Go4HealthyLife.com, Jakarta – Berhati-hatilah bagi wanita yang menjalani operasi pengangkatan rahim untuk alasan selain kanker, karena tindakan ini dapat mendongkrak risiko mengalami serangan jantung atau stroke.

Yang lebih parah lagi, risiko tersebut akan semakin tinggi jika wanita juga menjalani operasi pengangkatan indung telur (ovarium). Namun, para peneliti Swedia belum berani mengatakan bahwa kedua operasi itu dapat benar-benar menyebabkan penyakit jantung.

"Pada hakikatnya histerektomi (pengangkatan rahim) merupakan prosedur yang benar-benar aman," kata peneliti senior Dr. Daniel Altman dari Karolinska Institute kepada Reuters Health. "Tapi beberapa operasi dikaitkan dengan risiko yang tidak langsung muncul, melainkan terjadi dalam jangka panjang."

Satu dari tiga wanita di Amerika Serikat menjalani histerektomi, atau pengangkatan permanen rahim dengan berbagai alasan, mulai dari fibroid hingga endometriosis atau nyeri panggul kronis. Jarang yang meminta operasi karena kanker, walaupun pengangkatan indung telur adalah cara umum yang digunakan untuk pencegahan kanker ovarium.

Sementara itu, penyakit kardiovaskular - termasuk serangan jantung, penyakit jantung koroner dan stroke - tetaplah sebagai pembunuh nomor satu wanita.

Untuk menentukan apakah operasi pengangkatan rahim berhubungan dengan meningkatnya risiko serangan jantung dan stroke, Altman dan koleganya meneliti lebih dari 800.000 wanita yang menjalani histerektomi atau tidak selama tiga dasawarsa. Rata-rata, wanita itu dipantau selama sekitar 10 tahun.

Setelah mempertimbangkan beberapa faktor yang bisa menjelaskan perbedaan dalam risiko - seperti situasi keuangan dan usia saat histerektomi dilakukan - para peneliti menemukan fakta bahwa seorang wanita yang menjalani histerektomi sebelum usia 50 memiliki risiko hampir 20 persen lebih tinggi untuk mengembangkan penyakit kardiovaskular dibandingkan dengan wanita sepadan yang masih memiliki rahim dan ovarium.

Pada wanita yang telah menjalani histerektomi dan juga operasi pengangkatan ovarium, risiko kardiovaskular lebih variatif - bisa saja sama dengan wanita yang tak melakukan operasi atau meningkat dua kali lipat bagi wanita yang hanya menjalani histerektomi.

Waktu pelaksanaan kedua operasi ini tampaknya memainkan peran penting, kata tim peneliti dalam European Heart Journal.

Sebagai contoh, dari 100 wanita berusia di bawah 50 tahun yang telah menjalani operasi pengangkatan ovarium sebelum atau pada saat yang sama dengan prosedur histerektomi, sekitar empat di antaranya mengembangkan penyakit jantung, stroke atau serangan jantung selama 10 tahun penelitian itu. Sebaliknya, sekitar dua dari setiap 100 wanita yang telah menjalani histerektomi dan ovarium mereka diangkat, di kemudian hari mengembangkan penyakit jantung. Tingkat risiko ini sama dengan wanita yang tidak menjalani kedua prosedur itu.

Namun, para peneliti tidak menemukan peningkatan risiko pada wanita berusia 50 tahun atau lebih yang menjalani histerektomi.

Altman mengatakan perubahan hormonal yang terjadi setelah organ diangkat mungkin menjadi penyebab meningkatnya risiko pada kelompok wanita di bawah usia 50 tahun. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa pengangkatan rahim bisa mengacaukan aliran darah ke ovarium, yang menghasilkan estrogen. Pengangkatan indung telur diketahui dapat memicu menopause dini, yang dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung.

Altman juga menyebutkan bahwa timnya sebelumnya telah mengaitkan histerektomi dengan masalah kesehatan lainnya, termasuk inkontinensia dan kanker ginjal.