Go4HealthyLife.com, Jakarta - "Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi..." Ingat lagu yang diajarkan semasa kanak-kanak itu kan? Ternyata ajakan itu tak sepenuhnya salah lho, meskipun ada yang bilang sikat gigi sebaiknya dilakukan setelah makan.
Namun jika tujuan sikat gigi bukan untuk membersihkan sisa makanan, melainkan mencegah terbentuknya plak atau karang gigi, lakukan sikat gigi segera setelah bangun tidur.
Menyikat gigi setelah makan, khususnya sarapan pagi, justru tidak disarankan karena mulut dalam kondisi asam sehingga email mudah terkikis. Jika ingin tetap gosok gigi setelah sarapan, tunggulah kira-kira 25 menit, dimana diperkirakan pH mulut sudah dalam kondisi yang tidak terlalu asam.
Waktu menggosok gigi yang kurang tepat, cara menyikat gigi yang tidak tepat merupakan salah satu penyebab utama gigi sensitif di Idonesia. Cara menggosok yang terlalu kuat dan pemilihan sikat yang terlalu keras juga memicu terjadinya gigi sensitif.
Gigi sensitif adalah istilah umum untuk menunjukkan adanya dentine hypersensitive yaitu terbukanya dentin akibat menipisnya email dan atau turunnya gusi. Dentin mempunyai saluran-saluran sangat kecil yang langsung berhubungan dengan saraf gigi dan ketika kehilangan email sebagai lapisan pelindung, rangsangan makanan dan minuman akan langsung mengenai dentin dan diteruskan ke syaraf gigi sehingga menimbulkan rasa nyeri yang disebut gigi sensitif.
"Sesudah sarapan pagi, pH di mulut turun sehingga risiko terjadinya abrasi atau pengikisan di gigi lebih tinggi. Sebaiknya jangan langsung menyikat gigi setelah makan, beri waktu setidaknya 25 menit," ujar drg Robert Lessang, Sp.Perio dalam media briefing 'Sensodyne Expert Sharing' di Aula Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Senin (20/9).
Abrasi atau pengikisan gigi menyebabkan lapisan terluar gigi yakni enamel menipis, sehingga lapisan di bawahnya yakni dentin menjadi terbuka. Lapisan dentin ini langsung terhubung dengan saraf sehingga sangat sensitif jika tidak terlindungi.
Bahkan jika terburu-buru, sisa makanan di gigi cukup dibersihkan dengan dental floss atau berkumur setelah sarapan. Asalkan saat bangun tidur sudah menggosok gigi, maka plak baru mulai terbentuk lagi 4-8 jam sesudahnya.
Meski demikian, gosok gigi secara teratur tetap harus dilakukan secara rutin untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi. Drg Robert menganjurkan untuk menggosok gigi sedikitnya 3 kali dalam sehari.
Berdasarkan riset AC Nielsen pada tahun 2010, 1 dari 2 orang di Indonesia menderita gigi sensitif atau hipersensitivitas dentin. Dari angka tersebut, 67 persen di antara penderitanya adalah kaum perempuan.
"Ada beberapa hipotesis yang menjelaskan hal ini. Di antaranya cara menyikat gigi dan pengaruh hormonal," ungkap dr Maria Melisa, Dental Detailing Manager GSK Consumer Healthcare dalam kesempatan yang sama.
Karena lebih memperhatikan kebersihan mulut, perempuan biasanya lebih rajin menggosok gigi. Masalahnya, menurut dr Melisa, sebagian besar kaum Hawa menggosok gigi dengan cara yang tidak tepat sehingga mudah mengalami pengikisan.
Menipisnya lapisan enamel akibat cara menggosok gigi yang terlalu kuat menyebabkan lapisan dentin terbuka. Lapisan yang terhubung ke syaraf ini menjadi lebih sensitif sehingga mudah merasa ngilu saat menerima rangsang.
Cara menggosok gigi yang terlalu kuat juga berdampak pada letak gigi yang rentan mengalami pengikisan. Gigi taring paling rentan karena letaknya paling pojok, sementara geraham relatif paling aman karena lebih sulit dijangkau saat menggosok gigi.
Untuk mencegah gigi sensitif, cara menggosok gigi yang dianjurkan adalah secara vertikal mengikuti kontur gigi. Jangan terlalu kuat dan gunakan sikat dengan bulu yang tidak terlalu keras atau kasar.
Jika lapisan enamel telanjur menipis, gunakan pasta gigi khusus untuk gigi sensitif. Zat aktif dalam pasta gigi yang bisa mengatasi hipersensitivitas dentin antara lain portasion klorida, potasium nitrat dan stronium klorida.
Sedangkan pengaruh hormonal biasanya dialami pada masa kehamilan. Pada masa tersebut perempuan lebih mudah mengalami masalah periodontal (mulut), yang merupakan salah satu faktor risiko gigi sensitif.