Go4HealthyLife.com - Ways to healthy living through CARE & CURE - http://www.go4healthylife.com
Paparan Asap Rokok Sebabkan Bayi Mati dalam Rahim
http://www.go4healthylife.com/articles/4277/1/Paparan-Asap-Rokok-Sebabkan-Bayi-Mati-dalam-Rahim/Page1.html
 Redaksi Go4HealthyLife.com
 9 Desember 2011
 
Wanita hamil yang tinggal atau bekerja dengan perokok mungkin berisiko sedikit lebih tinggi mengalami bayi mati dalam kandungan, demikian menurut studi terbaru. Ini menambah bukti bahwa perokok pasif dapat membahayakan bahkan pada bayi yang belum lahir.

Go4HealthyLife.com, Jakarta - Wanita hamil yang tinggal atau bekerja dengan perokok mungkin berisiko sedikit lebih tinggi mengalami bayi mati dalam kandungan, demikian menurut studi terbaru. Ini menambah bukti bahwa perokok pasif dapat membahayakan bahkan pada bayi yang belum lahir.

Bayi yang baru lahir juga mengalami berat badan dan kepala lebih kecil jika ibu mereka adalah perokok pasif.

"Informasi ini penting bagi perempuan, keluarga mereka dan penyedia layanan kesehatan," tulis Dr Joan Crane dari Eastern Health di St. John's dan rekannya di BJOG: An International Journal of Obstetrics and Gynecology.

Asap rokok diduga mengekspos manusia sampai sekitar satu persen dari asap yang dihirup perokok aktif. Menurut para peneliti, sisa asap yang tidak terdilusi mengandung bahan kimia berbahaya dalam jumlah banyak dan dalam konsentrasi yang lebih besar dari asap rokok dihirup melalui filter.

Bahan kimia tesebut dapat membahayakan janin dalam berbagai cara, misalnya dengan membatasi aliran darah dan mungkin merusak plasenta.

Sedikit yang diketahui tentang risiko bayi lair mati pada perokok pasif, sehingga Crane dan rekan-rekannya menggunakan database dari wanita hamil dari provinsi Newfoundland dan Labrador di Kanada untuk menjelaskan pertanyaan itu.

Mereka juga mengamati hasil kelahiran lainnya, seperti lingkar kepala, yang sejak lama telah dikaitkan dengan perkembangan intelektual anak-anak.

Hampir 12.000 perempuan dalam database tersebut, 11 persen mengatakan mereka telah terpapar asap rokok.

Tingkat kelahiran mati, di mana bayi meninggal selama trimester ketiga kehamilan, adalah 0,83 persen pada perokok pasif dan 0,37 persen pada wanita yang tidak menghirup asap rokok.

Itu tidak membuktikan bahwa merokok adalah pelaku tunggal, karena faktor risiko lain mungkin berbeda antara kedua kelompok.

Namun ketika peneliti memperhitungkan beberapa dari faktor lain, seperti usia, kebiasaan minum dan konsumsi obat, perokok pasif memiliki risiko lebih dari tiga kali lipat mengalami kematian janin dalam kandungan.

Dengan kata lain, jika asap memang bisa disalahkan, satu bayi ekstra akan mati dalam kandungan untuk setiap 117 wanita yang terpapar asap rokok.

"Ini jumlah yang sangat besar," kata Dr Hamisu Salihu, seorang ahli kelahiran mati di University of South Florida di Tampa seperti dilansir Reuters Health. "Kami sekarang dapat menginformasikan pasien bahwa paparan asap rokok berarti mereka bisa kehilangan bayi mereka."

Kaitan tersebut belum kokoh sampai sekarang, kata Salihu, yang tidak terlibat dalam pekerjaan itu.

Pada skala global, penyebab paling umum kelahiran mati antara lain komplikasi saat melahirkan, infeksi seperti sifilis selama kehamilan, masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi atau diabetes, pembatasan pertumbuhan janin - di mana bayi gagal tumbuh pada tingkat yang tepat - dan kelahiran cacat.

Kebanyakan keguguran, di sisi lain, terjadi pada trimester pertama dan paling diyakini karena kelainan genetik secara acak.

Namun, kebiasaan gaya hidup tertentu telah diikat dengan risiko tinggi keguguran, termasuk minum berat, penggunaan narkoba dan dalam beberapa penelitian, merokok.

Para peneliti Kanada juga menemukan bahwa bayi yang lahir dari perokok pasif beratnya 54 gram, atau hampir 2 ons, dibandingkan bayi yang ibunya tinggal dan bekerja di rumah tangga yang bebas rokok. Ukuran kepala mereka sedikit lebih kecil juga, kira-kira kurang 0,24 cm dari ukuran rata-rata.

Salihu mengatakan lingkar kepala telah dikaitkan dengan IQ, walaupun tidak terkait secara langsung.

"Pembuat kebijakan harus benar-benar menyikapi hal ini dengan serius," pungkasnya. "Kita perlu membuat undang-undang untuk melindungi para bayi ini."