Go4HealthyLife.com, Jakarta - Dian (35), terpaksa harus menahan ngilu yang tiba-tiba datang saat es krim menyentuh geliginya. Rasa ngilu itu demikian menyakitkan hingga ia memutuskan tak meneruskan mengonsumsi makanan favoritnya itu.
"Sebenarnya saya sadar ada masalah dengan gigi. Setiap saya makanan atau minuman yang dingin atau asam, atau bahkan berada di daerah bersuhu dingin, gigi terasa ngilu. Namun saya memang malas ke dokter gigi untuk periksa kondisi ini. Paling-paling mengurangi saja sumber makanan yang bisa bikin gigi ngilu kambuh," ujar jurnalis sebuah majalah gaya hidup. Sayangnya, belakangan Dian harus banyak menulis mengenai tempat makan di Jakarta. "Jadi, praktis saya kadang gagal menghindari sejumlah makanan yang membuat gigi ngilu, seperti es krim atau makanan minuman asam," imbuhnya sambil meringis.
Tampaknya kasus yang dialami Dian sama sekali bukan hal baru. Kita terbiasa menyebutnya gigi sensitif (hipersensitivitas dentin). Penyebab utama gigi sensitif adalah terbukanya saluran-saluran kecil pada dentin gigi yang sering disebut dengan tubuli. Saluran dentin ini berhubungan langsung dengan saraf gigi. Sehingga ketika rangsang makanan dan minuman datang akan segera mengenai dentin dan langsung diteruskan ke saraf gigi. Hasilnya adalah rasan adalah ngilu yang tajam, meskipun sesaat.
Gangguan gigi sensitif inilah yang membuat kita memilih menghindari makanan favorit dengan kondisi yang sangat manis, asam, asin juga terlalu panas ataupun dingin. Kerap mengonsumsi minuman bersoda, makan dan minum panas dingin dalam
waktu hampir bersamaan (misalnya setelah makan bakso kemudian minum es) dapat memicu terjadinya rasa ngilu pada gigi.
Hipersensitivitas dentin ternyata lazim dialami masyarakat dunia. Gigi yang paling rentan terhadap
hipersensitivitas dentin adalah gigi geraham atas dan yang paling jarang
terkena masalah ini adalah gigi seri.
Website khusus kesehatan WebMD.com menyatakan banyak orang menderita gigi
sensitif dan keluhan ini dapat timbul kapan saja. Namun kasus ini lebih
sering dijumpai pada usia antara 20-40 tahun, meskipun kasus ini juga
dijumpai pada mereka yang berusia remaja dan usia lanjut. Keluhan gigi
sensitif juga lebih banyak dijumpai pada wanita ketimbang pria.
Dentin
yang membentuk sebagian besar jaringan penyangga gigi sebenarnya
memiliki cukup banyak pori, dengan jutaan saluran kecil mengarah ke
saraf bagian tengah. Sebuah lapisan enamel keras pada mahkota gigi
melindungi dentin, tetapi jika dentin ini terbuka, gigi bisa menjadi
sensitif dan rentan. Begitu akar gigi terbuka, perubahan suhu
yang disebabkan oleh makanan dan minuman panas dan dingin bisa
menyebabkan cairan dalam saluran kecil tersebut melebar dan mengerut.
“Proses ini dapat mengiritasi saraf dan membawa rasa sakit pada gigi
sensitif,” ujar Dr.How Kim Chuan, pakar kesehatan gigi dari Malaysia
dalam diskusi media tentang perawatan gigi sensitif di Jakarta yang diselenggarakan Sensodyne,
belum lama ini. “Hipersensitivitas dentin adalah sensasi yang terasa
ketika saraf di dalam dentin gigi telah terbuka. Sensasi yang dirasakan
berkisar dari iritasi sampai dengan rasa sakit yang tajam.”
Banyak orang tidak menyadari bahwa,
jika tidak ditangani, gigi sensitif dapat menyebabkan masalah gigi
lainnya. “Gigi sensitif membuat penyikatan gigi tidak nyaman, yang dapat
menyebabkan penyikatan gigi tidak benar. Plak bisa tumbuh dengan cepat
dan dapat menyebabkan masalah gigi seperti penyakit gusi dan kerusakan
gigi ketika gigi tidak dibersihkan dengan benar,” ujarnya.
Lantas, apa penyebab terjadinya gigi sensitif? WebMD mencatat sejumlah faktor yang memicu terjadinya gigi sensitif, antara lain:
1.
Kebiasaan menggosok gigi dengan cara yang tidak tepat yaitu terlalu
keras atau menyikat gigi dari kiri ke kanan. Kebiasaan menggosok gigi
dengan tekanan berlebih dapat membuat gusi mengalami iritasi atau gusi
menurun dari leher gigi, lama kelamaan akar gigi akan terbuka (resesi
gingiva), leher gigi berlubang, lapisan email pun akan berkurang
ketebalannya sehingga bila minum air dingin, asam/manis atau bahkan
tersentuh bulu sikat gigi pun akan terasa ngilu.
2. Penyakit gusi
(gingivitis). Iritasi pada lapisan tisu gusi dapat menyebabkan
sensitivitas karena berkurangnya dukungan penyangga yang membuat
terbukanya permukaan akar yang mengarah langsung ke syaraf gigi.
3. Tindakan mengikir gigi dapat mengikis lapisan email dan membuka lapisan dentin yang ada di bawahnya.
4.
Penumpukan plak. Adanya plak pada permukaan akar dapat memicu kondisi
gigi sensitif. Gigi yang patah pun dapat dipenuhi bakteri dari plak dan
masuk ke saluran (tubulus dentin) yang kemudian memicu radang/
inflamasi.
