• Definisi
  • Gejala
  • Penyebab
  • Faktor Risiko
  • Komplikasi
  • Diagnosis
  • Terapi
  • Prosedur

Schizophrenia merupakan sebuah kelompok gangguan otak serius di mana realitas diinterpretasikan secara abnormal. Schizophrenia membuahkan halusinasi, delusi, gangguan pola pikir dan perilaku.Orang dengan schizophrenia menarik diri dari masyarakat dan aktivitas di sekitar mereka, memilih menarik diri ke kedunianya sendiri yang ditandai dengan psikosis.

Berlawanan dengan kepercayaan umum, schizophrenia tidaklah sama dengan perpecahan kepribadian atau kepribadian majemuk. Sementara kata "schizophrenia" berarti “pikiran yang terpisah" hal ini merujuk pada terganggunya keseimbangan antara pikiran dan emosi.

Schizophrenia merupakan kondisi kronis, membutuhkan terapi seumur hidup. Namun berkat pengobatan baru, gejala-gejala schizophrenia sering kali dapat dikendalikan dengan sukses, membuat orang dengan kondisi tersebut menjadi produktif dan dapat menikmati hidup.

Terdapat beberapa jenis schizophrenia, jadi tanda-tanda dan gejala sangat bervariasi. Secara umum, gejala-gejala schizophrenia termasuk:
•    Percaya bukan pada kenyataan (delusi), seperti percaya bahwa ada konspirasi melawan penderita.
•    Melihat atau mendengar hal-hal yang tidak eksis (halusinasi), khususnya suara-suara
•    Berbicara tidak logis
•    Mengabaikan kebersihan pribadi
•    Kurang emosi
•    Emosi kurang tepat dengan situasi
•    Kemarahan yang meledak tiba-tiba
•    Perilaku katatonik
•    Perasaan persisten sedang diamati
•    Fungsi bermasalah di sekolah dan tempat kerja
•    Isolasi sosial
•    Pergerakan yang kikuk, kurang koordinasi

Derajat schizophrenia bervariasi mulai kisaran ringan hingga berat. Sejumlah orang mungkin dapat berfungsi baik dalam kehidupan sehari-hari, sementara lainnya membutuhkan perlakuan khusus. Pada sejumlah kasus, gejala-gejaja schizophrenia tiba-tiba terlihat muncul. Lain waktu, gejala-gejala schizophrenia berkembang secara bertahap bulan demi bulan, dan mungkin tak dikenali pada awalnya.

Seiring perjalanan waktu, penderita menjadi sulit berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Penderita mungkin tidak dapat bekerja atau sekolah. Mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan,  khususnya karena kesulitan membaca emosi atau petunjuk social dari orang lain. Penderita kemungkinan juga kehilangan minat pada aktivitas yang semula disukai. Merasa teragitasi, tertekan atau tenggelam dalam kondisi seperti trance (kesurupan). Menjadi tidak responsif terhadap orang lain.

Sebagai tambahan terhadap gejala-gejala schizophrenia, gejala kerap dikategorikan dalam tiga cara untuk membantu diagnosis dan terapi:

Tanda dan gejala negatif
Sejumlah tanda dan gejala negatif mewakili hilangnya atau penurunan emosi atau kemampuan perilaku. Tanda dan gejala itu antara lain:
•    Kehilangan minat pada aktivitas harian
•    Terlihat kekurangan emosi
•    Berkurangnya kemampuan untuk merencanakan atau mengerjakan aktivitas
•    Melalaikan kebersihan
•    Menarik diri dari aktivitas sosial
•    Kehilangan motivasi

Tanda dan gejala positif
Sejumlah tanda dan gejala positif mengenai pemikiran dan persepsi yang tidak biasa kerap terlibat dalam sebuah kehilangan kontak dengan realitas. Gejala-gejala ini mungkin dating dan pergi. Termasuk di antaranya:
•    Haalusinasi atau merasakan hal yang tidak nyata.Pada schizophrenia, mendengar suara-suara merupakan halusinasi yang umum. Suara-suara ini mungkin terlihat seperti memberikan perintah bagaimana bertindak, dan kadang-kadang termasuk bertindak membahayakan orang lain.
•    Delusi, atau percaya tanpa ada dasarnya di dunia nyata. Misalnya penderita percaya bahwa televisi mempengaruhi perilaku atau ada kekuatan di luar yang mengendalikan pemikiran seseorang.
•    Gangguan pemikiran atau kesulitan mengatur pemikiran dan pembicaraan, seperti salah mengartikan kalimat.
•    Gangguan pergerakan, seperti pengulangan gerakan, kikuk atau pergerakan tanpa sadar.

