Go4HealthyLife.com, Jakarta - Tampaknya akan lebih banyak perempuan melahirkan melalui operasi Caesar di masa mendatang, demikian menurut sebuah studi terbaru.

Secara keseluruhan, persalinan melalui bedah Caesar terhitung mencakup sepertiga persalinan di Amerika Serikat, dengan fokus pada perempuan yang melakukan persalinan caesar berulang, demikian dipaparkan periset National Institutes of Health. Lembaga tersebut juga menemukan fakta bahwa hampir sepertiga ibu yang baru melahirkan untuk pertama kali memilih metode Caesar.

"Ini sesuatu yang mengejutkan," kata Dr. Jun Zhang, kepala peneliti yang mengamati hampir 230.000 persalinan di 19 rumah sakit di seluruh AS. "Hal ini memengaruhi kehamilan yang akan datang."

Sejumlah dokter dan rumah sakit mengikuti sebuah kebijakan 'sekali Caesar, selamanya akan Caesar'.

Studi tersebut juga menegaska keterkaitan antara persalinan yang diinduksi secara kimia dan kecenderungan lebih besar terjadinya persalinan Caesar. Perempuan yang diinduksi dua kali tampaknya punya kecenderungan untuk melahirkan melalui bedah Caesar.

Peneliti mengatakan penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengklarifikasi jika ada sebab dan akibat yang saling berhubungan. Studi tersebut dipublikasikan di American Journal of Obstetrics & Gynecology.

Sejumlah dokter ahli menimbang persalinan Caesar menjadi sebuah komponen besar dari 'penanganan berlebihan' di AS, prosedur dan tes yang memberikan sedikit atau bahkan tidak bermanfaat sama sekali untuk pasien. Makanya, rekomendasi klinis terbaru mengatakan persalinan normal melalui vagina dipandang aman untuk sebagian besar perempuan yang pernah melakukan operasi Caesar.

Namun tampaknya kecenderungan bedah Caesar tak surut. Sejak pertengahan 1990-an, laju bedah Caesar di AS meningkat lebih dari 50%.

Berapa angka Caesar terendah? Di negara-negara Skandinavia bedah Caesar mencakup 20%, tidak ada bukti efek kesakitan bagi ibu dan anak, kata Zhang. Bagaimana angka tertingginya? Di sejumlah negara sebanyak 60-70% bayi dilahirkan via bedah.

Kenaikan bedah Caesar bukanlah hal sederhana. Studi tersebut menemukan berbagai alasan untuk melakukan persalinan Caesar, beberapa di antaranya terkait, misalnya ibu dan bayi yang kegemukan, kehamilan di usia senja, meningkatnya persalinan kembar, dan bukti bahwa dokter memutuskan Caesar jika ibu hamil menghadapi kesulitan pada tahap persalinan.