
Go4HealthyLife.com, Jakarta – Apa hubungan antara rheumatoid arthritis (RA atau rematik) dengan depresi? Ternyata ada, bahkan sangat dekat. Jika RA membuat Anda depresi, pengalaman Patricia Doyle bisa menjadi contoh yang baik.
Doyle sangat menyukai berjalan-jalan di sekeliling rumahnya di San Francisco danberdansa tiga kali seminggu. Namun empat tahun lalu, dia didiagnosis dengan rheumatoid arthritis di usia 58. Karena penyakitnya memburuk, dia enggan melakukan aktivitas. Saat dia diberhentikan dari pekerjaan 2 tahun lalu, depresi menghampirinya.
“Saya tidak ingin beranjak dari tempat tidur,” kisah Doyle seperti dilansir
WebMD. “Itu adalah hal yang mengerikan dalam hidup saya.”
Berpikir bahwa bisa menolong diri sendiri, Doyle mencoba berjalan setiap hari. Hal itu memang membantu, namun tidak banyak. Jadi baru-baru ini dia berpikir untuk mendatangi bantuan profesional.
“Saya akhirnya mengaku kepada dokter bahwa saya sangat depresi. Dokter mulai meresepkan obat antidepresan,” ujar Doyle.
Kisah Doyle ini mungkin mirip dengan Anda. Depresi bisa terbentuk dari kehidupan dengan penyakit kronis atau dengan pemikiran RA membatasi kemerdekaan, aktivitas sosial dan mobilitas. Hal itu juga bisa menjadi lingkaran setan tiada ujung: Tidak melakukan aktivitas yang Anda sukai karena terlalu menyakitkan bisa membuat Anda depresi.
Nah, depresi itu membuat Anda lebih fokus kepada penyakit, sehingga Anda lebih depresi. Anda mungkin jadi kurang tidur, lebih mudah lelah dan merasa terisolasi.
Namun pakar mengungkapkan terapi depresi bisa memutus lingkaran setan tersebut. Dengan terapi dapat mengurangi kecemasan, stres dan sejumlah sakit fisik seperti RA.
“Depresi dan rasa sakit itu berjalan bersisian,” kata Elizabeth Lin, MD, seorang dokter keluarga dan peneliti ilmiah di Group Health Research Institute, Seattle. Tidak hanya rasa sakit mendatangkan depresi, namun depresi bisa membuat rasa sakit kian buruk, kata Lin. “Depresi ternyata dapat menurunkan batas ambang bagaimana kita menoleransi rasa sakit, bagaimana dengan mudahnya rasa sakit tercatat di otak.”
Tidak ada satu orang pun yang merasa malu atau terstigma dengan depresi. “Rasa sakit membuat depresi, tak ada keraguan terhadap hal itu,” kata Alex Zautra, PhD, profesor psikologi di Arizona State University di Tempe yang menjalankan sejumlah studi pada arthritis dan kemashalatan.
“Ini masalah tubuh-pikiran. Apa yang terjadi pada tubuh berdampak pada pikiran, namun pikiran mempengaruhi berapa banyak energi yang harus bertahan dalam menghadapi rasa sakit,” kata Zautra
Sejumlah studi menunjukkan bahwa meredakan depresi juga dapat meringankan rasa sakit rematik. Pada studi selama 12 bulan yang dilakukan terhadap 1.001 orang dengan RA, mereka yang mendapatkan psikoterapi atau mengonsumsi antidepresan memiliki gejala-gejala depresi lebih sedikit dan lebih jarang mengalami rasa sakit, dan bisa melakukan aktivitas harian dibandingkan responden yang tidak melakukan upaya apa-apa.
Studi yang dilakukan pada 2007 menemukan bahwa konseling dan keterampilan menghadapi masalah, seperti teknik relaksasi dan rutin melakukan aktivitas, tidak hanya menurunkan kecemasan dan depresi, namun juga mengurangi bengkak pada persendian dan meningkatkan kemampuan fisik. Dua pertiga responden dari studi ini berjenis kelamin perempuan.
Jadi, bagaimana cara Anda mengetahui inilah saatnya berkonsultasi dengan dokter tentang depresi? Kenali tanda-tandanya:
- Rasa sakit atau kelelahan membatasi aktivitas harian Anda, seperti memasak, berpakaian atau bahkan berkumpul bersama teman
- Tidak bisa tidur di malam hari
- Merasa tidak berharga atau tidak punya harapan hidup
- Mulai mengisolasi diri
- Sulit berkonsentrasi
Zautra juga menekankan perlunya berpikir hidup bersama RA. Misalnya bagaimana hubungan dengan pasangan, teman dan rekan kerja. Apakah Anda terbangun di pagi hari dan berpikir Anda tak bisa beranjak dari tempat tidur karena sakit atau karena cara berpikir Anda? Sekali Anda bisa menangani apa yang berkontribusi pada depresi, Anda akan mengetahui apa yang harus dilakukan.