Tanda dan gejala kognitif
Gejala-gejala kognitif melibatkan masalah memori dan perhatian. Gejala-gejala ini mungkin yang paling mengganggu pada schizophrenia sebab mempengaruhi kemampuan penderita untuk melakukan tugas sehari-hari. Yang mencakup hal ini antara lain:
•    Masalah memahami informasi
•    Kesulitan memberikan perhatian
•    Masalah ingatan

Tidak diketahui apa penyebab  schizophrenia. Namun demikian para peneliti  meyakini  bahwa sebuah interaksi genetik dan lingkungan bisa jadi penyebab schizophrenia.  Masalah yang secara alami terjadi pada kimia otak tertentu, termasuk  neurotransmitters dopamine dan glutamat, mungkin juga berkontribusi pada  schizophrenia. Studi  pencitraan otak menunjukkan perbedaaan pada struktur otak dan sistem saraf pusat pasien schizophrenia.  Sementara para peneliti tidak sepenuhnya yakin mengenai perubahan-perubahan signifikan ini, mereka menyokong bukti bahwa  schizophrenia merupakan penyakit  otak.


Schizophrenia yang tidak dirawat dapat membuahkan masalah emosional, perilaku kesehatan, hukum dan keuangan yang berdampak di setiap sendi kehidupan.  Komplikasi yang disebabkan atau dikaitkan dengan schizophrenia termasuk:
•    Bunuh diri
•    Perilaku merusak diri sendiri, seperti melukai diri sendiri
•    Depresi
•    Penyalahgunaan alkohol, obat atau obat resep
•    Kemiskinan
•    Tidak punya tempat tinggal
•    Masalah dengan keluarga
•    Ketidakmampuan bekerja atau hadir di sekolah
•    Masalah kesehatan akibat pengobatan antipsikotik
•    Menjadi korban kekerasan atau menjadi pelaku
•    Penyakit jantung, kerap dikaitkan dengan perokok berat

Saat dokter mendiagnosis seseorang menderita schizophrenia, mereka biasanya melakukan tes psikologi dan medis. Hal ini dapat membantu menentukan diagnosis yang tepat berdasarkan gejala yang muncul. Pengujian dan tes ini melibatkan:
•    Pemeriksaan fisik. Langkah ini melibatkan pengukuran tinggi dan berat badan, mengecek tenda-tanda vital, seperti detak jantung, tekanan darah dan temperature, mendengarkan jantung dan paru-paru serta menguji abdomen.
•    Tes laboratorium. Langkah ini melibatkan hitung darah lengkap (CBC), skrining untuk alkohol dan obat, dan studi pencitraan seperti MRT atau CT scan.
•    Evaluasi psikologis. Dokter jiwa atau petugas kesehatan akan bicara kepada pasien mengenai pemikiran, perasaan dan pola perilaku. Dokter akan bicara mengenai delusi atau halusinasi dan mengecek tanda-tanda psikosis. Pasien mungkin juga diminta untuk mengisi kuis untuk tes psikologi, juga ditanya mengenai penyalahgunaan substansi atau alkohol. Atas izin pasien, anggota keluarga dan teman dekat ditanya mengenai informasi gejala-gejala pasien yang bersangkutan.

Kriteria diagnosis untuk  schizophrenia
Untuk didiagnosis sebagai schizophrenia, pasien harus memenuhi criteria yang dituangkan dalam  Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). Petunjuk manual ini diterbitkan oleh the American Psychiatric Association dan digunakan oleh para petugas kesehatanan untuk mendiagnosis kondisi mental dan perusahaan asuransi untuk mencairkan klaim perawatan.

Kriteria diagnosis untuk schizophrenia mencakup:
•    Adanya minimal dua dari hal berikut: delusi, halusinasi, pembicaraan yang tidak terorganisasi, perilaku katatonik atau tidak terkontrol, atau adanya gejala-gejala negatif.
•    Ketidakmampuan dalam menjalankan pekerjaan, hadir di sekolah atau menjalankan tugas sehari-hari dalam kehidupan normal
•    Tanda-tanda ini bertahan minimal enam bulan
•    Gangguan kesehatan mental lainnya yang telah dikesampingkan

Seseorang mungkin bisa didianosis dengan salah satu dari lima sub-tipe schizophrenia, meskipun tidak semua orang dapat dengan mudah digolongkan ke dalam kategori khusus. Kelima sub-tipe itu adalah:
•    Paranoid
•    katatonik
•    Disorganisasi
•    Terdiferensiasi
•    Residual
Pasien sebaiknya bicara dengan dokter terkait untuk menentukan dirinya mengidap schizophrenia golongan mana sehingga pasien dapat lebih mudah mempelajari kondisi khusus berikut pengobatannya.

