Go4HealthyLife.com, Jakarta - Sebuah obat yang biasanya digunakan untuk menurunkan tekanan darah ternyata juga dapat membantu melindungi ginjal orang dengan diabetes tipe 2.

Dalam sebuah studi baru, tim peneliti internasional menemukan fakta bahwa obat penurun tekanan darah, olmesartan, yang dikenal dengan nama merek Benicar, dapat mencegah munculnya gangguan ginjal 23 persen lebih lama.

Studi ini mengukur kemungkinan masalah fungsi ginjal dengan mengukur jumlah albumin yang dikeluarkan dalam urin (mikroalbuminuria).

"Olmesartan dikaitkan dengan penundaan kemunculan mikroalbuminuria, meskipun kontrol tekanan darah di kedua kelompok itu sangat baik sesuai dengan standar saat ini," kata para peneliti dalam laporan yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine edisi 10 Maret.

"Mikroalbuminuria merupakan penanda untuk penyakit ginjal, dan mencegah penyakit ginjal penting agar panjang umur," kata Dr. Julie Ingelfinger, penulis editorial dalam jurnal tersebut. "Dimungkinkan untuk menggunakan obat terlebih dahulu untuk menunda atau mencegah timbulnya mikroalbuminuria."

Tapi berita dari penelitian ini tidak semuanya baik. Lebih banyak pasien dalam kelompok pengguna olmesartan yang telah mengalami kejadian kardiovaskular fatal dibandingkan pada kelompok plasebo. Tercatat 15 orang yang sudah memiliki masalah jantung dan menggunakan obat ini meninggal akibat masalah jantung, dibandingkan dengan tiga orang yang memakai plasebo.

Ingelfinger mengatakan bahwa tidak mungkin untuk mengetahui masalahnya sekarang, atau untuk mengetahui apakah obat ini mungkin telah berkontribusi terhadap kematian. Dia mengatakan FDA masih menyelidiki kasus kematian itu. Di situs internet, FDA mengatakan bahwa hingga saat ini manfaat obat masih dirasakan lebih besar daripada potensi risiko bagi orang dengan tekanan darah tinggi.

Olmesartan adalah bagian dari kelas obat yang dikenal sebagai penghambat reseptor angiotensin II (ARB), yaitu obat yang membantu menenangkan pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah.

Dalam penelitian terbaru itu tim peneliti menguji 4.447 orang dengan diabetes tipe 2 di 262 pusat perawatan di 19 negara Eropa. Para sukarelawan penelitian itu berusia antara usia 18 dan 75 tahun, dengan usia rata-rata 58 tahun. Tercatat 46 persen adalah laki-laki. Kurang dari 25 persen memiliki riwayat penyakit jantung. Rata-rata, relawan telah didiagnosis menderita diabetes tipe 2 selama enam tahun, dan mengalami kenaikan tingkat tekanan darah.

Setengah dari kelompok ini secara acak diminta untuk minum 40 miligram olmesartan sekali sehari, atau pil plasebo setiap hari selama rata-rata 3,2 tahun.

Target tingkat tekanan darah (kurang dari 130/80 mm Hg) dicapai di hampir 80 persen dari mereka yang minum olmesartan, dan 71 persen dari mereka yang menggunakan plasebo. Mikroalbuminuria muncul di 8,2 persen dari mereka yang memakai olmesartan dan 9,8 persen pada kelompok plasebo.

Waktu untuk timbulnya mikroalbuminuria bagi mereka yang mengonsumsi olmesartan lebih lama 23 persen dibandingkan pengguna plasebo.

Masalah jantung yang tidak fatal terjadi pada 81 orang yang mengonsumsi olmesartan dibandingkan dengan 91 orang pengguna plasebo. Namun, kejadian kardiovaskuler fatal lebih sering terjadi pada orang yang memakai olmesartan dibandingkan dengan mereka yang menggunakan plasebo: yaitu 15 berbanding 3.

Meski begitu, tampak bahwa manfaat obat ini kemungkinan lebih besar daripada potensi risikonya. Jumlah kejadian fatal dalam penelitian ini begitu kecil sehingga terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan.