
Go4HealthyLife.com, Jakarta - Kehilangan sel batang otak adalah alasan mengapa anestesi (pembiusan) berulang dapat memicu masalah pada memori dan daya tangkap pelajaran pada anak-anak.
"Para ahli anestesi pediatri telah lama menduga anak-anak yang sering menjalani pembiusan selama beberapa tahun kemungkinan menderita gangguan belajar dan memori," kata penulis studi Klas Blomgren.
Tim peneliti dari University of Goteborg melakukan percobaan pada tikus dan anak tikus untuk mencari tahu apa yang terjadi pada sel-sel batang otak ketika terkena medan magnet yang kuat. Para peneliti menemukan bahwa medan magnet tidak berpengaruh pada tikus, tetapi jika berkali-kali menjalani pembiusan untuk pencitraan resonansi magnetik (MRI scan) memiliki dampak pada sel-sel batang otak.
"Kami menemukan bahwa pembiusan berulang dapat menghapus sebagian besar sel-sel batang dalam hippocampus, wilayah otak yang penting untuk memori. Sel batang dalam hippocampus dapat membentuk saraf dan sel-sel glial, dan pembentukan sel-sel saraf dianggap penting bagi fungsi ingatan kita," kata Blomgren.
Gangguan memori terkait dengan pembiusan yang terjadi pada tikus muda bertahan sampai dewasa, tetapi tidak terlihat pada hewan dewasa yang dibius. Ini mungkin karena sel-sel induk lebih sensitif dalam otak yang masih muda.
"Meskipun telah dilakukan berbagai upaya ekestensif, kami belum dapat memahami secara pasti apa yang terjadi ketika sel-sel induk telah terhapus. Kami tidak bisa melihat tanda-tanda peningkatan kematian sel, tetapi berspekulasi bahwa sel induk kehilangan kemampuan mereka untuk membelah," imbuh Blomgren dalam
Journal of Cerebral Blood Flow & Metabolism. Menurut para peneliti, aktivitas fisik dapat membantu membentuk sel-sel baru yang dapat meningkatkan daya ingat.