Go4HealthyLife.com, Jakarta – Salah satu yang menjadi momok pada penyandang diabetes adalah gangguan pada kaki (kaki diabetik). Jika tak dikelola dengan baik, luka pada kaki penyandang diabetes ini dapat menuntun pada amputasi.

Untuk mencegah amputasi, dr.Em Yunir, SpPD KEMD, Staf Divisi Metabolik Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSUPN Ciptomangunkusumo, mendesak perlunya deteksi dini kelainan kaki diabetik harus dilakukan, bahkan sebelum timbulnya luka. “Mengingat luka yang awalnya kecil jika tidak ditangani dengan segera akan menimbulkan infeksi dan cepat menyebar. Kadar gula dalam darah yang tinggi merupakan makanan bagi kuman yang akan berkembang biak dan menyebabkan infeksi bertambah buruk,” ujar Em Yunir dalam media edukasi tentang diabetes di Jakarta, belum lama ini.

Infeksi yang tidak ditangani dengan segera dapat menyebabkan gangren (luka bernanah). Pada gangren, kulit dan jaringan di sekitar luka tersebut akan mati (nekrotik) dan mengalami pembusukan, sehingga daerah di sekitar luka tersebut akan berwarna kehitaman dan menimbulkan bau.

“Untuk mencegah agar gangren tidak meluas, dokter harus mengambil tindakan untuk membuang jaringan yang mati melalui perawatan dan pembersihan setiap hari atau melakukan tindakan operasi untuk memotong jari kaki atau bagian dari kaki yang terinfeksi,” lanjut Yunir.

Lebih lanjut Yunir menjelaskan, kasus ulkus (luka)  dan gangren diabetik merupakan kasus diabetes yang termasuk cukup banyak dirawat di rumah sakit. Dari beberapa penelitian di Indonesia, angka kematian akibat ulkus atau gangren berkisar 17-23% sedangkan angka amputasi berkisar 15-30%. Angka kematian satu tahun pasca amputasi berkisar 14,8% dan jumlah ini meningkat pada tahun ketiga menjadi 37%. “Rata-rata umur pasien hanya 23,8 bulan pasca amputasi,” ujar dia.

Data di ruang perawatan penyakit dalam RSUPN Ciptomangunkusumo pada 2007 menyebutkan dari 111 pasien diabetes yang dirawat dengan masalah kaki diabetetik, menunjukan angka amputasi sebesar 35 %, dimana 30% amputasi mayor dan 70 amputasi minor, dengan angka kematian 15%. Data tahun 2010-2011, angka amputasi meningkat menjadi 54,8%, sebagian besar amputasi minor, yaitu bagian di bawah pergelangan kaki sebesar 64,7% dan amputasi mayor 35,3%.

”Penyandang diabetes harus mencermati kelainan yang timbul pada kaki, yaitu adanya penebalan (kalus) kulit dan pertumbuhan rambut, permukaan telapak kaki, kalus kuku, pembengkakan, deformitas, mobilisasi gerak sendi, warna serta jaringan nekrosis,” imbau Yunir.

Kaki diabetik merupakan komplikasi kronik diabetes  yang paling ditakuti karena risiko terjadinya amputasi yang cukup tinggi serta mengancam jiwa. Setelah dilakukan amputasi, penyandang diabetes juga masih menghadapi risiko tinggi untuk mengalami luka kembali serta amputasi.

Diperkirakan sekitar sepertiga dari penyandang diabetes akan mengalami masalah kaki. Lamanya perawatan, besarnya biaya dan tindakan amputasi yang merupakan suatu kegagalan dalam pengelolaan adalah faktor-faktor penting yang perlu diperhatikan pada kasus kaki diabetik ini. Sebanyak 30-50% pasien pasca amputasi akan menjalani amputasi pada kaki sisi lainnya dalam kurun waktu 1-3 tahun.

Pemeriksaan kaki diabetik harus dilakukan secara menyeluruh, baik sebelum munculnya luka atau saat telah terjadi luka. Pemeriksaan yang dilakukan antara lain melalui pemeriksaan riwayat penyakit diabetes dan penyakit lain yang menyertai, pemeriksaan secara umum, pemeriksaan kelainan kulit, adanya gangguan pembuluh darah pada tungkai, ada tidaknya gangguan saraf atau neuropati.

“Penyandang diabetes dianjurkan untuk tidak berjalan tanpa alas kaki, memakai kaus kaki atau sepatu yang sempit, menghindari menggunakan bahan kimia atau benda tajam untuk menipiskan penebalan yang terjadi pada telapak kaki. Juga disarakan berhenti merokok, menggunakan cincin pada jari kaki serta menggunakan sepatu dengan tumit tinggi atau ujung sepatu runcing ke depan,” kata Yunir.

Selain itu juga sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kaki secara teratur setiap hari, mendeteksi jika terdapat luka atau sesuatu yang mencurigakan untuk dapat dilakukan pencegahan terhadap munculnya luka. “Dengan melakukan usaha-usaha ini maka risiko terjadinya amputasi dapat diturunkan sampai 85%,” pungkas Yunir.