Go4HealthyLife.com, Jakarta - Mungkin Anda pernah saksikan tayangan di televisi seorang anak yang menggunakan gelas yang diisi air untuk menciptakan irama musik saat pemain violin ‘kecelakaan’ karena senarnya putus saat tampil di acara pernikahan?

Anak laki-laki itu ‘menyelamatkan’ suasana pesta dengan cara ‘mengambil alih’ permainan menggunakan deretan gelas yang tersaji di pesta pernikahan itu. Kemampuan memecahkan masalah (problem solving) anak laki-laki yang berusia 5 tahunan itu tentu mengundang decak kagum.

Setelah dirunut, ternyata sang ibu secara teratur membimbingnya untuk mengenal irama musik melalui piano, bahkan mengajari mencari alternatif irama, seperti suara gelas saat diketuk untuk menghasilkan bunyi-bunyian unik. Saat anak lain asyik bermain games, si anak laki-laki ini tekun berlatih dengan konsentrasi penuh. Hasilnya terbukti, saat kondisi ‘genting’ di pesta pernikahan, ingatannya mendorongnya memecahkan masalah dengan dentingan gelas menggantikan suara biola. Cemerlang.

Ibu mana pun tentu bangga memiliki buah hati yang  tidak saja cerdas, namun juga mampu mengaplikasikan kecerdasannya dengan cara yang tepat.

Memang, kemampuan mempertahankan konsentrasi, memori, dan pemecahan masalah merupakan tiga hal penting untuk kesuksesan dan prestasi anak, dan tak bisa didapatkan secara instan. Untuk mendapatkannya, anak memerlukan nutrisi tepat dan stimulasi positif secara berkala.

Hal ini juga dialami presenter dan aktris Maudy Kusnaedy bersama anaknya. “Kejadiannya lucu dan agak memalukan sebenarnya. Saya membawa Eddy makan di luar, dan membawa bekal. Namun saat hendak makan, bekal itu sulit dibuka meskipun segala macam cara dibuka. Sementara orang lain melihat kami dengan tatapan aneh,” ujar presenter yang kini banyak berkiprah di belakang layar ini.

Masalah terselesaikan saat si kecil Eddy Maliq Meijer, yang ketika itu baru berusia 2 tahun menyodorkan sendok sambil mencontohkan gerakan ‘mencongkel’ untuk membuka bekal tersebut. “Saya mencobanya, dan ternyata bisa dibuka. Malu rasanya sekaligus senang Eddy punya solusi untuk hal ini,” ujar Maudy sembari tertawa.

Kemampuan memecahkan masalah Eddy tentu tak didapat secara instan. “Sepertinya dia mengamati apa yang dilakukan pengasuhnya saat membuka sesuatu. Dia menyerap dan mengingatnya dengan baik,” ujar istri Erick Meijer ini.

Diakui Maudy, Eddy termasuk anak yang belajar dengan cepat. “Dia mudah menangkap apa yang kami ajarkan. Saat turun dari sofa misalnya, kami ajarkan untuk pelan-pelan kaki dulu, karena Eddy pernah merosot dari sofa dengan kepala duluan. Sejak diajari, dia turun dari sofa pasti dari kaki duluan,” ujar pemeran Zaenab di sinetron Si Doel Anak Sekolahan.

Nutrisi dan stimulasi memegang peranan penting dalam mencetak anak ‘hebat’. Maudy mengaku mengonsumsi makanan bergizi seimbang bahkan sejak menyiapkan kehamilan. Sejak kehamilan, selain memberikan nutrisi seimbang, None Jakarta 1993 ini juga mengajak buah hati di dalam rahim ‘bercakap-cakap’.

“Saya juga memberi stimulasi saat bermain kepada Eddy, hal yang sama dilakukan oleh pengasuh dan ayahnya,” tutur Maudy.

Perpaduan Nutrisi dan Stimulasi

Kita sering mendengar bahwa usia emas (golden period) 0-3 tahun menjadi masa yang sangat berharga untuk merangsang otak anak. Nutrisi dan stimulasi yang memadai mesti diberikan kepada bayi dalam dua tahun awal hidupnya supaya otak anak dapat tumbuh dan berkembang optimal.

