Go4HealthyLife.com - Ways to healthy living through CARE & CURE - http://www.go4healthylife.com
Rheumatoid Arthritis Tingkatkan Risiko Stroke
http://www.go4healthylife.com/articles/2850/1/Rheumatoid-Arthritis-Tingkatkan-Risiko-Stroke/Page1.html
 Redaksi Go4HealthyLife.com
 20 Desember 2011
 
Peradangan yang terkait dengan rheumatoid arthritis ternyata dapat merusak lebih dari sekadar kerusakan pada persendian. Apa saja yang dapat disebabkan oleh gangguan autoimun ini?


Go4HealthyLife.com, Jakarta - Peradangan yang terkait dengan rheumatoid arthritis ternyata dapat merusak lebih dari sekadar kerusakan pada persendian. Apa saja yang dapat disebabkan oleh gangguan autoimun ini?

Berdasarkan penelitian terbaru, gangguan autoimun ini juga dapat meningkatkan risiko aterosklerosis, penumpukan plak di pembuluh darah, berpotensi meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung.

Kabar baik dari penelitian ini adalah bahwa obat-obatan tertentu yang telah digunakan dalam pengobatan rheumatoid arthritis diketahui dapat mengurangi risiko penumpukan plak.

"Risiko kardiovaskular lebih tinggi pada penderita rheumatoid arthritis," kata ketua tim peneliti, Dr. Jon T. Giles, dari Johns Hopkins University di Baltimore.

"Ada beberapa penjelasan yang menyebutkan bahwa faktor risiko inflamasi [seperti akibat dari rheumatoid arthritis] benar-benar hanya berbeda pada orang yang memiliki faktor risiko lain untuk penyakit jantung [seperti obesitas atau gaya hidup], jadi penting untuk mengontrol faktor risiko tradisional kardiovaskular Anda," ujar Giles.

Rheumatoid arthritis adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh peradangan pada lapisan sendi. Hal ini dapat menyebabkan nyeri sendi kronis, menurut Arthritis Foundation. Penyebab pasti penyakit ini belum diketahui, tetapi sistem kekebalan tubuh diyakini memainkan peran kunci dalam perkembangannya. Alih-alih berkonsentrasi melawan penyerbu asing, seperti bakteri, sistem kekebalan tubuh pada penderita rheumatoid arthritis muncul untuk berbalik melawan jaringan sehat yang terdapat di area antara sendi, yang kemudian merusak atau menghancurkannya.

Dalam studi terbaru ini, peneliti melakukan pemeriksaan USG dua arteri karotid pada 158 penderita rheumatoid arthritis. Pengujian pertama dilakukan pada awal penelitian, dan yang kedua dilakukan rata-rata sekitar tiga tahun kemudian.

Sekitar dua pertiga dari peserta studi adalah perempuan, dan usia rata-rata adalah 59 tahun pada awal penelitian.

Para peneliti mengukur ketebalan arteri karotid dan arteri karotid internal. Arteri karotid memberikan aliran darah yang penting ke otak.

Di antara pemeriksaan itu, 82 persen pasien mengalami beberapa penebalan di arteri karotid umum mereka, sementara 70 persen mengalami penebalan pada arteri karotid internal.

Mereka yang dirawat dengan obat penghambat TNF, seperti infliximab (Remicade) atau adalimumab (Humira), memiliki tingkat penebalan arteri karotid umum 37 persen lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan obat.

Namun, tidak semua obat sangat membantu. Mereka yang mengonsumsi kortikosteroid, seperti prednison, mengalami peningkatan risiko penebalan karotid, kecuali mereka juga minum obat penurun kolesterol yang dikenal sebagai statin. Statin tampaknya dapat melawan efek negatif dari steroid, menurut penelitian ini.

Peradangan tingkat tinggi dalam tubuh dikaitkan dengan meningkatnya timbunan plak dalam arteri, Giles mencatat.

Dr. Nadera Sweiss, ahli rheumatologi di University of Chicago Medical Center, mengatakan penelitian ini mendukung konsep peradangan dan hubungannya dengan aterosklerosis.

"Saya pikir penelitian ini akan mendorong kita semua untuk berpikir lebih jauh tentang faktor risiko yang dapat dimodifikasi ketika kami melihat pasien dengan rheumatoid arthritis," kata Sweiss.

"Jika seseorang memiliki kelebihan berat badan, saya bisa memberikan perhatian lebih banyak dan merujuk ke ahli gizi, atau melihat lipid dan berpikir untuk menggunakan statin dan konseling tentang cara menurunkan LDL [kolesterol jahat] dan meningkatkan HDL [kolesterol baik]," tambahnya.

"Sangat penting bahwa kita menangani rheumatoid arthritis dengan cara yang sama dengan kita menangani diabetes dan penyakit lain yang dapat menyerang jantung," kata Sweiss.