Go4HealthyLife.com, Jakarta - Gejala pneumonia pada anak tergantung usia dan penyebabnya. Biasanya didahului gejala selesma (common cold) berupa demam dan/atau batuk dan/atau pilek.  Gejala ini dapat disertai nyeri kepala dan hilang nafsu makan.

Pada perkembangan selanjutnya akan timbul dua gejala penting pneumonia yaitu napas cepat dan kesulitan bernapas. 

Menurut Dr. Darmawan B.S.,SpA (K), Ketua Respirologi UKK IDAI, napas cepat bergantung pada usia anak. Jika usia anak kurang dari 2 bulan, napas cepat lebih besar atau sama dengan 60 kali/menit. Untuk usia 2-12 bulan, napas cepat jumlahnya lebih besar atau sama dengan 50 kali/menit. Pada usia 12 bulan – 5 tahun, napas jumlahnya lebih besar atau sama dengan 40 kali/menit.

Sedangkan tanda kesulitan napas pada anak antara lain napas cepat, hidung kembang-kempis, dan pada kasus pneumonia yang berat dapat terlihat adanya tarikan dinding dada. Pada kasus berat dapat terjadi kejang, penurunan kesadaran, atau penurunan suhu tubuh.
 
Dr Darmawan mengungkapkan jika anak tidak mengalami perbaikan setelah dua hari, atau kondisi anak memburuk, maka harus dipikirkan adanya komplikasi atau diagnosis lain.

Beberapa  adanya komplikasi yang dapat terjadi antara lain:

1. Efusi pleura atau pneumotoraks, yaitu adanya cairan atau udara di ruang selaput paru. Hal ini biasanya terjadi bila kuman penyebabnya adalah Stafilokokus. Biasanya ditandai dengan adanya bintil-bintil isi nanah di kulit.

2. Empiema, yaitu adanya nanah di ruang selaput paru. Hal ini dicurigai bila anak mengalami demam berkepanjangan, dan pada foto rontgen tampak cairan pada rongga dada.

3. Gangguan bernapas hingga gagal napas. Hal ini terjadi karena pada pneumonia terjadi gangguan pertukaran oksigen akibat peradangan di paru. Akibatnya, jaringan tubuh akan kekurangan oksigen, anak akan sesak, dan apabila berlangsung lama dan berat akan timbul gangguan pada berbagai organ hingga menyebabkan kematian. Anak harus dirawat di perawatan intensif dan diberikan bantuan napas.

Penanganan Pneumonia

Tidak semua anak dengan pneumonia perlu dirawat di rumah sakit. Pada pneumonia ringan anak dapat dirawat di rumah namun membutuhkan perhatian khusus dari orang tua mengenai ada tidaknya perburukan gejala yaitu napas cepat atau napas sulit, demam, gangguan makan atau minum.

“Anak harus segera dibawa ke rumah sakit kembali jika ditemukan tanda tersebut. Indikasi perawatan ditentukan berdasarkan berat ringannya penyakit, yaitu ada gangguan pernapasan berat, kesulitan makan dan minum, dan ada penyakit lain,” ujar dr Darmawan dalam seminar “Upaya Percepatan Penanggulangan Pneumonia” yang diselenggaran Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di Jakarta, Selasa (9/11).

Anak di bawah usia 2 tahun dengan pneumonia harus dirujuk ke rumah sakit karena memiliki risiko tinggi untuk berkembang menjadi penyakit berat dan kematian.

Pneumonia membutuhkan pengobatan antibiotik dengan pilihan dan dosis yang tepat. “Pilihan antibiotik disesuaikan dengan derajat penyakit. Orangtua harus mengawasi dan memastikan pemberian obat sesuai dengan aturan dan diminum hingga tuntas,” ujar dr Darmawan.

Selain itu, pemberian oksigen bagi anak pneumonia sangat penting karena pada pneumonia terjadi kekurangan oksigen dalam tubuh anak. Selain itu, dibutuhkan asupan cairan dan gizi yang cukup untuk mempercepat penyembuhan. Obat lain hanya diperlukan jika terdapat keluhan lain seperti penurun demam dan sebagainya.