Go4HealthyLife.com, Jakarta - Perilaku seks menyimpang, seperti seks anal (melakukan hubungan seks melalui anal atau dubur), lebih banyak mendatangkan dampak negatif, khususnya bagi perempuan yang memiliki pasangan dengan hobi ‘main belakang’. Risiko terbesar yang dipikul akibat seks anal adalah kemungkinan terkena kanker anus.

Kanker anus, dikatakan Dr. Ari Fahrial Syam, spesialis penyakit dalam di RS Cipto Mangunkusumo, berbeda dengan kanker usus besar karena lebih jarang ditemukan. Kanker usus besar  merupakan penyakit kanker yang paling banyak ditemukan di masyarakat dan juga salah satu penyebab kematian terbanyak.

“Kanker anus sendiri terjadi pada 1,5 persen kanker saluran cerna.  Di Amerika kanker anus ini meningkat seiring dengan perilaku seksual yang terjadi di masyarakat baik pada laki-laki maupun perempuan,” ujarnya.

Gejala utama pasien dengan kanker anus adalah buang air besar (BAB) berdarah, nyeri di dubur/anus saat BAB, keluar lendir atau seperti jelly pada anus atau  rasa gatal pada anus.

Sementara kanker usus besar ditandai dengan BAB berdarah, gangguan pola BAB, bisa berupa diare kronik atau susah BAB atau adanya perubahan pola BAB yaitu kadang diare, atau malah sulit BAB.

Pasien dengan kanker usus besar  bisa saja datang dengan adanya benjolan. Namun terkadang pasien tidak mengeluhkan adanya benjolan, tetapi benjolan ditemukan saat dilakukan pemeriksaan.  “Pasien bisa saja datang ke rumah sakit karena pucat tanpa keluhan perdarahan.  Pada kanker anus, pasien merasakan sakit saat buang air besar atau terasa gatal di sekitar dubur,” ujar Ari.

Melalui pemeriksaan colok dubur, dokter dapat mengetahui apakah memang terdapat massa atau benjolan pada rektum atau sekitar anus  atau apakah saat itu pasien masih mengalami  BAB darah dengan ditandai adanya sarung tangan dengan sisa darah setelah dilakukan colok dubur.

Faktor risiko kanker anus termasuk juga kanker anorektal adalah  iritasi kronis pada dubur, infeksi kronis dengan virus human pappiloma  (HPV). “Infeksi HPV ini berhubungan dengan penyakit infeksi tertular melalui hubungan seks, riwayat tukar menukar pasangan  hubungan seks, riwayat kanker serviks atau vagina, penggunaan obat-obat penekan daya tahan tubuh (imunosupresi) dan perokok,” tandas Ari seraya menambahkan bahwa wanita lebih berisiko mengalami kanker anus dibandingkan pria. Namun demikian penyakit ini juga berisiko pada laki-laki dengan perilaku seks anal atau pasangan homoseksual.

Anal sex  akan  menyebabkan iritasi kronis pada dubur akibat perilaku seksual tersebut . Secara fungsi memang dubur hanya untuk mengeluarkan kotoran sehingga tidak siap jika sebagai tempat untuk melakukan hubungan seksual,” ujarnya.

Ari menandaskan bahwa seks anal bukan merupakan perilaku seksual yang aman. “Anal sex akan menyebabkan gangguan kesehatan yang ringan sampai berat berupa terjadinya kanker anus. Dengan kata lain, anal sex merupakan perilaku seks yang berisiko tinggi,” tandasnya.