Pengobatan merupakan pengobatan standar sebagai landasan untuk terapi schizophrenia. Namun karena pengobatan untuk schizophrenia dapat menyebabkan efek samping yang serius, meskipun jarang terjadi, pasien mungkin enggan mengonsumsi obat tersebut. Pasien disarankan bekerja sama dengan psikiatri dan petugas kesehatan yang lain untuk menemukan pengobatan yang tepat bagi pasien, dengan efek samping minimal.

Pengobatan antipsikotik merupakan pengobatan yang paling umum diresepkan untuk terapi schizophrenia. Obat-obatan ini berfungsi mengontrol gejala-gejala dengan mempengaruhi neurotransmitter otak, dopamine dan serotonin. Ada dua jenis utama pengobatan antipsikotik:
•    Konvensional,  atau tipikal antipsikotik. Pengobatan ini umumnya efektif dalam mengelola gejala-gejala positif schizophrenia. Pengobatan ini kerap dan berpotensi menimbulkan efek samping neurologis, termasuk kemungkinan tardive dyskinesia atau gerakan menyentak tanpa sadar. Kelompok pengobatan ini termasuk:
•    Haloperidol (Haldol)
•    Thioridazine
•    Fluphenazine
Tipikal antipsikotik ini umumnya harganya lebih murah dari obat lain yang terbaru, khususnya untuk obat generik, yang amat pantas dipertimbangkan khususnya untuk pengobatan jangka panjang jika diperlukan.
•    Generasi baru, atau disebut juga atipikal antipsikotik. Pengobatan antipsikotik terbaru ini positif dalam mengelola gejala negatif dan positif. Yang termasuk obat jenis ini antara lain:
•    Clozapine (Clozaril)
•    Risperidone (Risperdal)
•    Olanzapine (Zyprexa)
•    Quetiapine (Seroquel)
•    Ziprasidone (Geodon)
•    Aripiprazole (Abilify)
•    Paliperidone (Invega)
Risperidone (Risperdal) adalah stau-satunya obat atipikal antipsikotik yang telah disetujui Food and Drug Administration (FDA) untuk terapi schizophrenia pada anak-anak usia 13 hingga 17 tahun. Pengobatan antipsikotik atipikal memiliki efek samping terhadap metabolism, termasuk pertambahan berat badan, diabetes dan kolesterol tinggi.

Pengobatan mana yang paling sesuai untuk pasien sangat bergantung kepada kondisi masing-masing. Butuh waktu beberapa minggu setelah mulai mengonsumsi obat pertama kali untuk mengenali perbaikan dari gejala. Pada umumnya, tujuan terapi dengan pengobatan antipsikotik efektif untuk mengontrol tanda dan gejala pada dosis serendah mungkin. Pengobatan lain yang mungkin membantu antara lain antidepresan atau antikecemasan.

Jika salah satu obat tidak bekerja dengan baik, atau pasien tak bisa menoleransi efek samping yang muncul, dokter mungkin akan menyarankan pengobatan kombinasi, mengganti jenis pengobatan atau meninjau ulang dosisnya. Jangan pernah berhenti mengonsumsi obat tanpa membicarakannya dengan dokter, bahkan saat pasien merasa lebih baik. Pasien mungkin akan mengalami kekambuhan gejala-gejala psikotik jika menghentikan asupan obat.Selain itu, obat antipsikotik perlu tapered off, dibandingkan dihentikan sama sekali stopped abruptly, untuk menghindari gejala-gejala ketagihan.

Pasien harus mengetahui bahwa semua obat antipsikotik memiliki efek samping dan risiko terhadap kesehatan. Obat antipsikotik tertentu, misalnya, meningkatkan risiko diabetes, pertambahan berat badan, kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi. Clozaril bisa menyebabkan perubahan yang membahayakan terhadap jumlah sel darah putih. Obat antipsikotik tertentu dapat menyebabkan masalah kesehatan serius pada orang dewasa dan harus dihindari.

Pasien harus membicarakan dengan dokter mengenai kemungkinan efek samping yang timbul, masalah kesehatan juga harus dimonitor saat pasien mengonsumsi obat-obatan jenis ini. Obat antipsikotik bisa melakukan interaksi yang membahayakan dengan substansi lain. Dokter harus mengetahui mengenai semua obat atau substansi lain yang dikonsumsi pasien, bahkan termasuk vitamin, mineral dan suplemen herbal.

