Go4HealthyLife.com, Jakarta - Jika ada pertanyaan mengapa kita gemuk dan makin gemuk? Kebanyakan orang akan menjawabnya dengan sederhana: Karena makan terlalu banyak dan terlalu sedikit olahraga.

Namun, peneliti obesitas dari University of Alabama di Birmingham, David B. Allison, Ph.D., mengatakan meski jawaban itu valid, tapi mungkin agak terlalu sederhana. Allison dan koleganya menyebutkan bahwa pertanyaan yang lebih relevan adalah: Mengapa kita makan terlalu banyak dan mengeluarkan energi terlalu sedikit? Dan seperti detektif, mereka telah menetapkan untuk mengidentifikasi tersangka, yang mungkin memberikan kontribusi pada epidemi obesitas.

Allison adalah penulis senior dari sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B, yang menyebutkan bahwa akar penyebab obesitas mungkin lebih lebih rumit daripada anggapan konvensional - ketersediaan pangan terlalu banyak, terlalu sedikit kesempatan berolahraga.

Untuk menjawab pertanyaan tentang mengapa kita gemuk dan bertambah gemuk, Allison mulai mencari lebih banyak bukti. Membutuhkan data mentah, ia melacak penelitian sebelumnya tentang mamalia, yang hidup dengan atau di sekitar manusia, yang telah berlangsung setidaknya satu dekade. Dia menemukan informasi, mengamati serangkaian data tentang 12 kelompok hewan. Membagi dalam populasi jantan dan betina, ia berakhir dengan 24 set data, yang berisi informasi mengenai lebih dari 20.000 binatang.

Hewan-hewan itu bervariasi. Beberapa adalah hewan penelitian laboratorium - monyet, simpanse dan hewan pengerat. Beberapa tikus liar tertangkap di lorong-lorong Baltimore. Sebuah rumah sakit hewan di New Jersey memberikan catatan tentang binatang peliharaan - anjing dan kucing. Ada satu konstan. Semua 24 set data hewan itu telah diamati penambahan berat badannya secara keseluruhan dari waktu ke waktu. Dua puluh tiga dari 24 telah diamati terjadi peningkatan persentase penderita obesitas dalam kelompok tersebut.

"Tapi tidak ada benang merah tunggal yang muncul dari keseluruhan 24 set data yang dapat menjelaskan penambahan berat badan," kata Allison.

"Hewan-hewan di beberapa set data mungkin punya akses ke makanan yang lebih banyak, tapi itu tidak terjadi di semua set data. Beberapa hewan mungkin kurang aktif, tetapi yang lain akan tetap pada tingkat aktivitas normal. Namun, mereka semua menunjukkan kenaikan berat badan secara keseluruhan. Konsistensi temuan ini terjadi di antara binatang yang hidup di lingkungan yang berbeda, termasuk beberapa di antaranya dengan diet sangat terkontrol dan telah terjadi terus-menerus selama puluhan tahun. Ini menunjukkan kemungkinan menarik bahwa peningkatan berat badan mungkin melibatkan beberapa faktor tak dikenal atau kurang dipahami," tandasnya.

Untuk menguak misteri ini, Allison dan Yann Klimentidis, Ph.D., yang juga salah satu penulis makalah itu, mengatakan para ilmuwan mulai untuk melihat alasan alternatif terhadap obesitas di luar dari apa yang selama ini diperkirakan karena peningkatan asupan makanan, dipicu terutama oleh ketersediaan, dan penurunan tingkat aktivitas, dipicu terutama oleh peralatan penghemat tenaga.

Allison dan koleganya itu menyebutkan tiga hal yang mungkin sebagai penyebab kegemukan:

    * Cahaya. Penelitian telah menunjukkan bahwa perubahan kecil dalam jumlah waktu yang dihabiskan di lingkungan terang atau gelap dapat mengubah kebiasaan makan. Allison mengatakan bahwa polusi cahaya yang kian meningkat di masyarakat industri mungkin memainkan peran terjadinya obesitas.
    * Virus. Infeksi adenovirus-36 dikaitkan dengan obesitas, dan adanya antibodi terhadap AD36 berkorelasi dengan obesitas pada manusia. Dapatkah AD36 atau zat menular lainnya akan berkontribusi terhadap obesitas dalam masyarakat?
    * Epigenetika. Modifikasi genetik yang dibawa oleh sejumlah isyarat lingkungan seperti stres, ketersediaan sumber daya atau perubahan iklim.

Intinya, kata penulis, adalah bahwa obesitas merupakan masalah yang kemungkinan besar memiliki banyak penyebab dan akan membutuhkan banyak solusi.

"Ketika mencari cara untuk memerangi obesitas pada manusia, kita harus lebih mengetahui semua alternatif yang mungkin menjadi penyebab obesitas," kata Klimentidis. "Jika kita dapat menemukan penyebab penambahan berat badan yang terlihat dalam subyek satwa kita, kita mungkin lebih mampu menerapkannya untuk mengatasi obesitas pada manusia."