5. Konsumsi makanan yang mengandung asam tinggi
seperti jeruk, tomat, acar dan teh secara reguler dapat membuat erosi
email, memicu penyakit periodontal.
6. Kebiasaan mengunyah yang salah serta beban kunyah yang tidak seimbang juga dapat memicu timbulnya keluhan gigi sensitif.
7.
Penumpukan sisa-sisa makanan di daerah pertemuan gigi dengan
gigi/kontak gigi. Sisa makanan ini menyusup masuk melalui leher gigi dan
sulit terjangkau sikat gigi sehingga akan sulit dibersihkan, lama
kelamaan penumpukannya akan semakin banyak, menekan saku gusi semakin
dalam dari keadaan normal.
8. Pembentukan lapisan email gigi yang
kurang sempurna (enamel hypoplasia) dapat pula terjadi pada
individu-individu tertentu. Keadaan ini pun akan membuat gigi menjadi
sensitif.
Lantas, bagaimana agar keluhan gigi sensitif tidak sering datang saat kita menyantap makanan atau minuman favorit, atau ketika berada di daerah dingin? Pakar Periodonti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Dr. Yuniarti Soeroso, drg, Sp.Perio(K) punya jawaban soal ini. "Di bawah enamel gigi terdapat lapisan yang disebut dentin, yang
terbuat dari ribuan tabung mikroskopis atau tubulus. Ketika ujung saraf
di dalam tubulus ini terkena pemicu seperti minuman dingin, kita akan rasakan rasa ngilu yang pendek yang tajam. Cara menghilangkan sensasi nyeri itu tentu saja dengan memblok tubulus, mencegah saraf pada gigi menerima rangsang dari luar."
Yuniarti menambahkan, salah satu cara paling sederhana dan praktis untuk mengatasi keluhan
gigi sensitif adalah melalui penggunaan pasta gigi dengan bahan aktif
yang dapat mengurangi rasa ngilu pada gigi sensitif (desensitizing
agents) yang secara langsung menenangkan ujung saraf di dalam gigi atau
memblokir saluran kecil di dalam dentin. "Bahan yang dapat memblok atau menutup tubulus yang terbuka tersebut adalah stronsium asetat, yang bekerja dengan
cara membentuk sumbatan dalam lumen tubulus atau dengan kata lain,
secara efektif memblokir saluran kecil kecil pada gigi yang mencegah
saraf dari rangsangan sensitif," ujarnya.
Hasil studi
klinis yang dilakukan Sensodyne menunjukkan lapisan sumbatan dentin yang terbentuk berkat
strontium asetat terbukti meredakan rasa sakit pada gigi sensitif sampai
46 persen. "Tidak hanya untuk sikat gigi, namun bahan stronsium asetat yang terdapat pada
pasta gigi ini juga dapat dioleskan langsung pada gigi sensitif untuk
kondisi darurat," ujar Lody Lukmanto, GSK Senior Brand Manager Oral Care pada acara peluncuran 'Sensodyne Rapid Relief' di Jakarta, baru-baru ini.
Cara Merawat Gigi Sensitif
Rasa ngilu pada gigi sensitif dapat dipicu oleh berbagai hal, oleh sebab itu agar tetap nyaman ketika menikmati hidangan favorit, ikuti beberapa saran berikut:
- Hilangkan kebiasaan buruk menggosok gigi dengan tekanan keras dan dengan gerakan kiri-kanan.
- Sikat gigi di waktu yang tepat, yaitu kurang lebih 20 menit setelah makan karena segera setelah makan kondisi mulut masih dalam keadaan asam sehingga penyikatan akan meruntuhkan email yg berperan sebagai pelindung gigi.
- Gunakan sikat gigi dengan bulu sikat yang lembut dengan kepala sikat sesuai dengan ukuran mulut kita sehingga bisa menjangkau daerah yang sulit.
- Hindari penggunaan sikat gigi yang bulu sikatnya sudah rusak, ganti sikat gigi apabila bulu sikat sudah mulai tidak beraturan karena dapat melukai gusi dan efek pembersihan tidak maksimal
- Bersihkan gigi pada seluruh permukaan gigi sampai ke celah-celah gigi dan saku gusi
- Lakukan pijatan gusi untuk memperlancar peredaran darah. Caranya adalah dengan menyikat gigi bagian atas dari atas gusi ke arah bawah (gigi), dan sikat gigi bagian bawah yang dimulai dari bagian bawah gusi ke arah atas (gigi), atau biasa disebut teknik “merah putih”
- Gunakan pasta gigi yang sesuai dengan gigi sensitif, misalnya yang mengandung stronsium asetat.
- Hindari konsumsi makanan/minuman yang memiliki perbedaan suhu ekstrim pada saat yang bersamaan; Kurangi makanan yang dapat menyebabkan trauma pada gusi/merusak gusi, misalnya maan daging yang kurang matang atau mengunyah kerupuk, serta sebisa mungkin kurangi konsumsi makanan yang terlalu asam atau manis.
Bila masalah gigi sensitif tidak ditanggulangi, maka akan ada peradangan jaringan pulpa (jaringan lunak di dalam gigi) sehingga terjadi sakit yang berkepanjangan sampai pada kematian gigi. Selanjutnya, bakteri bisa menyebar ke seluruh bagian tubuh dan dapat berakibat fatal karena risiko timbulnya berbagai penyakit dalam. Nah, makanya jangan abaikan gigi sensitif ya!