Go4HealthyLife.com, Jakarta - Atrofi otak disinyalir menjadi pemicu utama terhadap tingginya risiko depresi pada pasien multiple sclerosis (MS) yang hingga mencapai 50%.

Atrofi otak ini, ditandai dengan penyusutan massa otak, terjadi di hipokampus, bagian dari otak terlibat dalam sejumlah fungsi, termasuk mengatur suasana hati dan ingatan.

Untuk penelitian ini, peneliti dari University of California, Los Angeles, menggunakan MRI scan untuk membandingkan otak pasien multiple sclerosis (MS) dan mereka yang sehat. Hasil scan menunjukkan bahwa tiga sub-wilayah penting hipokampus lebih kecil pada pasien MS.

Tim peneliti juga mengidentifikasi hubungan antara atrofi otak dan hiperaktivitas dari sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA), yaitu bagian dari sistem neuroendokrin yang mengendalikan reaksi terhadap stres dan mengatur banyak fungsi fisiologis. Aktivitas yang berlebihan dari sumbu HPA dapat dikaitkan dengan atrofi hipokampus dan pengembangan depresi, ujar tim peneliti dalam jurnal Biological Psychiatry edisi 19 Juni.

Hubungan antara hiperaktivitas HPA dan atrofi otak belum mendapat banyak perhatian, meskipun fakta menunjukkan bahwa pada pasien psikiatri yang mengalami depresi (tapi mengidap MS) terjadi hiperaktivitas sumbu HPA dan volume hipokampus yang lebih kecil, ujar penulis studi, Dr. Nancy Sicotte, profesor neurologi di University of California.

"Jadi, langkah berikutnya adalah membandingkan pasien MS yang mengalami depresi dengan pasien psikiatri yang mengidap depresi untuk melihat bagaimana penyakit ini berkembang di masing-masing pasien," tambahnya.

Selain menjadi salah satu gejala paling umum pada pasien multiple sclerosis, depresi juga berdampak pada fungsi kognitif, kualitas hidup, prestasi kerja dan kepatuhan pengobatan. Dan yang terburuk dari semuanya adalah, depresi juga menjadi salah satu prediktor terkuat untuk melakukan bunuh diri," papar Stefan Gold dari UCLA Program Multiple Sclerosis.