Go4HealthyLife.com, Jakarta - Wanita yang hamil enam bulan setelah mengalami keguguran tetap memiliki kesempatan terbaik untuk mendapatkan kehamilan sehat dan sedikit komplikasi.

Waktu untuk menunggu bagi pasangan suami istri setelah mengalami keguguran untuk hamil kembali, masih menjadi perdebatan di kalangan ahli medis. Sejumlah dokter mengatakan tak ada alasan untuk meminta wanita menahan diri dulu untuk hamil, sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan para wanita yang ingin hamil untuk menunggu selama enam bulan sebelum memutuskan hamil lagi.

Para peneliti Skotlandia itu dalam studi terbarunya menyebutkan bahwa rekomendasi dari WHO itu perlu dikaji ulang.

"Data kami menunjukkan bahwa setidaknya pada wanita Skotlandia, tak ada justifikasi dalam menunda kehamilan menyusul terjadinya keguguran yang tidak komplikasi," kata ketua tim peneliti, Dr. Sohinee Bhattacharya, lektor epidemiologi obstetrik di University of Aberdeen, Dugald Baird Centre for Research on Women's Health, Aberdeen Maternity Hospital di Aberdeen, Skotlandia.

"Riset ini akan membantu para penyedia layanan kesehatan untuk memberikan konseling bagi para wanita terkait dengan waktu menunggu untuk kehamilan selanjutnya dan akan memberikan kesempatan kepada pasangan suami istri untuk melakukan pilihan berdasarkan bukti yang ada," ujar Bhattacharya.

Ia menambahkan bahwa panduan dari WHO itu mungkin masih dapat diterapkan di negara-negara berkembang.

Untuk studi yang diterbitkan di British Medical Journal ini, tim Bhattacharya mengumpulkan data mengenai 30.937 wanita yang mengalami keguguran pada kehamilan pertama mereka dan kemudian hamil lagi. Para wanita itu dipantau saat mereka dirawat di sejumlah rumah sakit di Skotlandia antara 1981 hingga 2000.

Tim peneliti menemukan fakta bahwa wanita yang kembali hamil dalam enam bulan setelah keguguran, lebih kecil kemungkinannya untuk kembali keguguran, menghentikan kehamilan atau mengalami kehamilan ektopik dibandingkan dengan wanita yang hamil enam bulan hingga 12 bulan setelah keguguran. Meski begitu, para wanita ini memiliki risiko tinggi melahirkan dengan induksi. 
 
Para wanita ini juga kecil kemungkinannya untuk melahirkan melalui bedah cesar, melahirkan prematur atau memiliki bayi dengan berat lahir rendah, kata tim peneliti. Mereka juga menyatakan bahwa menunda kehamilan setelah keguguran memicu sejumlah risiko.  

Menunda-nunda kehamilan, terutama di negara maju, dapat menjadi hal problematis. Pasalnya, wanita berusia di atas 35 tahun memiliki kemungkinan besar mengalami kesulitan untuk hamil, dan wanita di atas 40 memiliki kemungkinan 30% lebih besar untuk keguguran, dan akan meningkat menjadi 50% bagi mereka yang berusia 45 atau lebih.