Memberikan nutrisi saja tanpa stimulasi tidak akan membuahkan kecerdasan anak yang optimal. Sebagai informasi, fungsi otak tergantung pada banyaknya sel otak dan percabangannya, banyaknya neurotransmitter atau zat yang mengaktifkan sinaps (hubungan antar sel saraf), dan kualitas mielin atau selubung sel saraf. Semua itu dipengaruhi keberadaan nutrisi dan stimulasi.

Ahli nutrisi dari Klinik Kardiovaskular Hospital Cinere, Emilia E Achmadi mengungkapkan di usia 0-3 tahun otak anak mengalami pertumbuhan yang sangat pesat hingga 80%. Oleh karena itu penting bagi ibu untuk memastikan anak mendapatkan asupan gizi yang tepat yang menunjang proses belajar.

Spesialis tumbuh kembang anak dr Soedjatmiko SpA(K) yang dihubungi di kesempatan terpisah mengungkapkan, nutrisi terpenting yang dibutuhkan bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan otaknya pada usia dua tahun pertama adalah air susu ibu (ASI).

Penting untuk memberikan ASI eksklusif selama 0-6 bulan untuk bayi, dan memberikan makanan pendamping ASI setelahnya. “Biasakan memberikan anak makanan beraneka ragam yang kaya nutrisi, mengandung unsur gizi seimbang yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak,” ujar Soedjatmiko.

Emilia menambahkan, nutrisi penting untuk mendukung perkembangan otak anak antara lain DHA (Docosahexaenoic Acid), asam lemak omega 3 yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan otak bayi, serta ARA (Arachidonic Acid).

ScienceDaily mengulas bayi yang lahir sangat prematur kemungkinan mengalami defisiensi DHA karena melewatkan trimester ketiga kehamilan di dalam rahim saat asam lemak terakumulasi di jaringan.

Emilia menyebut DHA laksana konduktor yang mengantarkan sistem listrik pada susunan saraf otak anak sehingga semuanya berfungsi dengan baik. Dikatakan, sekitar 40% otak anak terbentuk dari DHA. Sayangnya, tubuh tak bisa memproduksi DHA, sehingga harus didapatkan dari luar.

Contoh sumber makanan yang mengandung DHA adalah Air Susu Ibu (ASI), ikan (salmon, tuna, gindara), telur, dan susu yang difortifikasi dengan DHA. Nah, DHA ini juga dibutuhkan pada saat kehamilan yang berfungsi untuk perkembangan otak dan retina pada saat pembentukan organ bayi dalam kandungan.

Lalu apa sebenarnya fungsi DHA dan ARA dalam perkembangan otak dan mata bayi? DHA dan ARA merupakan komponen utama lemak membran sel dan merupakan asam lemak tak jenuh rantai panjang (LC-PUFA) utama dalam sistem saraf pusat. DHA juga merupakan komponen utama membran sel fotoreseptor retina. Melihat peranannya yang vital, wajar jika kekurangan DHA dan ARA dapat berpengaruh pada perkembangan otak dan mata bayi.

Otak bertumbuh maksimal sejak 3 bulan terakhir dari masa kehamilan sampai kurang lebih usia 2 tahun. Karena itu, dalam periode tersebut bayi sebaiknya mendapat DHA dan ARA dalam jumlah cukup, yang dapat diperoleh dari ASI.
Asupan makanan yang kurang tepat pada masa kehamilan akan menyebabkan tubuh kekurangan DHA sehingga mengganggu perkembangan bayi yang dikandung.

Untuk memperoleh kandungan DHA dan ARA yang tinggi dalam ASI, maka diet ibu hamil juga harus diperhatikan. Dalam beberapa penelitian disebutkan kandungan DHA dalam ASI bervariasi, tergantung dari banyaknya asupan asam lemak dalam diet ibu.

Marketing Director Mead Johnson Indonesia Eya Sicat dalam temu media yang diselenggarakan beberapa waktu lalu mengungkapkan penelitian membuktikan bahwa ketika ibu mendapat tambahan DHA dalam dietnya, kandungan DHA dalam ASI juga akan meningkat. Oleh karena itu, sebaiknya ibu mendapatkan DHA dalam jumlah yang cukup selama menyusui.

Studi menunjukkan bahwa suplementasi DHA saat menyusui secara efektif meningkatkan kadar DHA pada air susu ibu, demikian juga pada darah bayi. Salah satu studi yang dipublikasikan di American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa bayi yang ibunya mendapatkan suplementasi DHA selama empat bulan pertama menyusui memiliki ketrampilan psikomotor yang lebih baik di usia 2,5 tahun.

