Go4HealthyLife.com - Ways to healthy living through CARE & CURE - http://www.go4healthylife.com
Susu Mampu Kurangi Frekuensi Nyeri Encok
http://www.go4healthylife.com/articles/5016/1/Susu-Mampu-Kurangi-Frekuensi-Nyeri-Encok/Page1.html
 Redaksi Go4HealthyLife.com
 6 Februari 2012
 
Sebuah penelitian yang baru saja diterbitkan di British Medical Journal Annals of the Rheumatic Diseases  menunjukkan bahwa susu tanpa lemak yang diperkaya dengan dua bahan alami yang terdapat di produk susu dapat mengurangi frekuensi dan intensitas nyeri encok (arthritis gout).

Go4HealthyLife.com, Jakarta - Sebuah penelitian yang baru saja diterbitkan di British Medical Journal Annals of the Rheumatic Diseases  menunjukkan bahwa susu tanpa lemak yang diperkaya dengan dua bahan alami yang terdapat di produk susu dapat mengurangi frekuensi dan intensitas nyeri encok (arthritis gout).

Penelitian ini melibatkan divisi Premium Ingredients Fonterra, yang telah mematenkan kedua bahan terkait encok, yaitu glycomacropeptide (GMP) dan lemak susu G600 (G600) dan kini tengah mempelajari peluang untuk mendistribusikan solusi baru ini ke para penderita encok di seluruh dunia.

Ini merupakan uji klinis pertama yang mempelajari pengaruh intervensi diet terhadap encok, dan dilaksanakan oleh Dr Nicola Dalbeth dari University of Auckland, Bone and Joint Research Group serta para peneliti dari Fonterra Research Centre and the University Department of Medicine.

Dr Dalbeth menyatakan hasil penelitian ini merupakan kabar baik bagi jutaan penderita encok di seluruh dunia. Encok sendiri merupakan bentuk pembengkakan radang sendi yang paling lazim ditemui dan diasosiasikan dengan nyeri sendi yang luar biasa. “Meski umumnya encok dianggap sebagai penyakit nutrisi, sampai saat ini tak ada uji klinis yang menunjukkan pengaruh positif yang ditimbulkan dari intervensi diet,” ungkapnya.

“Jika dikembangkan lebih jauh, temuan ini berpotensi memberikan pasien kendali lebih terhadap penyakit mereka, serta dapat menjadi sarana yang sangat bermanfaat untuk penanganan encok yang sampai saat ini masih terus dilakukan,” ujar Dalbeth.

Prevalensi encok di tingkat dunia tampaknya terus meningkat dengan estimasi terkini bahwa prevalensi encok di Selandia Baru sekitar 2,9 persen dari seluruh populasi , sedangkan prevalensi di Australia dilaporkan sebesar 1,4 persen . Sebanyak 8,3 juta orang Amerika (4 persen) kini menderita encok  sedangkan Inggris dan Jerman memiliki prevalensi 1,4 persen, sementara studi komparatif di China menunjukkan peningkatan prevalensi dari 0,36 persen di tahun 2000, hingga mencapai lebih dari 1 persen pada 2006.

Di Indonesia, walaupun nilai prevalensi encok masih belum diketahui secara pasti, namun sebuah penelitan terpisah dan independen yang dilakukan oleh Zakiah Aris K. et al pada 2004 menunjukkan adanya prevelansi yang cukup signifikan di wilayah Rawasari, Jakarta Timur. Berdasarkan data dari penelitian tersebut, di daerah Kelurahan Rawasari ada sekitar 63,6 persen penduduk yang memiliki perilaku berisiko encok.

Joanna Mobley, Group Director of Marketing, Innovation and Ventures dari Fonterra Premium Ingredients menyatakan bahwa perusahaan sangat gembira atas temuan tersebut dan atas potensinya untuk menyediakan intervensi diet bagi para penderita encok. “Berdasarkan statistik, tingkat prevalensi lebih dari 1 persen di China sepertinya kecil, namun sebenarnya menunjukkan lebih dari 15 juta penderita di satu negara itu saja.”

“Kami memahami bahwa encok kian mewabah di populasi usia dewasa di seluruh dunia, karena itu kami berharap temuan ini dapat memainkan peranan penting dalam strategi inovasi kami untuk mendukung proses penuaan yang sehat melalui nutrisi yang lebih sempurna,” kata Mobley.

Grup sampel yang terdiri dari 120 penderita encok diikutsertakan dalam studi tiga bulan yang menganalisis frekuensi dan intensitas nyeri encok. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi susu tanpa lemak mengalami penurunan nyeri encok dibandingkan dua kelompok kendali, dan mengalami perbaikan yang lebih baik terkait intensitas nyeri.

Penelitian ini didanai oleh LactoPharma, perusahaan patungan antara Fonterra dan University of Auckland, yang didanai oleh Fonterra and the Foundation for Research, Science and Technology.

Studi dilakukan secara acak, buta ganda dan terkontrol yang dilakukan selama tiga bulan terhadap produk susu untuk pencegahan nyeri encok. 120 pasien yang berulang kali mengalami nyeri encok dibagi secara acak ke tiga kelompok: bubuk laktosa; bubuk susu tanpa lemak; dan bubuk susu tanpa lemak yang diperkaya dengan glycomacropeptide (GMP) dan lemak susu G600 (G600). Tiap jenis bubuk dicampur dengan 250 ml air sebagai vanilla shake dan diminum tiap hari.

Sebanyak 102 pasien menyelesaikan studi tiga bulan tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang minum susu tanpa lemak yang telah diperkaya dengan bahan tertentu tersebut mengalami penurunan nyeri encok dibandingkan dua kelompok lain. Mereka juga mengalami kemajuan besar dalam hal berkurangnya rasa sakit dan jumlah asam urat dalam air seni dibandingkan dua kelompok lain. Hal ini juga sejalan dengan kecenderungan menurunnya jumlah sendi yang meradang.