar, sepanjang sehat dan memenuhi syarat, wanita boleh mendonorkan darahnya," kata dr Udja.

Hal yang paling 'menakutkan' bagi calon pendonor darah adalah mitos mengenai efek 'kecanduan' pasca donor darah. Sekalipun proses donor darah dilakukan secara rutin, hal ini tidak akan mengubah proses metabolisme atau jam biologis tubuh.

"Jadi, tidak benar kalau disebutkan donor darah akan membuat tubuh jadi ketagihan. Namun yang pasti donor darah membuat sehat," kata dr Udja.

Dr Udja menambahkan bahwa menyumbangkan darah tidak akan merugikan pendonor, karena sel-sel darah yang dibentuk di sumsum tulang mempunyai umur tertentu dan selalu diperbaharui. Meski begitu, dalam menyumbangkan darah perlu diperhatikan kesehatan calon donor agar darah yang disumbangkan bisa berguna bagi orang lain.

Berikut ini syarat-syarat bagi pendonor darah:
1. Berusia 17-65 tahun.
2. Dalam keadaan sehat, artinya kadar hemoglobin harus normal (tidak anemia).
3. Tidak menderita penyakit menular, seperti HIV, malaria, sifilis, atau hepatitis.
4. Berat badan minimal 45 kg.
5. Tidak sedang hamil, menyusui, atau menstruasi.
6. Tekanan darah normal, yaitu sistole 110-160 mmHG dan diastole 70-100 mmHG.
7. Jarak dengan transfusi sebelumnya minimal 3 bulan.

Ayo jangan ragu lagi donor darah ya.