Eya menambahkan, dalam 6 studi klinis kepada bayi dan anak, terbukti secara klinis bahwa pemberian nutrisi dengan kadar DHA 17mg/100kkal dan ARA 34mg/100kkal pada bayi dan anak meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, meningkatkan kemampuan verbal (verbal IQ) dan meningkatkan mental development index sebanyak tujuh poin pada tiga tahun pertama usia anak.

Selain DHA dan ARA, komponen penting yang juga dibutuhkan untuk perkembangan otak dan saraf anak adalah  kolin dan mikronutrien seperti zat besi, iodium, zinc, serta vitamin B6 dan B12. “Kolin tersimpan dalam sel-sel saraf yang terlibat dalam penyampaian pesan di antara sel-sel saraf. Sementara zat besi membantu kerja enzim yang penting untuk perangsangan saraf. Iodium penting untuk pertumbuhan sel-sel otak, sedangkan zinc bertindak sebagai neurotransmitter. Vitamin B6 dan B12 dapat meningkatkan daya ingat dan konsentrasi anak,” kata Emilia.

Soedjatmiko menambahkan, selain mengandung semua unsur nutrisi yang dibutuhkan bayi, proses menyusui yang tepat juga merupakan stimulasi pertumbungan dan perkembangan otak yang sempurna bagi bayi. “Dekapan, rabaan, pandangan, dan komunikasi yang dilakukan ibu selama menyusui merupakan stimulasi emosional dan kognitif yang memicu pembentukan percabangan sel saraf otak ke arah emosi positif,” ujarnya.

Sementara stimulasi, bisa dilakukan melalui berbagai cara dalam kegiatan keseharian seperti saat bermain, mandi, jalan-jalan, ganti baju, menonton pertunjukan atau televisi dan yang lainnya.Yang penting, anak-anak harus diberi kebebasan seluas-luasnya untuk melakukan apa yang dia ingin lakukan asal tidak membahayakan dirinya dan orang lain supaya daya imaginasi dan kreativitasnya berkembang optimal.

Pentingnya Atensi dan Konsentrasi

Psikolog dari Universitas Indonesia, Dr Lucia RM Royanto mengatakan, konsentrasi dan memori merupakan kunci dari keberhasilan belajar seorang anak.

Otak anak, kata Lucia, memiliki kemampuan untuk fokus dan memproses stimulus, baik secara dangkal maupun mendalam. “Kuncinya terletak pada atensi dan konsentrasi,” ujarnya.

Lucia menambahkan, atensi dan konsentrasi sangat dibutuhkan agar anak dapat bertahan dalam satu permainan, mengerjakan tugas mulai yang sederhana hingga kompleks. “Atensi dan konsentrasi merupakan prasyarat agar anak dapat belajar. Agar anak dapat berkonsentrasi, dia perlu belajar memberikan atensi dan tak terpengaruh oleh situasi di sekitarnya,” ujarnya.

Lucia mencontohkan, anak belajar untuk menaruh satu balok di atas yang lainnya. Awalnya ia mengamati bagaimana ibu atau kakaknya melakukannya. “Perilaku mengamati ini membutuhkan konsentrasi untuk dapat mengetahui detil-detil dari perilaku yang diamatinya, sehingga di lain waktu ia dapat melakukan perilaku yang dicontohkan,” tuturnya.

Anak yang memiliki nmasalah atensi dan konsentrasi jika tak ditangani dengan baik pada usia dini akan terus mengalami masalah saat si anak besar. “Contohnya, anak akan mengalami kesulitan dalam mempelajari ketrampilan dasar seperti belajar menulis, membaca dan matematika sehingga sulit mengikuti pelajaran. Jadi, untuk bisa berprestasi, anak-anak harus bisa menunjukkan atensi dan konsentrasi terlebih dulu,” jelas Lucia.

Belajar dan kemampuan memecahkan masalah sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, berupa nutrisi dan rangsangan psikologis yang dilakukan bersama anak. “Nutrisi akan memperkuat interkoneksi neuron, dan akhirnya berdampak pada ingatan dan kemampuan belajar anak. Sedangkan stimulasi yang diberikan ibu, misalnya permainan dan latihan akan membantu perkembangan anak secara maksimal,” tandas Lucia. (HG)