Go4HealthyLife.com, Jakarta – Dengan belum tuntasnya penanganan malaria di seluruh dunia, seorang ilmuwan Amerika Serikat memberikan harapan untuk pengobatan terhadap penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles ini.

Adalah Julia Kubanek, peneliti di Georgia Tech, yang menemukan senyawa pada rumput laut, yang diharapkan dapat membantu membuka jalan bagi dikembangkannya obat malaria.

Dalam penelitian Kubanek, rumput laut diketahui dapat memancarkan respons kimia alami untuk menangkal jamur yang akan menjajah sebuah tanaman yang terluka, sebuah proses yang bisa membantu menemukan obat anti-malaria.

Tercatat hingga satu juta orang per tahun meninggal akibat malaria, yang dapat disebabkan oleh parasit Plasmodium falciparum, dan obat-obatan baru diperlukan karena parasit ini kebal terhadap obat-obatan populer yang ada di pasaran saat ini.

"Hanya ada beberapa obat yang tersisa yang efektif terhadap malaria di semua wilayah di dunia, jadi kami berharap molekul-molekul ini akan terus menunjukkan janji karena kami mengembangkannya lebih jauh sebagai obat farmasi," kata Kubanek.

Para peneliti telah menemukan kelas senyawa pertahanan dari rumput laut, yang dikenal sebagai bromophycolides, setelah meneliti 800 jenis rumput laut dari Kepulauan Fiji.

Salah satu jenis rumput laut yang secara khusus menarik perhatian mereka adalah Callophycus serratus, karena sepertinya sangat mampu dalam melawan infeksi mikroba, menurut studi yang dipresentasikan di sebuah konferensi sains internasional yang digelar di Washington, Senin (21/2).

Molekul-molekul ini muncul sebagai bercak berwarna terang pada bagian-bagian tertentu dari rumput laut, dan dapat dilihat dengan bantuan teknik baru yang dikenal sebagai 'desorption electrospray ionization mass spectrometry', yang dikembangkan di Georgia Tech's School of Chemistry and Biochemistry.

"Alga ini menyusun pertahanan dan memunculkan molekul dengan cara yang dapat memblokir masuknya mikroba yang dapat menyerang dan menyebabkan penyakit," kata Kubanek.

"Rumput laut tidak memiliki respons imun seperti manusia. Tapi sebaliknya, mereka memiliki beberapa senyawa kimia dalam jaringan mereka untuk melindungi diri," katanya.

"Kita bisa mengkooptasi proses kimia ini bagi kepentingan manusia dalam bentuk pengobatan baru untuk penyakit yang menyerang kita," imbuhnya.

Namun, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan sebelum proses ini diterapkan sebagai obat bagi manusia, dan penelitian pada tikus akan dilakukan  sebagai langkah berikutnya.

Pada Januari, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meluncurkan sebuah rencana global untuk menghentikan penyebaran resistensi terhadap artemisinin, suatu senyawa kunci dari obat malaria baru. Menurut WHO, bila langkah ini tidak digalakkan akan menimbulkan bencana besar bagi umat manusia.

Resistensi terhadap artemisinin telah terjadi di daerah-daerah di perbatasan Kamboja-Thailand, dan diduga menyebar ke daerah lain di Kamboja, Myanmar, Thailand dan Vietnam.