Go4HealthyLife.com, Jakarta - Penyakit diabetes mellitus (DM) atau yang dikenal dengan nama kencing manis telah menjadi pandemi global yang mengancam kesehatan dunia secara serius. Tidak hanya karena efek komplikasinya yang menurunkan kualitas hidup penderita, tetapi dampak ekonomi kenaikan biaya pelayanan kesehatan nasional.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan angka kejadian diabetes mellitus di Indonesia mendekati 4,6%. Yang mencemaskan, angka kejadian diabetes di negara berkembang paling banyak menyerang masyarakat yang berada di usia produktif, yaitu sekitar 45 sampai 65 tahun.

Prof. Dr. dr. Sri Hartini KS Kariadi SpPD-KEMD, spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Hasan Sadikin mengatakan angka kematian diabetes lebih besar dari kematian HIV/AIDS di tingkat global. Sungguh bukan sebuah ancaman serius.

Diabetes merupakan penyakit seumur hidup sehingga dapat dimengerti betapa besar biaya yang harus ditanggung oleh pasien, keluarga, maupun negara. Namun dengan pengendalian yang baik, segala beban tersebut dapat dikurangi bahkan mungkin dapat dihindarkan, oleh karena itu diabetes harus dapat dikelola seoptimal mungkin.

Untuk informasi saja, pada 2011 total anggaran kesehatan yang dihabiskan Amerika Serikat untuk diabetes, adalah sekitar US$ 174 miliar dari total populasi penduduk dengan diabetes 25,8 juta jiwa. Sebuah jumlah yang mencengangkan untuk anggaran satu jenis penyakit.

Walaupun diabetes dapat dikelola dengan perawatan yang mendetail namun tidak dapat dimungkiri bahwa perawatan penyakit ini cukup rumit dan mahal. “Perawatan yang diperlukan, dua yang paling utama adalah pengobatan dan cek gula darah yang rutin,” ujar Prof Sri Hartini dalam temu media yang diselenggarakan oleh PT Roche Indonesia di Jakarta, baru-baru ini.

Prof Sri menambahkan penyandang diabetes mesti mengontrol kadar gula darahnya agar tetap mendekati normal. Hal ini penting agar dapat mengurangi risiko masalah pada jantung, mata, ginjal dan saraf, sehingga tak ada komplikasi yang terjadi pada pasien diabetes.

Mengontrol gula darah mandiri, kata Prof Sri, merupakan salah satu langkah penting. Sayangnya, hal ini belum banyak dipahami penyang diabetes.  Berbagai hal yang menjadi penghalang penyandang diabetes melakukan tes gula darah mandiri, antara lain kurangnya kesadaran memantau gula darah mandiri, hambatan biaya, cara pemakaian, pengetahuan dalam interpretasi hasil tes dan penggunaan alat yang tak akurat yang bisa menyesatkan pengguna.

Sejatinya aktivitas pemantauan gula darah mandiri, atau yang sering dikenal sebutan Self Monitoring Blood Glucose (SMBG) sangatlah praktis dan membantu pasien diabetes mengelola tren gula darahnya sehari-hari di rumah.

Dikatakan Prof Sri, SMBG yang dilakukan dengan benar dapat mengurangi biaya pengobatan diabetes hingga 32 persen dan menurunkan kematian hingga 52 persen. “Dengan pengendalian yang baik, beban biaya dapat dikurangi,bahkan dihindari. Pemantauan gula darah yang rutin menjadi kuncinya,” tandas Prof Sri.

Salah satu metode yang dapat menekan biaya pengobatan diabetes dengan menggunakan alat tes gula darah mandiri, yang juga dikenal dengan nama glukosa meter. “Dengan melakukan cek gula darah yang rutin, pasien dapat lebih mengerti mengenai kondisi tubuhnya dan dokter yang memantau dapat memberikan perawatan yang lebih efektif dan efisien,” imbuh Prof Sri.

Penyandang diabetes sudah seyogyanya memiliki alat tes gula darah sendiri. Metode ini jauh lebih cepat dibandingkan dengan pemeriksaan laboratorium, hanya membutuhkan waktu 5 detik untuk mendapat pembacaan gula darah. Pemeriksaan dilakukan sebelum makan atau 2 jam sesudah makan.

Pemantauan secara rutin bagi pasien diabetes dapat membantu pasien merasa lebih baik dan tetap sehat. “Dengan pemeriksaan rutin, bisa menjaga kadar gula darah mendekati normal sehingga dapat mengurangi risiko masalah pada jantung, mata, ginjal,dan saraf, komplikasi yang sering terjadi pada pasien diabetes,” ujar Prof Sri.

Prof Sri menunjukkan contoh hitungan biaya yang harus dikeluarkan untuk penyakit diabetes yang tidak terkontrol. Untuk cuci darah misalnya mencapai kira-kira Rp 115 juta selama setahun, dengan asumsi setiap bulan 3 hingga 4 kali selama setahun dengan biaya sekali cuci darah Rp 800 ribu. “Untuk lima tahun saja menghabiskan biaya lebih dari Rp 500 juta,” ujar Prof Sri.

Dalam kesempatan yang sama Business Head dari Unit Bisnis Diabetes Care PT. Roche Indonesia, Magdalena Vandry mengatakan pasien diabetes yang melakukan pemantauan gula darah mandiri secara rutin dengan Accu-Chek hanya mengeluarkan biaya kurang lebih Rp 700 ribu per bulan dengan melakukan tes 8 kali selama satu bulan. Dibandingkan dengan biaya cuci darah (hemodialisis) yang harus dirogoh dari kocek pasien dan keluarganya, biaya pemantauan gula darah itu hanya mencakup 1 persen biaya. Betapa banyak dana yang bisa dihemat dengan memeriksa kadar gula darah mandiri.