_thumbmedium.jpg)
Go4HealthyLife.com, Jakarta - Kini ada pengobatan baru untuk mengatasi mereka yang mengalami multiple sclerosis (MS) yaitu dengan menambahkan obat yang biasa untuk penanganan asma atau gangguan pernapasan lainnya.
Berdasarkan hasil penelitian terbaru yang dilakukan tim ilmuwan Amerika Serikat, diketahui bahwa dengan menambahkan albuterol, senyawa yang umum dipakai untuk mengobati asma dan penyakit pernapasan lainnya, terhadap pengobatan yang tengah dijalani pasien MS, sepertinya dapat meningkatkan hasil pengobatan yang dilakukan. Hasil penelitian terbaru itu diterbitkan dalam jurnal
Archives of Neurology.Multiple sclerosis (MS) adalah penyakit peradangan kronis yang dicirikan oleh terjadinya degenerasi myelin, yaitu lapisan yang melindungi sel-sel saraf di sistem saraf pusat. Pasien dengan kondisi tersebut akan mengalami peningkatan kadar interleukin-13, sebuah senyawa biologis yang mendorong degenerasi sel T yang mungkin terkait dengan kerusakan myelin.
Albuterol sulfat -- umum dipakai untuk mengobati bronkospasme, yaitu penyempitan saluran napas di dalam paru-paru yang sering terjadi pada kasus asma -- dapat menurunkan kadar interleukin-12, kata tim peneliti.
Samia J. Khoury, M.D. dari Brigham and Women's Hospital dan Harvard Medical School, Boston, bersama kawan-kawannya mengamati efek dari pengobatan dengan albuterol, sebagai terapi tambahan bagi pasien yang mulai menjalani perawatan dengan glatiramer asetat. Glatiramer asetat sendiri baru saja disetujui sebagai pengobatan untuk mengatasi MS.
Dalam studi itu, 44 pasien secara acak diberikan suntikan glatiramer asetat setiap hari dengan dosis 20 miligram ditambah dengan albuterol oral dengan dosis 4 miligrams of albuterol atau mengonsumsi plasebo setiap hari selama dua tahun.
Para peserta studi diperiksa oleh neurolog pada awal studi dan ketika penelitian berlangsung selama 6, 12, 18 dan 24 bulan. Selain itu, sampel darah dikumpulkan pada awal studi dan pada bulan ke-3, 6 dan 12. Pemindaian otak dengan magnetic resonance imaging (MRI) juga dilakukan pada awal studi dan pada bulan ke-12 dan 24.
Hingga akhir penelitian, sejumlah total 39 pasien yang masih terlibat dalam penelitian tersebut. Dalam penilaian status fungsional, perbaikan dialami oleh kelompok pengguna glatiramer asetat plus albuterol dibandingkan dengan pemakai plasebo pada 6 bulan dan 12 bulan, tapi tidak pada bulan ke-24. Dibandingkan dengan pasien yang menggunakan plasebo, mereka yang memakai albuterol juga mengalami keterlambatan untuk terjadi kekambuhan pertama mereka.
Tes darah menunjukkan bahwa produksi dua penanda inflamasi --interleukin 13 dan interferon-gamma - menurun pada kedua kelompok pengobatan, dengan pengaruh pengobatan pada interleukin-13 terpantau pada waktu 12 bulan.
Efek samping dari pengobatan ini biasanya ringan, dengan hanya tiga kejadian sedang atau berat yang dianggap berkaitan dengan perawatan (termasuk reaksi di tempat injeksi glatiramer asetat, kelemahan kaki dan sesak dada).
"Kami menyimpulkan bahwa pengobatan dengan glatiramer asetat ditambah dengan albuterol ternyata ditoleransi dengan baik dan meningkatkan hasil klinis pada pasien multiple sclerosis. Pengobatan kombinasi ini tampaknya meningkatkan respons klinis pada tahun pertama terapi," ujar tim peneliti.