Go4HealthyLife.com, Jakarta - Jika olahraga atau latihan rutin seperti jogging bagus buat jantung, lalu apakah latihan berat untuk persiapan maraton memiliki manfaat lebih baik lagi?  

Ternyata tak sepenuhnya benar, malah sebaliknya olahraga berat berpotensi membuat arteri pada jantung mengalami ketegangan atau kaku. Hal itu didasarkan pada hasil penelitian tim dokter Yunani, yang menemukan bahwa para pelari maraton memiliki risiko tinggi mengalami ketegangan paa arteri besar di jantung.

Menurut tim dokter itu, olahraga berat sebenarnya berbahaya bagi kesehatan jantung, karena aktivitas fisik intensitas tinggi ini tak hanya memicu pengerasan pada arteri, tapi juga berpotensi meningkatkan tekanan darah, serangan jantung dan bahkan kematian.      

"Data kami menyebutkan bahwa olahraga dapat memicu terjadinya hubungan timbal balik dari kondisi ketegangan arteri. Dengan kata lain, ketika Anda tidak berolahraga, Anda akan berisiko tinggi mengalami gangguan kardiovaskular, dan kondisi juga terjadi jika Anda berolahraga terlalu keras," kata ketua tim peneliti, Dr. Despina Kardara dari Athens Medical School, Hippokration Hospital, Yunani.

"Latihan jangka panjang untuk meningkatkan daya tahan umumnya bagus untuk kesehatan jantung, tapi sistem kardiovaskular ini mirip dengan mesin mobil sport. Jika Anda tak memakainya akan rusak, tapi jika Anda memakainya terlalu cepat dan terlalu lama, mesin mobil ini juga berpotensi terbakar," ujar Kardara.

Studi itu, yang dikatakan peneliti sebagai yang pertama yang menganalisis dampak jangka panjang dari latihan intensitas tinggi untuk meningkatkan daya tahan terhadap elastisitas arteri. Dari penelitian itu diketahui bahwa para pelari maraton pria (perempuan tak dilibatkan dalam studi ini) mengalami kekakuan signifikan pada aorta dibandingkan dengan mereka yang hanya melakukan latihan untuk rekreasi. 

Tim peneliti mengevaluasi tekanan darah dan elastisitas arteri pada 49 laki-laki sehat yang rutin olahraga atau latihan untuk persiapan maraton dan 46 laki-laki lainnya yang menjalani latihan bukan untuk membentuk daya tahan. Pelari maraton rata-rata mengalami peningkatan tekanan darah tinggi sistolik lebih tinggi dibandingkan dengan pelari non-maraton.

Dari situ dapat disimpulkan bahwa peningkatan tekanan darah tinggi itu terkait dengan kekakuan atau ketegangan yang terjadi pada arteri.

"Ini penting karena arteri yang kaku atau tegang dapat memicu tekanan darah tinggi dan juga membuat jantung lemah. Secara keseluruhan, kekakuan aortik ini merupakan indikasi penyakit kardiovaskular dan pengerasan arteri, serta menjadi penanda serangan jantung dan kematian yang terkait dengan kadiovaskular," ujar Kardara.