
Go4HealthyLife.com, Jakarta - Diet detoks atau detoksifikasi memang populer. Tapi benarkah efektif atau hanya sebatas isapan jempol belaka?
Menurut pakar gizi dari
Mayoclinic.com, Katherine Zeratsky, R.D., L.D., sejauh ini diet detoks belum terbukti efektivitasnya secara ilmiah.
Diet detoks kerap disebut-sebut sebagai cara untuk menghilangkan racun dari tubuh. Dalam diet detoks biasanya ada masa puasa diikuti dengan diet ketat sayuran mentah, buah dan jus buah, serta air. Selain itu, sejumlah diet detoks menganjurkan menggunakan tumbuh-tumbuhan tertentu dan suplemen lainnya bersama dengan pembersihan usus (enema) untuk membantu mengosongkan usus. Diet detoks ini berlangsung tujuh hingga 10 hari.
Sejumlah orang melaporkan merasa lebih fokus dan energik selama dan sesudah diet detoksifikasi. "Namun, ini mungkin disebabkan oleh keyakinan bahwa mereka melakukan sesuatu yang baik untuk tubuh mereka," kata Zeratsky.
Ada sedikit bukti bahwa diet detoks benar-benar menghapus racun dari tubuh. "Kebanyakan racun tertelan, secara efisien dan efektif dihapus oleh ginjal dan hati dan diekskresikan dalam urin dan tinja," ujar Zeratsky.
Penting juga untuk mempertimbangkan kemungkinan efek samping. Di antara masalah lain, diet detoks dapat mengakibatkan antara lain dehidrasi, kelelahan, pusing dan mual.
"Jika Anda sedang mempertimbangkan diet detoks, mintakan pendapat dari dokter Anda. Ingat, diet yang terbaik adalah diet sehat berdasarkan buah-buahan dan sayuran, biji-bijian dan sumber protein hewani," saran Zeratsky.