Terapi psikososial
Meskipun obat merupakan terapi standar untuk schizophrenia, psikoterapi dan terapi psikososial lain juga penting. Terapi tersebut mencakup:
•    Terapi  individu. Psikoterapi bersama petugas kesehatan mental terlatih dapat membantu pasien mempelajari cara-cara mengatasi perubahan yang dialami sehari-hari pada penderita schizophrenia. Terapi akan membantu pasien memperbaiki keterampilan komunikasi, menjalin relasi, kemampuan untuk bekerja dan motivasi untuk tetap menjalankan rencana pengobatan. Mempelajari schizophrenia bisa membantu pasien memahami penyakit ini lebih baik, mengatasi gejala-gejala yang mungkin muncul, dan memahami pentingnya mengonsumsi obat dengan patuh. Terapi juga dapat membantu pasien mengatasi stigma yang melingkupi schizophrenia.
•    Terapi keluarga. Pasien dan keluarganya akan mendapatkan manfaat dari terapi yang menyediakan dukungan dan pendidikan bagi keluarga. Gejala-gejala yang muncul pada penderita berpotensi membaik jika keluarga memahami penyakit tersebut, dapat mengenali situasi yang penuh tekanan yang mungkin memicu kekambuhan, dan membantu pasien  tetap menjalankan rencana pengobatan. Terapi keluarga juga akan membantu pasien berkomunikasi lebih baik dengan anggota keluarga yang lain saat ada masalah. Selain itu terapi keluarga juga membantu anggota keluarga mengatasi dan mengurangi tekanan  kondisi pasien.
•    Rehabilitasi. Pelatihan sisal dan kemampuan berbicara untuk hidup mandiri merupakan bagian penting pemulihan dari schizophrenia. Dengan bantuan seorang terapis, pasien dapat mempelajari keterampilan mengenai kebersihan yang baik, memasak dan berkomunikasi dengan lebih baik. Sejumlah komunitas memiliki program membantu penderita schizophrenia dengan menyediakan lapangan kerja, perumahan dan kelompok , mintalah bantuan dokter untuk mencarikannya. Kini makin sedikit penderita membutuhkan perawatan jangka panjang di rumah sakit sebab terapi efektif sudah tersedia.

Tantangan terapi
Saat pasien mendapatkan terapi yang memadai dan patuh menjalankan terapi tersebut, pasien tersebut memiliki kesempatan besar hidup secara produktif dan berfungsi baik dalam kehidupan sehari-hari. Namun sebaiknya pasien menyiapkan diri menghadapi tantangan yang mengganggu terapi.

Namun, kerap kali penderita schizophrenia mematuhi rencana terapinya. Pasien mungkin percaya bahwa dia tak lagi membutuhkan pengobatan atau terapi lain. Atau, saat pasien tidak dapat berpikir dengan jernih, mungkin dia lupa mengonsumsi obat atau pergi menemui janji temu terapi.  Mintalah bantuan dokter mengenai tips mematuhi rencana pengobatan, seperti mengonsumsi obat yang tersedia dalam bentuk injeksi jangka panjang. Bahkan dengan pengobatan yang baik, seorang pasien bisa mengalami kekambuhan. Penting membuat rencana untuk mengatasi kekambuhan pasien.

Sejumlah penderita schizophrenia biasanya perokok berat. Jika pasien merokok, dia membutuhkan dosis obat antipsikotik dalam jumlah dosis lebih tinggi sebab nikotin mengganggu pengobatan ini.

Serupa dengan itu, penggunaan alkohol dan obat dapat memperburuk gejala-gejala schizophrenia. Jika pasien memiliki masalah dengan penyalahgunaan alkohol dan substansi lain, program terapi ini juga membantu pasien mengatasi masalah tersebut.

Tidak ada cara pasti mencegah schizophrenia. Namun demikian, terapi awal dapat membantu mengendalikan gejala-gejala sebelum berkembang menjadi komplikasi serius dan bisa membantu memperbaiki prospek jangka panjang penderita. Mematuhi rencana pengobatan juga membantu mencegah kekambuhan atau memburuknya gejala-gejala schizophrenia. Selain itu, para peneliti berharap dengan lebih mempelajari faktor risiko schizophrenia dapat menuntun pada diagnosis lebih awal, juga terapinya.

Untuk orang dengan risiko tinggi terkena schizophrenia, melakukan langkah proaktif seperti menghindari penggunaan obat terlarang/ilegal, mengurangi stres, cukup tidur dan mulai obat antipsikotik sedini mungkin akan membantu meminimalkan gejala atau mencegah gejala itu memburuk.