_thumbmedium.jpg)
Go4HealthyLife.com, Jakarta - Pegal linu dan nyeri sendi yang kerap menyertai penderita rematik kadang membuat penderita frustrasi, sehingga mencoba berbagai pengobatan untuk mengenyahkan gejala yang muncul. Tindakan ini jelas tidak bijaksana karena hanya memperparah gejala dan kondisi yang sudah ada.
Rematik termasuk penyakit autoimun, bukan hanya diderita manusia lanjut usia (manula), namun juga dapat terjadi pada anak-anak. Semakin bertambah umur, semakin tinggi terkena risiko rematik. Perempuan, khususnya setelah menopause, lebih rawan terkena rematik dengan faktor risiko kira-kira 60%.
Mengapa perempuan setelah menopause rawan terkena rematik? Ini tak lepas dari peran hormon estrogen. Hormon tersebut dapat mengeluarkan asam urat lebih efektif melalui air seni. Saat masa menopause, produksi hormon estrogen menurun, sehingga perempuan menopause risiko terkena asam urat (salah satu jenis rematik) kurang lebih sama dengan laki-laki.
Menurut pakar rheumatologi dari RSCM, dr Bambang Setyohadi, ada banyak jenis dan penyebab rematik, antara lain proses penuaan dan gangguan metabolisme.
"Obat diberikan sesuai dengan diagnosis yang dilakukan dokter. Obat ini berfungsi untuk meringankan gejala, bukan bersifat menyembuhkan, karenanya bersifat jangka panjang," kata dr Bambang dalam jumpa pers 'Pfizer: 10 Tahun Beraksi Atasi Rematik' di Jakarta, Kamis (4/11).
Sayangnya banyak masyarakat yang hobi mengonsumsi obat-obatan warung saat mengalami nyeri sendi. "Mereka mengira kalau nyeri itu karena asam urat alias pirai, karena gejala yang muncul kurang lebih sama. Padahal sejatinya dari 100 jenis rematik, hanya satu penyakit yang disebabkan oleh asam urat yakni gout atau encok," ujar dia.
Pengobatan berbagai jenis rematik pada umumnya dilakukan jangka panjang bahkan seumur hidup karena obat ini berfungsi hanya untuk meredakan gejala, bukan menyembuhkan sama sekali.
"Penyebab rematik tidak sepenuhnya diketahui. Obat yang tersedia baru bisa untuk membuat penderita hidup lebih nyaman dan mencegah keparahan penyakit. Kunci keberhasilan pengobatan adalah sering kontrol ke dokter dan jangan pernah bosan mengonsumsi obat selama masih dibutuhkan," ujar dr Bambang.
Dia menambahkan, bosan minum obat adalah faktor utama bertambah buruknya rematik. Bahkan dalam beberapa kasus yang terjadi di Indonesia, keharusan untuk minum obat seumur hidup bisa menyebabkan pasien depresi dan akhirnya bunuh diri.
"Hal inilah yang harus kita edukasi ke masyarakat. Dibutuhkan kesabaran dalam terapi rematik ini, apalagi untuk anak-anak. Pasien saya ada yang kena rematik saat usia 3 tahun (juvenile RA), dengan gejala nyeri dan bengkak di persendian lutut. Harus rajin minum obat untuk mengelola penyakit ini. Obat rematik fungsinya sebagai remisi, yaitu suatu kondisi reda seperti sembuh, namun suatu saat bisa kumat tanpa diketahui penyebabnya," ujarnya.
Rheumatoid ArthritisRheumatoid Arthritis (RA) adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) secara simetris mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi. Penyakit ini bisa menyebabkan sejumlah gejala di seluruh tubuh.
Rheumatoid Arthritis terjadi pada sekitar 1% dari jumlah penduduk, dan perempuan 2-3 kali lebih sering dibandingkan pria. Biasanya pertama kali muncul pada usia 25-50 tahun, tetapi bisa terjadi pada usia berapapun.
Untuk pengobatan selain obat yang mempunyai efek antiinflamasi, antipiretik dan analgesik, juga dipakai obat kortiko steroid dan obat imunosupresan.
Osteoarthritis (pengapuran)Osteoarthritis (artritis degeneratif/penyakit sendi degeneratif) adalah suatu penyakit sendi menahun yang ditandai dengan adanya kemunduran pada tulang rawan (kartilago) sendi dan tulang di dekatnya, yang bisa menyebabkan nyeri sendi dan kekakuan. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia di atas 70 tahun.
Bisa terjadi pada pria dan wanita, tetapi pria bisa terkena pada usia yang lebih muda.
Gejala yang sering dialami oleh penderita rematik adalah :
1. Inflamasi atau bengkak pada sendi, bila kondisi ini lebih dominan dari gejala lainnya maka bijaksana memilih obat rematik yang mempunyai efek mengurangi pembengkakan lebih dominan. Seperti derivat dari asam enolat; piroksikam, tenoksikam. Tetapi biasanya obat ini kuat mengiritasi lambung.
2. Rasa nyeri, obat rematik dalam hal ini berperan sebagai analgesik. Obat rematik yang mirip dengan aspirin hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah dan nyeri yang berkaitan dengan inflamasi.
3. Demam, obat rematik dalam hal ini berperan sebagai antipiretik, dimana biasanya akan menurunkan suhu badan di waktu demam saja. Walaupun demikian obat rematik tidak dibenarkan hanya untuk penghilang demam saja karena sifat toksiknya.
Pada umumnya obat rematik yang ada memiliki efek kombinasi yaitu antiinflamasi, analgesik dan antipiretik secara lengkap atau tidak dengan kekuatan yang berbeda-beda pada efeknya.
Selain untuk mengurangi gejala-gejala di atas banyak juga dewasa ini obat rematik yang juga mengedepankan efek samping mengiritasi lambung yang rendah.
Untuk obat rematik dari bahan alami biasanya digunakan untuk pencegahan atau menghambat penyakit rematik lebih parah.
Bentuk sediaan obat rematik pun beraneka ragam, yang dapat terbagi dalam 3 kelompok:
1. Obat rematik sediaan oral, seperti tablet, kapsul, sirup bahkan sekarang sudah ada yang lepas lambat.
2. Obat rematik sediaan topikal (oles), seperti gel, minyak.
3. Obat rematik sediaan lainnya, seperti suppositoria dan injeksi, ini digunakan untuk penderita yang ingin menghindari efek samping obat rematik yang mengiritasi lambung.
Konsultasikan ke dokter untuk menentukan obat yang digunakan. jangan coba-coba mengobati sendiri.