Go4HealthyLife.com - Ways to healthy living through CARE & CURE - http://www.go4healthylife.com
Waspadai Ancaman Asma dari Botol Plastik
http://www.go4healthylife.com/articles/607/1/Waspadai-Ancaman-Asma-dari-Botol-Plastik-/Page1.html
 Redaksi Go4HealthyLife.com
 3 Januari 2012
 
Bukan salah bunda mengandung jika bayi yang dilahirkan ternyata mengalami gangguan pernapasan. Selidik punya selidik, ternyata bisphenol A (BPA) biang keladinya. Ya, bahan kimia inilah yang diyakini sebagai pemicu terjadinya asma.


Go4HealthyLife.com, Jakarta - Bukan salah bunda mengandung jika bayi yang dilahirkan ternyata mengalami gangguan pernapasan. Selidik punya selidik, ternyata bisphenol A (BPA) biang keladinya. Ya, bahan kimia inilah yang diyakini sebagai pemicu terjadinya asma.

Hal itu terkuak melalui sebuah penelitian terhadap tikus. Bayi tikus yang lahir dari ibu yang terpapar zat kimia yang dapat memicu asma alergis, akan mengalami gangguan pernapasan.      

Bisphenol A adalah zat kimia yang umum ditemukan pada botol plastik berbahan plastik polikarbonat dan juga pada kemasan makanan atau minuman terbuat dari aluminium. Adapun produksi dari za kimia ini dimulai sejak 40 tahun lalu, yaitu sebuah era yang dicatat para ahli terjadi peningkatan kasus asma.

Karena khawatir dengan bahaya yang ditimbulkan BPA, belum lama ini sejumlah lembaga kesehatan AS menjanjikan kucuran dana US$ 30 juta untuk dilakukan studi jangka pendek dan panjang guna mengklarifikasi dampak kesehatan dari BPA.

Tapi berdasarkan uji laboratorium, BPA memang telah menyebabkan masalah pada hewan percobaan dan pada manusia yang terpapar zat ini di lingkungan kerjanya.

Bahkan medio pekan lalu, Maryland menjadi negara bagian ketiga di AS yang menangani isu BPA ini, yaitu dengan menyetujui larangan penggunaan BPA pada cangkir atau botol yang digunakan anak-anak di bawah usia 4 tahun. Dua negara bagian lainnya yang melarang BPA adalah Minnesota dan Connecticut.

Meski bukti bahayanya BPA itu baru terlihat pada tikus, namun sejumlah ahli yakin bahwa temuan ini dapat menjadi semacam peringatan bagi manusia.

"Mereka menggunakan temuan ini yang mungkin dapat menjadi perkiraan yang masuk akal dalam kasus terpaparnya bayi oleh zat berbahaya ini, an zat ini sepertinya memiliki dampak terhadap sistem kekebalan tubuh atau sensitivitas pada asma," kata Dr. Steve Georas, ahli paru dan direktur Mary Parkes Center for Asthma, Allergy and Pulmonary Care di University of Rochester Medical Center, New York.

Sementara Dr. Erick Forno, asisten dosen pediatri di University of Miami Miller School of Medicine, menambahkan bahwa tikus yang diteliti adalah model yang dapat diterima untuk menyelidiki asma dan alergi, dan ini juga bisa menjadi model yang bagus untuk kasus yang sama pada manusia.  

Beberapa studi sebelumnya yang dilakukan oleh kelompok yang sama juga menyebutkan bahwa anak tikus yang lahir dari ibu yang terpapar BPA, sangat rentan mengalami asma alergis. Untuk studi terbaru ini, tim ilmuwan fokus pada dosis BPA yang dapat menyebabkan asma alergis.  

Tim ilmuwan meletakkan BPA dengan ukuran 0,1, 1 atau 10 mikrogram per milliliter di air minum tikus betina sebelum, selama dan setelah masa kehamilan. Ketika melahirkan, bayi-bayi tikus disuntik dengan ovalbumin untuk membuat mereka rentan terhadap asthma.

Tikus yang lahir dari ibu yang sudah terpapar 10 mikrogram BPA, mengalami masalah pernapasan, sementara tikus yang ibunya terpapar sedikit atau tidak sama sekali, tak mengalami gangguan pernapasan.

Sedangkan studi kedua menemukan bahwa anak tikus yang ibunya memiliki kandungan tinggi folat, yaitu vitamin B, selama kehamilan sepertinya akan mengalami asma pada usia 3 tahun. Jika kandungan folatnya terlalu rendah, dapat memicu kerusakan pembuluh saraf pada bayi.

Meski penelitian lanjutan masih diperlukan untuk membuktikan temuan itu pada manusia, namun dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa begitu besar pengaruh lingkungan terhadap janin di dalam kandungan, sehingga kita harus selalu berhati-hati menggunakan peralatan yang mengandung zat kimia berbahaya.