_thumbmedium.jpg)
Go4HealthyLife.com, Jakarta - Dalam menjalani kehidupan, adakalanya kita berada di bawah, tapi pada gilirannya juga akan merangkak ke atas. Untuk itu, jika kita kebetulan tengah berada di bawah, janganlah terlalu memikirkan kegagalan itu berlarut-larut. Mengapa?
Pasalnya, jika kita terlalu banyak berpikir tentang kehidupan yang kemungkinan sedang belum beruntung, ini hanya akan menganggu kesehatan otak atau mental kita. Ketika kita memiliki terlalu banyak pikiran atau terlalu sering mengingat hal, terutama tentang hal-hal negatif, ini mungkin tidak akan memberikan manfaat. Yang paling benar adalah mulai melakukan introspeksi diri mengapa kegagalan itu bisa terjadi, dan segera menyiapkan strategi baru untuk menggapai keberhasilan.
Para peneliti dalam sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Science, mengatakan bahwa mereka yang pintar mengubah pikiran mereka dan merefleksikan keputusan, mereka memiliki ukuran daerah tertentu dari otak mereka yang lebih besar, dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah berintrospeksi.
Bagaimanapun, berintrospeksi merupakan aspek penting dari kesadaran manusia, meskipun para ilmuwan mencatat banyak ragam dalam kemampuan orang untuk berintrospeksi.
Berangkat dari temuan ini, para ilmuwan yang dipimpin Profesor Geraint Rees dari University College London, menyebutkan bahwa volume materi abu-abu di korteks prefrontal anterior otak, terletak tepat di belakang mata, merupakan indikator kuat dari introspektif seseorang memiliki kemampuan introspektif.
Tak cuma itu, para ilmuwan itu juga mengatakan struktur materi putih yang terhubung ke wilayah ini juga terkait dengan proses introspeksi.
Itulah mengapa orang yang berpikir terlalu banyak tentang kehidupan mereka memiliki kemampuan mengingat yang buruk dan mereka juga cenderung mengalami depresi. Tetapi masih belum jelas bagaimana hubungan antara introspeksi dan dua jenis materi otak ini benar-benar bekerja.
Diharapkan nantinya temuan ini dapat membantu para ilmuwan memahami bagaimana cedera otak tertentu memengaruhi kemampuan individu untuk merenungkan pikiran dan tindakan mereka.
Dengan pemahaman ini, diharapkan dapat memberikan pengobatan yang tepat, yaitu terhadap mereka yang mengalami serangan stroke atau yang mengalami trauma otak serius, karena mereka ini mungkin tidak memahami kondisi mereka sendiri.
Sebagai contoh, ada dua pasien dengan gangguan mental, di mana salah satu menyadari penyakit mereka, sementara yang lainnya tidak. Orang pertama mungkin bisa mengonsumsi obat sendiri, tapi yang lain belum tentu.
"Nah, jika kita memahami kesadaran diri pada tingkat neurologis, mungkin kita juga bisa beradaptasi terhadap perawatan dan mengembangkan strategi pelatihan untuk pasien," kata salah satu penulis studi, Stephen Fleming dari University College London.