Go4HealthyLife.com, Jakarta - Anissa (25) ketika hamil 2,5 bulan mengeluhkan mual dan muntah pada kehamilan pertamanya. Dia bahkan harus absen dari tempat kerja karena gangguan mual muntah tersebut membuatnya lemas. Setiap kali dia mencoba menelan makanan, tak berapa lama akan dimuntahkan. Saat menemui dokter kebidanan dan kandungan, Anissa dinyatakan mengalami hiperemesis gravidarum (HG).

“Saya kaget mengetahui hal itu. Awalnya saya kira hanya morning sickness biasa. Namun karena mual muntah berlangsung terus menerus, saya dan suami menemui dokter untuk mencari tahu masalahnya. Saya takut terjadi apa-apa dengan janin di dalam kandungan,” kisah Anissa yang kini kehamilannya menginjak usia 8 bulan dan dinyatakan sehat oleh dokter.

Hiperemesis gravidarum menurut definisi WebMD.com adalah gangguan langka yang ditandai dengan mual dan muntah persisten selama kehamilan yang mungkin memerlukan rawat inap. Imbas dari mual muntah tersebut, ibu hamil biasanya mengalami dehidrasi, kekurangan vitamin dan mineral, bahkan kehilangan lebih dari lima persen dari berat badan awal.

Sejatinya mual dan muntah pada kehamilan, yang lebih dikenal sebagai morning sickness, adalah kondisi umum dari kehamilan. Banyak peneliti percaya bahwa mual-muntah kehamilan harus dianggap sebagai suatu gejala yang dapat mempengaruhi fisik, mental dan sosial seorang ibu hamil. Tidak ada garis tertentu yang memisahkan hiperemesis gravidarum dari mual-muntah kehamilan, dalam kebanyakan kasus, individu yang terkena bisa saja mengalami gangguan mual-muntah kehamilan, mulai dari derajat ringan, sedang hingga hiperemesis gravidarum.

Pada sebagian kehamilan, mual atau muntah merupakan kondisi yang tidak dapat dihindari. Mual dapat terjadi karena meningkatnya hormon estrogen, reaksi imunologik serta faktor psikologik pada ibu hamil akan mengakibatkan janin dan ibu hamil kekurangan gizi jika tidak ditangani dengan baik.

Hiperemesis gravidarum bukanlah upaya tubuh untuk menolak bayi seperti yang dipikirkan sebagian orang. Mayoritas wanita hamil mengalami beberapa jenis morning sickness (70 - 80%), dan sekitar 1% dari semua kehamilan akan mengalami morning sickness yang ekstrem yang disebut hiperemesis gravidarum. Diyakini bahwa mual disebabkan oleh peningkatan kadar hormon, namun, penyebab mutlak masih belum diketahui. 

Menurut dr Prima Progestian, SpOG, spesialis kebidanan dan kandungan di Brawijaya Women & Children Hospital, rasa mual pada ibu hamil dapat terjadi pada trimester awal kehamilan yaitu 0 sampai 12 minggu.

Beberapa hormon yang meningkat seperti estrogen, progesteron, dan HCG (human chorionic gonadotropin/hormon yang terbentuk di masa kehamilan) dituding menjadi penyebab mual dan muntah selama kehamilan ini. Dari berbagai teori tersebut, progesteron dituding sebagai penyebab utama.  Progesteron tersebut berfungsi mempertahankan kehamilan, dan progesteron ini menyebabkan relaksasi otot polos, lambung dan usus.

"Tidak semua ibu hamil mengalami mual, ada yang tidak merasakan apapun selama hamil, ada juga yang merasa mual bahkan ada yang merasa sangat mual dan muntah setiap saat sehingga memerlukan pengobatan, misalnya pada kasus hiperemesis gravidarum," ujar Prima di sela-sela peluncuran Anmum Materna varian baru rasa vanilla mango di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Prima, tanda-tanda mual muntah yang menjurus ke hiperemesis gravidarum antara lain:
- Berat badan ibu hamil menurun 2,5-5 kg atau lebih selama trimester pertama.
- Tidak dapat menelan makanan atau minuman selama 24 jam. Dalam artian, makan lalu muntah sehingga tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuh.
-  Urin yang dikeluarkan ibu hamil memiliki warna kuning pekat. Kondisi ini juga bisa terjadi jika si ibu tidak buang air kecil selama 6 jam terakhir.
-  Frekuensi muntah terjadi sangat sering, bahkan bisa setiap jam atau lebih dalam sehari.
-  Merasakan mual yang sangat hebat sehingga sering muntah, terutama saat makan.

Sedangkan Americanpregnancy.org mencatat tanda dan gejala hipemeresis gravidarum antara lain mual dan muntah parah, perut menolak makanan, berat badan turun 5% atau lebih dari berat badan sebelum hamil, penurunan buang air kecil, dehidrasi, sakit kepala, kebingungan, jaundice hingga pingsan.



Prima menegaskan, keadaan mual yang sudah berlebihan dapat mengakibatkan kurangnya asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh sang ibu yang dapat mempengaruhi perkembangan janin yang dikandungnya. “Untuk itu, penting menambahkan nutrisi dengan rasa yang disukai ibu hamil, tidak bikin eneg, dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kondisi hiperemesis gravidarum ringan,” jelas Prima.

