Go4HealthyLife.com - Ways to healthy living through CARE & CURE - http://www.go4healthylife.com
Kegemukan Ubah Respons Otak Terhadap Makanan
http://www.go4healthylife.com/articles/3189/1/Kegemukan-Ubah-Respons-Otak-Terhadap-Makanan-/Page1.html
 Redaksi Go4HealthyLife.com
 6 Januari 2012
 
Minum segelas milkshake di tengah cuaca panas pasti merupakan pengalaman yang menyenangkan, karena minuman ini tak hanya mampu menghapus dahaga tapi juga dapat membantu memberikan tambahan energi bagi tubuh. Tapi bagaimana dengan yang kegemukan?


Go4HealthyLife.com, Jakarta - Minum segelas milkshake di tengah cuaca panas pasti merupakan pengalaman yang menyenangkan, karena minuman ini tak hanya mampu menghapus dahaga tapi juga dapat membantu memberikan tambahan energi bagi tubuh. Tapi bagaimana dengan yang kegemukan?

Bagi mereka yang gemuk atau obesitas, tentunya milkshake bukanlah pilihan yang tepat untuk memberikan sensasi yang menyenangkan, karena mereka yang berbadan "XL" biasanya sudah makan melebihi porsi normal. Lalu apa masalahnya?   

Masalahnya adalah, makan terlalu banyak tampaknya akan meredupkan respons neurologis terhadap konsumsi makanan yang enak seperti milkshake. Respons itu dihasilkan dalam inti caudate otak, sebuah wilayah otak yang berkaitan dengan hadiah atau penghargaan. Begitulah hasil penelitian terbaru.

Para peneliti menggunakan pencitraan magnetik resonansi fungsional (fMRI) dan menemukan bukti bahwa kelebihan berat badan dan penderita obesitas menunjukkan aktivitas kurang di wilayah otak ini ketika minum milkshake dibandingkan orang dengan berat badan normal.

"Semakin tinggi indeks massa tubuh (BMI) Anda, maka semakin rendah respons caudate Anda ketika Anda minum milkshake," kata ketua tim penulis studi, Dana Small, seorang profesor psikiatri di Yale bersama koleganya di John B. Pierce Laboratory.

Efeknya kuat terutama pada orang dewasa yang memiliki varian tertentu dari gen taqIA A1, yang dikaitkan dengan risiko tinggi mengalami obesitas. Pada mereka, Small mengatakan, respons otak terhadap milkshake sangat menurun.

Temuan itu telah dipaparkan di ajang pertemuan tahunan American College of Neuropsychopharmacology di Miami.

Untuk mengetahui mengapa orang yang makan terlalu banyak mengatakan begitu sulit untuk mengabaikan makanan yang sangat bermanfaat atau lezat itu tidak sepenuhnya jelas. Tetapi para peneliti memiliki beberapa teori.

Ketika ditanya seberapa menyenangkan mereka mendapatkan milkshake, orang yang kelebihan berat badan dan obesitas dalam penelitian ini sebenarnya memberikan respons dengan cara yang tidak berbeda jauh dari mereka dengan berat badan normal. Ini menunjukkan bahwa penjelasannya bukanlah bahwa orang gemuk tidak lagi menikmati milkshake atau kurang menikmati.

Dan ketika mereka melakukan scan otak pada anak-anak yang berisiko obesitas karena kedua orangtua mereka gemuk, para peneliti menemukan kebalikan dari apa yang mereka temukan pada orang dewasa yang kelebihan berat badan.

Anak-anak yang berisiko obesitas sebenarnya memiliki peningkatan respons caudate terhadap konsumsi milkshake, dibandingkan dengan anak-anak yang tidak dianggap berisiko obesitas karena mereka memiliki orangtua yang langsing.

Menurut peneliti, hal ini menunjukkan bahwa respons caudate berkurang sebagai akibat dari makan berlebihan sepanjang hidup seseorang.

"Penurunan respons caudate ini tidak mendahului kenaikan berat badan, tapi justru mengikutinya. Ini menunjukkan bahwa respons caudate turun sebagai konsekuensi, bukan penyebab, dari kebiasaan makan berlebihan," tandas Small.