Go4HealthyLife.com, Jakarta – Orang dewasa obesitas yang menderita rheumatoid arthritis mungkin kurang dapat merespons beberapa obat baru untuk penyakit radang persendian ini dibandingkan dengan mereka yang berbadan lebih ramping.

Penelitian berskala kecil ini mengamati 89 pasien arthritis yang mendapatkan obat infliximab (Remicade), dan diketahui bahwa pasien yang berbadan gemuk kurang mendapatkan manfaat dari obat ini dibandingkan dengan pasien yang bertubuh lebih ramping.

Dari 15 pasien obesitas, separuh dari jumlah itu dianggap dapat merespons pengobatan infliximab selama 16 pekan - artinya mereka menunjukkan penurunan signifikan untuk skor dalam hal ukuran standar nyeri sendi, pembengkakan dan kadar protein terkait peradangan dalam darah.

Sebaliknya, tiga perempat dari 66 pasien yang berberat badan normal dan kelebihan berat badan dianggap merespons, seperti juga tujuh dari delapan pasien dengan berat badan kurang.

Bahkan ketika para peneliti mempertimbangkan skor gejala pasien sebelum memulai pengobatan, berat badan masih berkaitan dengan kemungkinan perbaikan kondisi.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Arthritis & Rheumatism ini meningkatkan kemungkinan bahwa pasien obesitas cenderung kurang mendapatkan manfaat dari infliximab atau obat lain dalam kelas yang sama, yang dikenal sebagai penghambat TNF.

Penghambat TNF - yang juga termasuk obat etanercept (Enbrel), adalimumab (Humira) dan golimumab (Simponi) - bekerja dengan cara menghambat faktor nekrosis tumor, yaitu sebuah protein sistem kekebalan tubuh yang berkontribusi terhadap peradangan.

Rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh melancarkan salah serangan terhadap jaringan lapisan sendi. Penghambat TNF merupakan bagian dari kelompok obat yang relatif baru dikenal sebagai pengubah respons biologis, yang semuanya dirancang untuk bekerja pada sistem kekebalan tubuh untuk membantu memperlambat perkembangan arthritis.

Tidak jelas mengapa orang obesitas kurang dapat merespons terhadap penghambat TNF. Tapi mungkin protein yang mendorong terjadinya peradangan yang diproduksi oleh jaringan lemak - yang disebut adipocytokines - bisa memainkan peran, kata Dr. Paul P. Tak, salah seorang peneliti dalam studi terbaru ini.