Go4HealthyLife.com, Jakarta - Remaja lebih rentan terkena sakit kepala kronis atau migrain saat mereka kelebihan berat badan, merokok, hanya sedikit olahraga atau tidak berolahraga sama sekali.

Dalam sebuah penelitian, para remaja dengan tiga gaya hidup yang tidak sehat tersebut memiliki kecenderungan tiga kali lipat mengalami frekuensi sakit kepala parah dibandingkan mereka yang berbobot normal, aktif dan tidak merokok.

Sakit kepala merupakan keluhan umum di antara para remaja, dimana 5% remaja laki-laki dan 8% remaja perempuan. Pada studi lain di Polandia, sebanyak 28% remaja dilaporkan mengalami sakit kepala akibat migrain.

Sementara obesitas, merokok dan faktor gaya hidup lainnya menunjukkan pengaruh pada frekuensi dan keparahan sakit kepala kronis pada orang dewasa, studi yang dipublikasikan di jurnal Neurology, adalah yang pertama mengeksplorasi hubungan pada remaja.

Studi tersebut adalah yang pertama untuk memeriksa dampak individu dari faktor gaya hidup negatif spesifik seperti obesitas dan merokok, kata peneliti John-Anker Zwart, MD, PhD,  dari University of Oslo.

"Kami terkejut dengan jumlah remaja yang mengalami sakit kepala terkait obesitas, merokok dan gaya hidup yang tidak aktif,” kata Zwart seperti dilansir WebMD. "Kami juga terkejut dampak faktor gaya hidup negatif tersebut tampaknya kian bertambah.”

Penelitian melibatkan hampir 6.000 siswa di Norwegia berusia 13-18 tahun yang baru-baru ini mengalami sejarah sakit kepala. Mereka juga ditanya apakah merokok dan berapa banyak berolahraga.

Secara kasar, satu dari 5 remaja (19%) mengatakan merokok,  16% mengalami obesitas dan 31% hanya berolahraga kurang dari 2 kali dalam sepekan.

Secara keseluruhan, sekira dua pertiga gadis remaja (36%) dan seperlima remaja laki-laki (21%)  dilaporkan mengalami sakit kepala kambuh sepanjang tahun lalu.

Lebih dari separuh (55%) adalah obesitas, remaja yang merokok dilaporkan mengalami sakit kepala berulang dibandingkan 1 dari 4 remaja dengan tanpa faktor gaya hidup tersebut.

Spesialis sakit kepala pada remaja, Andrew D. Hershey, MD, PhD,  kepada WebMD  mengatakan bahwa sebagian besar anak-anak dan remaja yang mengalami migrain dan beberapa di antaranya parah, sakit kepala kronis juga dipengaruhi genetik.

"Anak-anak yang menderita migrain cenderung memiliki orangtua yang juga mengalaminya,” kata dia. "Pengaruh lingkungan juga berperan dengan menyebabkan sakit kepala muncul lebih sering.”

Berdasarkan penelitian Hershey yang dipublikasikan tahun lalu, dia menemukan bahwa anak obesitas yang kerap mengalami sakit kepala berkurang kelebihannya setelah si anak menurunkan berat badannya.

Dia mengatakan konseling adalah hal yang penting untuk dilakukan, namun kerap dilewatkan, sebagai komponen untuk terapi sakit kepala. Nasihatnya untuk para pasien antara lain makan secara teratur dengan gizi seimbang, cukup tidur, banyak minum yang tidak mengandung kafein, olahraga minimal empat kali seminggu.

"Dua pemicu umum yang paling sering dijumpai pada anak-anak adalah melewatkan makan dan tidak cukup tidur,” ujarnya.