Go4HealthyLife.com - Ways to healthy living through CARE & CURE - http://www.go4healthylife.com
Pria Sejati Tak Alami Disfungsi Ereksi? Salah!
http://www.go4healthylife.com/articles/656/1/Pria-Sejati-Tak-Alami-Disfungsi-Ereksi-Salah/Page1.html
 Redaksi Go4HealthyLife.com
 4 Februari 2012
 
Seiring perjalanan waktu, pria mulai terbuka dan berdiskusi mengenai disfungsi ereksi, untuk selanjutnya mencari solusi terapi pengobatannya. Mari kita cek apa saja mitos dan fakta soal kejantanan pria ini.

Go4HealthyLife.com, Jakarta - Sekalipun disfungsi ereksi (DE) dulu merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan, tetapi pria semakin mau berdiskusi mengenai hal ini dan mencari solusi terapi pengobatannya. Hal ini terkait dengan ketersediaan obat dan informasi yang akurat mengenai ereksi suboptimal dan pengobatannya.

Pria seringkali menerima informasi yang salah tentang persoalan disfungsi ereksi dan secara sembunyi mencari penyebab serta upaya penyembuhannya. Memahami kenyataan tentang DE adalah komponen penting dalam upaya menghilangkan hambatan untuk mencari kesembuhan. Mari kita ulik beberapa mitos yang terkait kondisi disfungsi ereksi yang disarikan dari AP SHOW Global Survey:

Mitos: Disfungsi ereksi  “berada di kepala”
Fakta: Sebelumnya dikenal sebagai “impoten”, DE merupakan topik yang tabu dibicarakan dan secara khusus merupakan kajian bidang psikologi. Sekalipun DE memiliki penyebab psikologis (misalnya: cemas, stres, perasaan bersalah tentang seksual, kelelahan, masalah dalam hubungan, perasaan terhadap partner/pasangan, depresi), kini diketahui sekitar 80% permasalahan memiliki sebab yang berhubungan dengan masalah fisik.

Mitos: Disfungsi ereksi adalah problem fisik semata
Fakta: Disfungsi ereksi adalah masalah kompleks, gabungan antara kognitif, perilaku, emosi, sosial dan komponen fisik. Penyebab utama DE adalah fisik atau psikologis. Dalam kaitan dengan fisik, ereksi adalah mekanisme hidrolik yang didasari pada kondisi adanya aliran deras darah memasuki dan bertahan di penis. Proses ini dapat terhambat karena berbagai hal (kondisi pembuluh darah, efek alkohol yang berlebihan, efek samping pengobatan, diabetes, fungsi saraf yang abnormal, kekurangan hormon, operasi pengangkatan prostat karena kanker, merokok), yang sesungguhnya bisa diobati. DE dengan kasus psikologis hanya sekitar 20%.

Mitos: Kesulitan ereksi akan berlalu
Fakta: DE adalah persoalan medis dengan solusi pengobatan. Sama halnya dengan terapi yang harus kita terima untuk mengobati kondisi seperti tekanan darah tinggi, kita juga harus mengobati DE. Bila dibiarkan tidak diobati, DE dapat menimbulkan konsekuensi psikologis, termasuk perasaan malu, kehilangan atau minder. Lebih jauh lagi, disfungsi ereksi yang terjadi di setiap tahap usia dapat diobati apapun penyebabnya, fisik atau psikis.

Mitos: Disfungsi ereksi tidak berpengaruh pada kesehatan dan mulai belajar menerima kondisi ini
Fakta: Disfungsi ereksi bisa menjadi sumber stress emosi yang mengarah pada minder, kehilangan atau menurunkan rasa percaya diri, kecemasan dan depresi. Sayangnya, rasa malu dan keengganan untuk berdiskusi mengenai kesehatan seksual secara terbuka seringkali dijumpai dalam kasus disfungsi ereksi yang tidak terdiagnosis dan terobati. Lebih jauh lagi, kesulitan ereksi, terutama DE terkait dengan kasus penyakit yang mungkin saja berbahaya bila tidak diobati. Sehingga penting bagi pria untuk mencari bantuan kesehatan bila mengalami masalah disfungsi ereksi.

Mitos: Disfungsi ereksi hanya mempengaruhi pria
Fakta: Jika DE tidak diatasi dengan seksama, partner/pasangan dalam berhubungan juga akan merasakannya. Kecenderungan untuk menghindari kontak seksual seringkali menyebabkan partner merasa tidak lagi dicintai, tidak diinginkan dan tidak menarik lagi. Kegagalan dalam mengomunikasikan atau mengetahui permasalahan bisa mengakibatkan depresi, kecemasan dan kurangnya rasa kepercayaan diri baik pada pria maupun partnernya.