Hal itu dikuatkan oleh Americanpregnancy.org yang menyatakan untuk kasus ringan hiperemesis gravidarum, dapat dirawat  dengan perubahan diet/pola makan, istirahat dan antasida. Sedangkan untuk kasus yang lebih parah sering kali memerlukan perawatan di rumah sakit sehingga ibu dapat menerima cairan dan nutrisi melalui infus intravena.

“Untuk menentukan hiperemesis gravidarum membutuhkan bantuan obat tentu dokter. Sama sekali tak disarankan ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum mengonsumsi obat untuk memecahkan masalah ini tanpa konsultasi dokter terlebih dahulu,” ulas Prima.

Bagaimana membedakan antara morning sickness dan hiperemesis gravidarum? Americanpregnancy.org memberika panduan cara membedakan morning sickness dan hiperemesis gravidarum, yaitu:

Morning sickness:
- Mual kadang disertai muntah
- Mual yang reda pada 12 minggu
- Muntah yang tidak menyebabkan dehidrasi yang parah
- Muntah yang memungkinkan Anda masih bisa menyimpan makanan dalam lambung.

Hiperemesis gravidarum:
- Mual disertai dengan muntah-muntah hebat
- Mual yang tidak mereda
- Muntah yang menyebabkan dehidrasi berat
-  Muntah yang tidak memungkinkan Anda untuk menyimpan makanan apapun di dalam lambung.

Perawatan untuk Hiperemesis Gravidarum

Menurut Babyzone.com, untuk kasus hiperemesis gravidarum parah, perawatan di rumah sakit mungkin diperlukan. Perawatan rumah sakit dapat mencakup beberapa atau semua hal berikut:
• Pemberian cairan infus, untuk mengembalikan hidrasi, elektrolit, vitamin dan nutrisi
• Tabung makan yang berfungsi mengembalikan nutrisi melalui pipa melewati hidung dan perut, hingga penggunaan obat yang diresepkan dokter 

Ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum merespons secara berbeda terhadap berbagai pengobatan, sehingga tidak ada pengobatan efektif tunggal untuk semua penderita. Namun ada beberapa perawatan untuk kasus ini, biasanya dilakukan dalam urutan sebagai berikut:

1. Perubahan diet pada hiperemesis gravidarum
• Konsumsi camilan lebih sering untuk menghindari perut kosong. Makan biskuit kering, roti, atau sereal sebelum turun dari tempat tidur atau saat merasa mual.
• Minum banyak air di antara waktu makan tetapi tidak banyak selama makan. Tunggu minimal 30 menit setelah makan sebelum minum cairan.
• Makan makanan yang mudah dicerna seperti roti bakar, cracker, bagel, sereal, nasi, pasta, dan kentang.
• Makanlah protein tanpa lemak seperti ayam, kalkun atau produk susu rendah lemak sebagai protein dapat membantu mengurangi mual. Cobalah mengonsumsi protein dengan makanan ringan juga.
• Hindari makanan berminyak atau pedas jika mereka membawa pada mual, dan menghindari makanan yang berbau kuat.

2. Membuat jurnal
Tuliskan dalam diari kapan muntah terjadi dan apa yang memicu hal itu, seperti makanan tertentu, bau, kegiatan, atau tempat. Informasi ini dapat membantu Anda dan dokter Anda.

3. Perawatan medis
• Jika terjadi dehidrasi berat, berikan cairan intravena (infus) dapat diberikan di klinik, rumah sakit atau di rumah.
• Banyak dokter lebih memilih untuk tidak memberikan obat-obatan selama kehamilan, namun ketika seorang wanita memiliki risiko HG menggunakan obat-obatan tertentu yang dipandang aman untuk kehamilan lebih baik daripada risiko malnutrisi dan penurunan berat badan yang signifikan.



Lantas, bagaimana untuk ibu hamil yang tak mengalami hiperemesis gravidarum, namun justru harus berjuang dengan morning sickness? Goodtoknow.com berbagi tip agar ibu merasa lebih nyaman dalam menjalani kehamilan:

1. Makanlah dalam jumlah kecil, namun sering.

2. Minumlah cukup air mineral atau jus, dan hindari meminum minuman yang mudah membuat Anda merasa dehidrasi, seperti kopi atau alkohol.

3. Jangan tunda rasa lapar. Kalau malam hari Anda merasa lapar, makanlah biskuit atau kue kecil untuk camilan. Ingat, ibu hamil tidak disarankan berdiet. Jadi selama hamil, Anda tidak perlu takut ngemil di malam hari jika lapar, sepanjang makanan yang dikonsumsi aman dan sehat.

4. Cukup beristirahat akan membuat stamina tubuh Anda terjaga, dan otomatis akan menekan perasaan mual. Jadi, usahakan jangan memforsir diri Anda selama hamil.

5. Konsumsilah suplemen vitamin B6 dan B12, karena baik untuk menjaga kesehatan tubuh ibu hamil. Sebelum mengonsumsi suplemen, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.

6. Udara segar akan membuat Anda merasa lebih baik, jadi saat waktu luang atau akhir pekan, sebaiknya pergilah ke tempat-tempat yang berudara sejuk untuk membuat Anda lebih santai.

Baik morning sickness ataupun hiperemesis gravidarum tidak dapat dicegah, tetapi Anda dapat meminimalkan efeknya dengan mengetahui cara mengelolanya. Selamat menikmati kehamilan sehat ya...