Go4HealthyLife.com, Jakarta – Obat pengencer darah, warfarin, amat populer untuk mencegah stroke karena manfaatnya yang mumpuni dan dapat menghemat biaya perawatan. Tapi meski dikenal ampuh untuk mengencerkan darah, kebanyakan menggunakan warfarin bisa mengancam jiwa lho.

Untuk itu, para ahli menyarankan untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi, terutama bagi pasien tua denan gangguan detak jantung tak normal (atrial fibrillation). 

Saat ini diperkirakan 2,3 juta warga Amerika mengalami atrial fibrillation -- gangguan elektris pada jantung yang menyebabkan organ vital ini berdenyut tak beraturan. Detak jantung abnormal ini dapat memicu penggumpalan darah yang menyumbat pembuluh darah di otak, kondisi ini disebut stroke iskemik. Kondisi detak jantung tak normal yang disebut non-valvular atrial fibrillation, atau NVAF, amat berbahaya.

Warfarin (yang dijual dengan berbagai merek seperti Coumadin, Jantoven, Marfarin dan lain-lain) dapat mencegah stroke iskemik dengan menjaga agar tak terbentuk gumpalan darah. Tapi obat ini temperamental, yaitu jika dikonsumsi terlalu banyak dapat menyebabkan pendarahan yang mengancam jiwa dan bahkan dapat memicu pecahnya pembuluh darah, yang disebut stroke hemoragis.

"Para dokter sangat peduli terhadap pasien berusia lanjut untuk mencegah kemungkinan pecahnya pembuluh darah dan mungkin memberikan estimasi berlebih terhadap risiko ini dan underestimate dalam hal mencegah stroke iskemik dan komplikasi lainnya terkait dengan penggumpalan darah," kata Dr. James V. Freeman, pakar kardiologi di Stanford University yang tidak terlibat dalam studi itu.

Dalam studi yang mengamati database dari 70.057 pasien yang mengonsumsi warfarin, 5.640 orang (8 persen) menderita stroke iskemik hampir dalam dua tahun, bandingkan dengan 4.130 stroke di antara 49.707 orang yang tidak menggunakan warfarin (8,33 persen).

Angka itu menunjukkan ada 3,56 kasus stroke per 100 pasien per tahun untuk mereka yang mengonsumsi warfarin, dibandingkan dengan 4,63 stroke per 100 pasien per tahun di antara mereka yang tidak minum warfarin - atau tingkat risiko stroke 27 persen lebih rendah bagi pasien yang menggunakan warfarin.

Hanya sedikit terjadi peningkatan kejadian pendarahan besar di antara pasien yang mengonsumsi warfarin, dan tak ada peningkatan kasus stroke hemoragis - sebuah temuan yang tak diperkirakan yang dapat dijelaskan oleh pasien yang berisiko tinggi pendarahan yang sudah tak lagi menggunakan warfarin.

Tapi gambaran itu terlihat bagi pasien yang mengonsumsi warfarin dengan takaran tepat sesuai resep dokter. Sementara jika digunakan melebihi dosis yang ditentukan, penggunaan warfarin untuk mencegah stroke tak lagi hemat biaya, justru sebaliknya, karena akan memicu terjadinya pecahnya pembuluh darah otak bagi pasien yang mengalami atrial fibrillation.