Go4HealthyLife.com, Jakarta - Organ intim perempuan merupakan area yang unik, karena terdiri dari tiga saluran yang berdekatan yang saling mempengaruhi dan memungkinkan infeksi berpindah. Bentuknya yang tertutup membuat area intim cenderung lembab dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.

Selain itu, organ kelamin perempuan juga bersifat dinamis dengan pengeluaran cairan sangat dipengaruhi perubahan hormonal. "Di masa subur cairan yang keluar lebih banyak. Sedangkan di masa haid, akan keluar darah yang mengubah lingkungan mikro organ intim perempuan. Sehingga di masa haid inilah butuh perhatian khusus," ujar Dokter Susie Rendra, SpKK, dokter spesialis kulit dan kelamin dari RS Pondok Indah-Puri Indah Jakarta, seperti dilansir Hidupgaya.com .

Vagina memiliki flora normal yang menjaga keseimbangan area intim. Di kelamin dalam, tumbuh bakteri Lactobacillus yang memproduksi asam laktat dan membuat pH (tingkat keasaman) organ intim bersifat  asam (pH 4-4,5) memiliki fungsi perlindungan yang mencegah infeksi mikro patogen alias kuman yang merugikan. “Selain itu, pH asam ini juga mencegah area vagina  terkena iritasi,” ujar Susie.

Sebagai informasi, darah haid bersifat basa (7,3-7,4), yang berarti mengubah pH  normal kulit sehingga meningkatkan risiko iritasi. “Makin banyak darah yang kontak dengan kulit, maka makin besar risiko terjadinya iritasi kulit,” imbuh Susie seraya menambahkan darah haid juga menjadi media optimal bagi pertumbuhan kuman dan jamur, yang berperan meningkatkan risiko infeksi.

Untuk menjaga organ intim tetap sehat, coba lakukan langkah-langkah berikut:

- Gunakan pakaian dalam berbahan katun yang menyerap keringat di area intim untuk meminimalkan kelembaban.

- Hindari penggunaan antiseptik berlebihan, seperti douch atau sabun. Bau vagina itu khas, tidak boleh diutak atik menggunakan douch atau sabun karena hanya akan mengacaukan flora normal vagina yang bisa menimbulkan masalah.

- Gunakan sabun dengan pH asam, serta hindari menggunakan pewangi vagina.

- Pakailah pembalut dan pantyliner yang sesuai untuk kulit. Jika selama ini menggunakan pembalut namun merasa kurang cocok, jangan ragu untuk menggantinya. Pantyliner boleh saja dikenakan saat keluar cairan banyak, misalnya di masa subur.