
Go4HealthyLife.com, Jakarta – Sebuah vaksin malaria eksperimental dari GlaxoSmithKline (GSK) memberikan perlindungan jangka panjang terhadap anak-anak Afrika, meskipun ada sedikit penurunan efektivitas dari vaksin ini dari waktu ke waktu.
Para ilmuwan yang melakukan percobaan di Kenya Medical Research Institute mengatakan hasil ujicoba ini menunjukkan bahwa vaksin ini memberikan perlindungan sebesar 46 persen selama 15 bulan, yang berarti menjanjikan sebagai intervensi kesehatan masyarakat yang potensial terhadap kasus malaria anak di negara-negara endemik malaria.
Malaria adalah penyakit menular yang disebarkan oleh nyamuk dan mengancam hingga setengah penduduk dunia. Kebanyakan korban adalah anak-anak di bawah lima tahun yang tinggal di negara-negara miskin di sub-Sahara Afrika.
Laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa terjadi kemajuan dalam penanganan malaria dalam sedasawarsa lalu, yang ditunjukkan dengan terjadinya penurunan tingkat kematian menjadi 781.000 pada 2009 dari hampir satu juta jiwa pada 2000.
Ujicoba tahap akhir dari vaksin GSK, yang dikenal sebagai RTS,S atau Mosquirix, pada 16.000 anak-anak di tujuh negara di Afrika saat ini sedang berlangsung, dan program imunisasi akan berakhir bulan depan.
Jika data menunjukkan vaksin ini efektif, vaksin ini akan berlisensi dan diluncurkan sesegera mungkin pada 2015.
Untuk penelitian tahap pertengahan, yang dilakukan antara Maret 2007 dan Oktober 2008, melibatkan 894 anak-anak berusia sekitar lima bulan di Kenya dan Tanzania.
Temuan awal yang dipublikasikan pada 2008 menunjukkan bahwa vaksin ini memberikan perlindungan 53 persen terhadap malaria selama sedikitnya delapan bulan, namun para peneliti yang dipimpin oleh Ally Olotu di sebuah lembaga di Kilifi, otoritas Kenya menginginkan perlindungan vaksin yang lebih lama.
Hasil ujicoba yang diterbitkan dalam jurnal
The Lancet ini menunjukkan bahwa setelah 15 bulan masa tindak lanjut, efektivitas vaksin tidak menyusut banyak, di mana anak-anak yang mendapatkan vaksin ini masih memiliki kemungkinan 46 persen lebih rendah terinfeksi malaria dibandingkan dengan mereka yang tidak divaksin.