Mitos: Pria harus mengunjungi dokter berulang kali sebelum akhirnya memulai terapi
Fakta: Dalam beberapa kasus, konsultasi tunggal mungkin merupakan hal yang terjadi pada pria yang langsung memulai terapi atas kasus Disfungsi Ereksi yang dialaminya.

Mitos: Tidak ada gunanya mencari pengobatan karena disfungsi ereksi tidak mudah diobati
Fakta: Pada sebagian besar kasus, DE bisa secara sukses diobati. Karena itu penting untuk para pria mencari pertolongan dokter sehingga mereka bisa menolong diri sendiri, pasangan/partner dan menyelamatkan hubungan dari kegagalan.

Mitos: Mencari pertolongan untuk kesulitan ereksi meliputi tes yang memalukan dan tidak nyaman.
Fakta: Beberapa pria menemui kesulitan untuk berdiskusi tentang persoalan yang dihadapi, terutama permasalahan yang terkait kesehatan seksual. Kesulitan ereksi, berhubungan kuat dengan persoalan budaya atas potensi, sukses dan kejantanan, yang seringkali dilingkungi oleh budaya diam. Meskipun seringkali memalukan untuk pria membicarakan masalah seksual dengan dokternya, mencari pertolongan untuk DE bisa cukup bermanfaat. Dokter biasanya melaksanakan sejarah kesehatan seiring sejarah seksual, dan akan mempertanyakan beberapa hal terkait gaya hidup. Hanya beberapa pemeriksaan standar kesehatan yang biasanya dibutuhkan, termasuk mengambil darah. Tes laboratorium pada contoh darah dan urin akan membantu mengidentifikasi beberapa kasus medis yang mungkin membutuhkan terapi.

Mitos: Kesulitan ereksi adalah hilangnya ketertarikan seks, atau kehilangan tenaga atau mandul
Fakta: Sebagian pria dengan kesulitan ereksi masih memiliki gairah dan keinginan untuk mendapat orgasme dan mengalami ejakulasi cairan semen. Kesulitan ereksi terkait dengan kemampuan membuat atau mempertahankan ereksi dan tidak berarti kehilangan keinginan dalam seksual atau menjadi mandul. Mendapat kesulitan ereksi tidak berhubungan dengan kekuatan, kejantanan atau keinginan dari sang pria.

Mitos: Pria selalu ingin, dan selalu siap untuk melakukan hubungan seksual
Fakta: Bahwa pria selalu siap, mampu dan bisa melakukan hubungan seksual tidak sesederhana tampaknya. Dalam kehidupan nyata, kelelahan fisik atau berpikir keras mengenai pekerjaan dan keluarga bisa mempengaruhi gairah pria dan kegiatan seksualnya. Berada dalam kerangka pikir yang tepat adalah penting dalam stimulasi respon seksual pada pria.

Mitos: “Pria sejati” tidak mengalami kesulitan ereksi
Fakta: Banyak pria pada satu waktu dalam kehidupan mereka, akan mengalami kesulitan ereksi atau mempertahankannya. Hal ini dapat muncul seiring pertambahan usia, atau ras/etnis, perilaku budaya dan kebiasaan serta keyakinannya. Sesekali memiliki kesulitan mencapai atau mempertahankan ereksi bukan merupakan masalah. Tetapi jika persoalan ini terus berlanjut, maka akan mempengaruhi hubungan pribadi dan menjadi masalah bersama.

Mitos: Kesulitan ereksi adalah masalah pribadi
Fakta: DE sesungguhnya sering terjadi pada siapa saja. Menurut American Medical Association, 10% dari pria mengalami disfungsi ereksi yang menetap. Sebagai tambahan, ada sejumlah pria yang tidak mengalami DE ternyata mengalami ereksi yang suboptimal.

Mitos: Disfungsi ereksi adalah lumrah dalam proses penuaan
Fakta: Disfungsi ereksi tidak harus dianggap sebagai hal yang normal untuk semua pria usia berapa pun. Sekalipun mungkin mereka yang lebih senior membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa terangsang dan mungkin membutuhkan stimulasi fisik, hal ini tidak berarti mengalami DE, yang berarti ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan cukup kekerasan ereksi untuk dapat melakukan aktivitas seksual yang memuaskan.

Sekalipun disfungsi ereksi kerap terjadi pada pria usia tua dibandingkan dengan mereka yang muda, tetapi bukan berarti DE adalah proses dari penuaan. Demikianpun DE juga kerap terjadi pada mereka yang berusia muda. Perubahan gaya hidup, seperti berhenti merokok, berolahraga secara teratur, menghindari konsumsi alkohol yang berlebihan, dan berada dalam pengawasan penyakit kronis seperti gagal ginjal, penyakit jantung atau diabetes dapat menurunkan risiko pria mengalami DE.