Go4HealthyLife.com, Jakarta - Dengan meneliti profil darah "metabolomik" dari perokok tak lama setelah merokok dapat mengungkap aktivasi jalur yang terlibat dalam kematian sel, peradangan, dan bentuk lain dari kerusakan sistemik.

Hal itu diungkapkan para peneliti dari Georgetown Lombardi Comprehensive Cancer Center, yang merupakan bagian dari Georgetown University Medical Center.

Para peneliti mengatakan temuan terbaru yang dipaparkan di pertemuan tahunan ke-9 AACR Frontiers in Cancer Prevention Research ini adalah analisis terbaik terhadap bahan kimia dihasilkan dari merokok dan menunjukkan potensi bahaya yang disebabkan oleh karsinogen dan racun-racun lain terhadap perokok beberapa tahun sebelum terserang kanker paru-paru, penyakit jantung, atau penyakit lain yang terkait dengan rokok.

"Analisis kami menemukan keunggulan dari hati, jantung, dan toksisitas ginjal pada pasien yang sehat," kata peneliti utama studi tersebut, Ping-Ching Hsu, mahasiswa doktoral yang bekerja di laboratorium onkologi peneliti Petrus Shields, MD, yang mengkhususkan diri pada karsinogenesis tembakau.

Shields mengatakan temuan ini dapat membantu dalam pengembangan tes darah baru yang memungkinkan peneliti menilai tingkat bahaya dari satu produk rokok dibandingkan dengan yang lain. Ini bisa berguna bagi FDA untuk memulai mengendalikan kandungan rokok.

Studi ini menyajikan cara baru untuk mengevaluasi pengaruh merokok pada manusia, kata para peneliti. Sebelumnya, produsen rokok hanya diminta untuk menggunakan mesin untuk menurunkan kandungan kimia yang berpotensi karsinogen pada rokok.

Dalam studi tersebut, mereka menganalisis darah 10 perokok sebelum dan setelah mereka mengisap rokok, dan kemudian mengukur lagi efeknya setelah mengisap rokok kedua satu jam kemudian di laboratorium merokok. Karena perokok sering memetabolisme racun rokok secara berbeda, penelitian ini mengkategorikan perokok menjadi kelompok, yaitu 5 perokok ringan (kurang dari 12 batang sehari) dan 5 perokok berat (23 atau lebih rokok yang diisap sehari).

Para peneliti kemudian menganalisis profil metabolomik global dari sekitar 3.000 zat kimia dalam darah masing-masing perokok. Metabolit dihasilkan ketika sesuatu dibawa masuk ke dalam tubuh - seperti makanan, asap rokok, alkohol, obat - dimetabolisme, atau dipecah menjadi zat kimia yang menghasilkan fungsi biologis melalui jalur metabolik. Metabolome global adalah jaringan reaksi metabolik, dan metabolomik adalah analisis dari metabolome pada waktu tertentu.

Dengan menggunakan peralatan khusus, peneliti dapat menelusuri metabolit dalam konteks jalur relevan yang dipengaruhi oleh asap rokok, termasuk kematian sel, interaksi sel-sel (tanda peradangan), metabolisme lemak, dan ekspresi gen. Pada perokok berat, mereka kemudian menelusuri metabolit yang diproduksi setelah merokok terhadap kerusakan pada beberapa organ dan gangguan dalam fosfolipid yang membentuk membran sel, dan perubahan dalam produksi asam empedu.

"Salah satu tujuan dari studi kami adalah untuk mengidentifikasi penanda risiko baru untuk kanker paru-paru yang kemudian dapat meningkatkan deteksi dini gangguan yang berhubungan dengan merokok, dan untuk itu kita perlu mengembangkan biomarker baru," kata Hsu.