Go4HealthyLife.com, Jakarta - Tanda-tanda autis boleh jadi sudah muncul saat bayi ketika baru berusia 1 bulan. Namun, tanda-tandanya belum seperti yang terjadi pada anak autis usia prasekolah, seperti kurang melakukan kontak mata dan tersenyum.  

Untuk bayi yang memiliki kemungkinan besar mengalami autis adalah mereka yang membutuhkan perawatan intensif neonatal dan kemudian didiagnosis mengalami gangguan spektrum autisme lebih cenderung memiliki otot abnormal dan perbedaan dalam pemrosesan visual daripada bayi yang kemudian berkembang normal setelah menjalani perawatan di unit perawatan intensif neonatal (NICU).

Perbedaan antara bayi yang kemungkinan mengalami autis dan tidak amat tipis dan mungkin orangtua tidak akan mudah menandainya. Tapi perbedaan itu dapat diketahui oleh ahli terlatih yang mengamati bayi secara seksama, kata penulis studi, Ira Cohen, ketua bidang psikologi di New York State Institute for Basic Research in Developmental Disabilities.
 
Untuk itu, setiap orang tua yang khawatir dengan perkembangan anak mereka, harus merelakan anaknya dievaluasi, kata Cohen.

Autisme adalah gangguan neurodevelopmental ditandai dengan masalah pada interaksi sosial, komunikasi verbal dan nonverbal dan keterbatasan pada keinginan serta perilaku.

Para ahli mengatakan jika hasil temuan terbaru ini ditindaklanjuti dengan penelitian, ini akan mendorong dilakukannya identifikasi dan perawatan dini terhadap anak-anak autis. 
 
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Pediatrics, tim peneliti mengidentifikasi 28 bayi yang menjalani perawatan di NICU dan kemudian mereka didiagnosis mengalami gangguan spektrum autisme. Peneliti membandingkan bayi itu berdasarkan jenis kelamin dan usia di dalam kandungan dengan 112 bayi yang tidak autis.

Perkembangan dan perilaku bayi dipantau pada usia 1 bulan, 4 bulan dan secara periodik hingga mereka berusia sekitar 2 tahun.

Pada usia 1 bulan, bayi yang kemudian didiagnosis autis lebih memiliki kecenderungan menunjukkan abnormalitas neurobehavioral setelah keluar dari rumah sakit dibandingkan dengan bayi normal. Sekitar 40% bayi yang kemudian didiagnosis autis menunjukkan abnormalitas dalam hal visualisasi obyek yang terlacak dibandingkan dengan sekitar 10,5% bayi yang tidak didiagnosis autis.

Lebih dari separuh bayi yang kemudian didiagnosis autis memiliki lengan yang abnormal -- apakah terlalu lembek atau terlalu keras -- dibandingkan dengan 22% bayi yang berkembang normal.

Pada usia 4 bulan, bayi yang kemudian didiagnosis autis cenderung memilih rangsangan visual yang tinggi ketimbang bayi normal seusianya. Untuk menguji hal ini, tim peneliti menunjukkan bayi lampu yang berkedip-kedip dengan kecepatan yang berbeda-beda. Anak-anak diberikan pilihan menatap monitor dengan lampu yang lebih atau kurang merangsang secara visual. Peneliti menentukan preferensi dengan mengukur berapa lama bayi menatap monitor masing-masing.

"Secara anekdot ini cocok dengan apa yang kita lihat nanti," kata Cohen. Anak-anak autis suka melihat benda-benda yang bergerak di depan mata mereka, seperti tepukan tangan.

Pada usia 7 hingga 10 bulan, bayi yang kemudian didiagnosis autis juga menunjukkan penurunan kemampuan motorik dan berpikir, dan pada usia sekitar 13 bulan, perkembangan anak autis mulai berbeda nyata dari mereka yang tidak autis.