Go4HealthyLife.com, Jakarta – Wahai para ibu hamil yang sering mengkonsumsi antidepresan, jangan kaget jika melihat bayi Anda terlambat berjalan, karena ini kemungkinan besar sebagai dampak dari obat penghilang depresi itu.

Namun, keterlambatan berjalan bagi si bayi hingga waktu sebulan itu masih berada dalam kisaran normal. "Obat antidepresan ini berdampak pada otak janin di dalam kandungan," tutur Dr. Lars Henning Pedersen, yang melakukan penelitian dampak antidepresan terhadap perkembangan bayi.

Pedersen, yang bertugas di Aarhus University Hospital, Denmark, ini menegaskan bahwa obat penghilang depresi ini kemungkinan tak terlalu berpengaruh terhadap bayi secara keseluruhan.
  
Tetapi meskipun begitu, ada baiknya para ibu hamil untuk tak terlalu bergantung pada antidepresan untuk menghilangkan depresi mereka. Saat ini, dari enam wanita hamil di Amerika Serikat, satu orang pasti terdiagnosis mengalami depresi, dan kebanyakan dari mereka ditangani dengan antidepresan.

Kimia otak yang disasar oleh obat-obat antidepresan ini, yang disebut serotonin, berperan dalam menjalankan fungsi-fungsi biologis, mulai dari suasana hati (mood), perhatian, nafsu makan dan perkembangan otak pada umumnya.

Antidepresan tugasnya adalah meningkatkan kadar serotonin untuk membantu menghilangkan gejala depresi, namun belum diketahui pasti bagaimana janin bereaksi terhadap obat-obat ini, atau seberapa lama dampak ini akan hilang. Dalam uji laboratorium, para ilmuwan telah menemukan bahwa antidepresan yang diberikan pada tikus yang hamil telah menekan perilaku eksploratif alami anak keturunannya saat dewasa.

Dalam studi yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics, Pedersen bersama koleganya meneliti database dari lebih dari 100.000 kehamilan di seantero Denmark.

Mereka kemudian mengidentifikasi sekitar 400 wanita hamil yang mengkonsumsi antidepresan selama hamil dan juga 500 wanita lainnya yang tak menggunakan obat ini meski mereka mengalami depresi. Berdasarkan laporan dari para wanita hamil itu, tim peneliti kemudian membandingkan seberapa banyak anak-anak di masing-masing kelompok yang mengalami keterlambatan perkembangan seperti duduk tanpa dipegang atau mencari arah suara.

Dalam enam bulan, perbadaan yang terjadi pada bayi di dua kelompok itu hanyalah pada pergerakan secara umum. Untuk bayi yang ibunya mengkonsumsi antidepresan, pada semester kedua dan ketiga, 26% dapat duduk sendiri, sementara yang ibunya tak mengkonsumsi antidepresan, terdapat 30% bayi yang dapat duduk sendiri.

Bayi-bayi yang ibunya mengkonsumsi antidepresan rata-rata memiliki waktu 16 hari lebih lama untuk belajar duduk. Hal itu setelah disesuaikan dengan beberapa faktor, seperti usia ibu, pemberian ASI dan faktor lainnya. Untuk kemampuan berjalan, bayi-bayi yang ibunya pengguna antidepresan mengalami keterlambatan berjalan selama sekitar 29 hari.        

Dalam 19 bulan, perbedaan pergerakan bayi itu telah terkikis, meski anak-anak yang ibunya mengonsumsi antidepresan kurang dapat menguasai keadaan tanpa meminta perhatian.

Meski hasil temuan itu makin menguatkan bahwa penggunaan antidepresan pada ibu hamil akan mempengaruhi bayi mereka, seperti sensitivitas merasakan sakit yang meningkat dan juga risiko mengalami masalah jantung, tapi para ahli bilang bahwa wanita hamil yang mengalami depresi tak harus menghindari obat-obat ini.

Karena depresi yang tak tertangani dengan sendirinya akan memicu masalah kesehatan pada bayi, seperti iritabilitas dan kurangnya kemampuan dalam hal memperhatikan atau mendengarkan perintah.

Demi kebaikan bagi si ibu dan anak, sebaiknya berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum memutuskan untuk mengonsumsi antidepresan bagi ibu hamil yang mengalami depresi.