Go4HealthyLife.com, Jakarta - Selain kurang sedap dipandang dan berdampak negatif terhadap kesehatan, ternyata obesitas mengurangi kenikmatan dan kualitas seks.

“Banyak perempuan yang lebih suka pria dengan tubuh yang atletis dan perut yang rata, dan kesukaan ini bukan sekadar perasaan, melainkan merupakan bagian dari program yang tertanam di dalam gen kita,” kata dr Phaidon L Toruan, MM, dokter pemerhati masalah kesehatan dan gaya hidup.

Ternyata, kegemukan menyebabkan penurunan kesehatan metabolisme tubuh yang mengontrol ereksi dan kadar testosteron di dalam darah.
Obesitas cenderung menurunkan produksi testosteron dan testosteron bebas (bentuk aktif dari hormon tesosteron). Hal yang membuat keadaan memburuk adalah adanya proses penuaan yang secara alamiah terjadi pada setiap orang, khususnya penurunan hormon testosteron, yang umumnya dimulai pada usia 30-an, kata Phaidon.

Kegemukan meningkatkan berbagai faktor risiko yang berhubungan dengan turunnya tesosteron seperti obstructive sleep apnea (penyumbatan saluran napas waktu tidur), resistensi insulin (diabetes), dan penyakit sindroma metabolik, demikian menurut Andret Guay dari Harvard Medical School yang dipublikasikan di Journal Andrology tahun 2009. 

Kondisi tersebut meningkatkan peluang terjadinya disfungsi ereksi. Akibat  lanjutan dari turunnya hormon testosteron adalah meningkatnya risiko serangan jantung, demikian menurut  penelitian yang dilakukan para ilmuwan di Boston University School of Medicine dan dipublikasikan di International Journal Impotence Research tahun 2009.   

Solusi untuk mengatasi kelebihan lemak yang berakibat obesitas, kata Phaidon, dengan mengurangi lemak. “Kuncinya adalah olahraga dan mengatur diet,” ujarnya.

Penggunaan tambahan hormon, seperti hormon testosteron pada pria  adalah salah satu alternatif untuk mempermudah usaha. “Tentunya beda penggunaan testosteron untuk kepentingan terapi, yang menggunakan dosis terapi, dengan penyalahgunaan hormon testosteron pada olahragawan,” tandasnya.